Melihat Potensi Bakul Nipah sebagai Pengganti Wadah Makanan Plastik dan Styrofoam

BIKIN - Ketua Tim Penggerak PKK Kubu Raya, Rosalina melihat pelatihan pembuatan bakul di Desa Sungai Belidak, Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya, Minggu (1/3/2020). (SAYANG PONTIANAK)

KUBU RAYA, insidepontianak.com – Puluhan ibu-ibu di Desa Sungai Belidak, Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya tampak serius dengan sulaman daun nipah di tangan mereka, Minggu (1/3/2020). Daun-daun nipah kering itu akan dibuat bakul berukuran standar wadah makanan. Mereka memang sengaja dikumpulkan untuk ikut Pelatihan Pembuatan Bakul yang digelar pemuda desa setempat bekerja sama dengan Pemerintah Daerah dan sejumlah organisasi masyarakat.

Daun-daun nipah yang disulap itu sebelumnya telah dikeringkan. Tulang daunnya sudah diambil sebagai bahan sapu lidi. Sedang daunnya, selain bisa dijadikan bakul, juga biasa dianyam menjadi tikar.

Bacaan Lainnya

Pohon nipah tumbuh melimpah di sepanjang sungai di perairan Kubu Raya, tak terkecuali Desa Sungai Belidak. Dikelompokkan ke dalam tanaman hutan mangrove, habitat nipah berada dalam ekosistem lahan basah yang paling produktif. Tanaman ini memiliki nilai ekologi dan sosial ekonomi sebagai sumber bahan makanan, bahan bakar, bahan bangunan dan bahan baku obat.

Sebagian besar warga Desa Sungai Belidak, bekerja sebagai petani. Mereka juga pengrajin sapu lidi dan tikar nipah. Bakul memang belum jadi hasta karya mereka. Potensi inilah yang coba digarap pemuda setempat untuk menambah penghasilan warga. Nantinya, bakul itu akan dijual kisaran harga Rp1.000-1.500 per buah. Jika memungkinkan ditekan di bawah harga kotak nasi dari kertas, plastik dan styrofoam.

“Pasar yang disasar adalah tukang katering karena Pemkab Kubu Raya sudah mewajibkan agar setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Kubu Raya harus menggunakan bakul. Tidak ada lagi menggunakan plastik,” kata penyelenggara, Ketua Sayang Kubu Raya, Juliansyah.

Proses pembuatan bakul makan waktu kurang lebih 30 menit. Bahan baku sudah pasti melimpah. Saat ini, warga masih mengerjakannya secara individu.

“Kita pun masih proses awal. Sebagian besar pengrajin sapu lidi tidak mengambil daun pucuk nipah tersebut. Nah dengan datangnya kita dapat menambah penghasilan mereka tidak hanya sapu lidi tetapi daunnya juga mereka bisa gunakan,” tambah pemuda asli desa setempat ini.

Terpisah, Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan mengatakan sudah memikirkan skema pasar sistemik untuk bakul-bakul hasil bikinan warga. Nantinya, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) akan berperan sebagai penghimpun wadah yang bagi masyarakat Jawa disebut sebagai besek tersebut. Setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang menggelar acara, harus menggunakan bakul bikinan warga.

“Jadi bagaimana APBD menghasilkan lapangan kerja. Kita tinggal minta katering yang kerja sama dengan OPD untuk membeli bakul-bakul warga. Jadi anggaran yang kita keluarkan kembali ke masyarakat,” katanya.

Pasalnya, jika masih menggunakan kotak nasi dari kertas, plastik atau styrofoam, dananya hanya akan lari ke pengusaha. Sedang jika memanfaatkan bakul nipah, wirausahawan baru akan tumbuh di desa. Dalam tahap awal, tak masalah jika Pemda harus keluar modal lebih untuk membiasakan gerakan ini. Karena selain urusan perputaran ekonomi, hal ini juga berpengaruh ke persoalan lingkungan.

Kotak nasi dari kertas terbuat dari kayu. Plastik dan styrofoam limbahnya sulit terurai. Sedang bakul dari nipah, bahan bakunya tak perlu budidaya. Tanaman tumbuh subur di sepajang sungai perairan Kubu Raya yang berbentuk kepulauan.

“Malah di acara beberapa waktu lalu, banyak yang bawa pulang bakulnya, buat wadah-wadah di dapur rumah. Bakul nipah ini tahan lama dan lebih ramah lingkungan,” katanya.

Selain membuat pasar sistemik, Pemda pun berperan dalam promosi. Selain setiap acara katering wajib pakai bakul, pihak swasta pun akan didekati untuk melakukan hal serupa. Jika sudah masif, otomatis akan menjadi tren baru di masyarakat.

“Nanti acara kantor dan swasta bisa diminta kerja sama dengan mereka yang ada acara untuk pakai besek. Kehadiran Pemda untuk memberi peluang dan menciptakan lapangan kerja. Jangan hanya dibayangkan buka pabrik, itu berat dan hanya jadi pekerja. Justru dengan sistem ini masyarakat menjadi entrepreneur dengan kreasi sendiri dan bahan yang melimpah, jadi dimulai dari yang sederhana,” jelasnya.

Muda meyakini sejatinya prespektif ramah lingkungan sudah ada di benak masyarakat. Namun harus dikemas menjadi sesuatu yang produktif agar menarik dan diikuti.

“Apa pun programnya, kita konsepnya ‘kepung bakul’. Jadi semua bergerak, jadi gerakan bersama,” tutupnya.

Ketua Sayang Kubu Raya, Juliansyah berbincang dengan warga yang membuat bakul dalam pelatihan. (SAYANG PONTIANAK)

Semangat yang dijalankan pemuda dan Pemkab Kubu Raya sejalan dengan upaya pengurangan sampah plastik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jenna R. Jambeck dari University of Georgia, pada tahun 2010 ada 275 juta ton sampah plastik yang dihasilkan di seluruh dunia. Dilansir dari cnbcindonesia, sekitar 4,8-12,7 juta ton di antaranya terbuang dan mencemari laut.

Indonesia memiliki populasi pesisir sebesar 187,2 juta yang setiap tahunnya menghasilkan 3,22 juta ton sampah plastik yang tak terkelola dengan baik. Sekitar 0,48-1,29 juta ton dari sampah plastik tersebut diduga mencemari lautan. Data itu juga mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah pencemaran sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia. Tiongkok memimpin dengan tingkat pencemaran sampah plastik ke laut sekitar 1,23-3,53 juta ton/tahun.

Padahal kalau boleh dibilang, jumlah penduduk pesisir Indonesia hampir sama dengan India, yaitu 187 juta jiwa. Namun tingkat pencemaran plastik ke laut India hanya sekitar 0,09-0,24 juta ton/tahun dan menempati urutan ke 12. Artinya memang ada sistem pengelolaan sampah yang buruk di Indonesia. (balasa)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *