Atasi Sampah Organik Kota, KSP Terapkan Bioteknologi Recycle Maggot

SERAHKAN - Ketua Kreasi Sungai Putat, Syamhudi menyerahkan kaus kepada Wali Kota Pontianak, Edi Kamtono dalam peringatan Hari Peduli Sampah Nasional di Taman Alun Kapuas, Pontianak, Sabtu (7/3/2020). (KSP)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Komunitas Kreasi Sungaiutat (KSP) jadi pionir dalam penerapan bioteknologi daur ulang (recycle) maggot di Pontianak. Mereka pun mempraktikkannya langsung dalam peringatan Hari Peduli Sampah Nasional di Taman Alun Kapuas, Pontianak, Sabtu (7/3/2020). Apa yang dikerjakan KSP disebut-sebut salah satu mesin pengurai efektif untuk mengatasi sampah organik perkotaan.

“Pekarangan-KSP bagian sub giat Kreasi Sungai Putat dalam membuka ruang solusi terhadap persoalan sisa pakai organik,” kata Ketua Kreasi Sungai Putat, Syamhudi.

Bacaan Lainnya

Maggot adalah belatung yang dihasilkan dari lalat berjenis Black Soldier Fly (BSF). Budidaya ini memanfaatkan sampah organik sebagai pakan lalat dan tempat berkembang biak BSF. Hasilnya, sampah organik hilang dan menghasilkan larva berprotein tinggi.

Larva BSF tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pakan ayam dan bebek. Dalam budidaya yang dilakukan Syamhudi sendiri, larva dipakai untuk kebutuhan kelompok. Dia kini fokus pengembangbiakan larva, namun lebih sebagai pengurai sampah organik rumah tangga.

“Ini penting, karena keran informasi ini dibuka ke publik setelah kita belajar siklus hidup BSF/maggot dan tarikan manfaatnya selama kurun waktu satu tahun,” ujar Syamhudi.

Minimal ada tiga sektor yang menerima manfaat lingkungan lestari, tersedianya bahan pakan, budidaya, dan pupuk organik.

“Dampak ini kemudian menjadi kata kunci hulu dan hilir satu kesatuan mengubah polusi menjadi solusi. Tiga manfaat ini dapat dihasilkan dengan tidak membutuhkan ruangan yang sagat luas,” tutur Syamhudi.

Awalnya, warga yang melihat stand KSP di Taman Alun Kapuas sempat bingung. Mereka bertanya bagaimana mengelola sampah tapi panennya ikan, ayam, cabai dan lain-lain.

“Akhirnya sangat interaktif. Ruang dialog terjadi. Dari cara budidaya BSF hingga produk turunan yang berhubungan dengan kemandirian pangan ke depannya,” ucap Syamhudi. (rilis)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *