Meski Dilanda Trauma Konflik Antarkomunitas, Usman Mantapkan Tekad Jadi Pemadam Kebakaran

BERSIAP - Usman bin Tilam dan rekannya mempersiapkan peralatan pemadaman di Posko Damkar PPKS, Gang Nur Asyikin, Jalan HM Suwignyo, Pontianak Kota kemarin. (ANDI/insidepontianak.com)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Kebakaran sebuah rumah di Gang Nur II, Jalan Suwignyo, Pontianak Kota jadi awal Usman bin Tilam (25) mengenal tugas pemadam kebakaran (damkar). Peristiwa itu terjadi tahun 2013, ketika dia tengah berada di rumahnya di Gang Nur Asyikin, Jalan HM Suwignyo, Kota Pontianak.

Kala itu, Usman baru berusia 18 tahun. Dia pun belum menjadi petugas damkar.

Bacaan Lainnya

“Ada warga yang bilang ada kebakaran di Gang Nur II,” kata Usman menirukan ucapan warga kala itu kepada insidepontianak.com.

Kabar itu, membuat Usman seketika menuju lokasi. Dia gegas ke tempat kejadian perkara dengan membawa centong plastik milik warga. Inginnya, buat bantu padamkan api.

Namun sayang, sampai di lokasi, dia dilarang masuk. Padahal niatnya tulus bantu tetangganya yang tertimpa musibah. Untungnya, Usman bertemu Edo, seorang teman dari petugas pemadam kebakaran Persatuan Pemadam Kebakaran Jeruju (PPKJ).

Usman pun dapat melihat cara kerja petugas damkar. Sebenarnya, jangankan bagaimana padamkan api, gulung selang pun dia belum bisa.

“Pokoknya saya benar-benar bodohlah saat itu,” jelasnya.

Pascaperistiwa itu, keinginan Usman menjadi petugas damkar semakin kuat. Dia mulai sering komunikasi dengan Edo hingga akhirnya gabung di PPKJ.

“Dia bilang boleh. Tapi satu, di pemadam tidak ada gaji,” katanya menirukan perkataan Edo.

“Saya bukan cari gaji. Saya cari pengalaman,” jawab Usman.

Alhasil Usman pun disuruh datang ke Posko PPKJ. Namun, dia sempat ragu. Walau semangatnya tinggi, dia sempat kecut, setelah tahu ada anggota damkar yang beretnis Dayak.

“Pada saat saya masuk hanya ada tiga suku di sana, suku Dayak, Tionghoa dan Melayu. Sementara saya Madura,” terangnya.

Trauma konflik antarkomunitas di Kalbar, seketika menghantui kepalanya. Sejak berusia delapan tahun, Usman sempat merasakan konflik antarkomunitas Dayak-Madura di Sungai Jawi, Pontianak. Bahkan, saat kerusuhan itu, dia sempat dibekali parang panjang oleh Tilam, ayahnya. Tujuannya untuk menjaga ibu dan kakaknya. Beruntung semua baik-baik saja, namun cerita itu telanjur melekat di kepala Usman, yang membuat maju mundur niatnya.

“Di situ saya ketakutan ketika ketemu teman-teman suku Dayak di damkar PPKJ,” ungkap dia.

Apalagi, dia kurang mendapatkan dukungan orang tua dan istrinya saat itu.

“Mereka sempat melarang Bang, karena khawatir, maklum lah jadi pemadam ini berhubungan dengan nyawa,” paparnya.

Namun, tekad yang kuat, buat semua rintangan itu dilalui Usman. Dia akhirnya memantapkan hati bergabung di PPKJ. Niatnya pun bak gayung bersambut, karena disambut baik rekan-rekan. Terutama mereka dari suku Dayak, yang menjadi kekhawatirannya selama ini.

“Ndak apa Man, kita semua warga Negara Indonesia. Kita bentrokan dulu sudah berlalu, sekarang bagaimana kita bisa menjiwai sosial,” ungkap Usman menirukan rekannya yang berasal dari suku Dayak.

Akhirnya, Usman pun resmi bergabung dan belajar banyak. Lambat laun, dukungan istri dan keluarganya pun datang.

“Mereka pesan hati-hati dalam bekerja. Utamakan keselamatan pribadi baru orang lain,” terang dia.

Tentu saja, dukungan itu menjadi semangat bagi Usman. Di PPKJ, dia belajar berbagai hal tentang tugas pemadam. Hingga tahun 2014, bersama sejumlah rekan mendirikan Persatuan Pemadam Mariana (PPM). Di sana Usman bertahan hampir empat tahun sebelum akhirnya memutuskan keluar, dan membentuk Perkumpulan Pemadam Kebakaran Suwignyo (PPKS) yang lahir 1 September 2018.

PPKS berdiri dengan uang pribadi Usman hampir Rp5 juta rupiah. Selain itu dibantu sang paman dan masyarakat sekitar Suwignyo, dan selang dari Ketua Forum Komunikasi Pemadam Kebakaran Kota Pontianak, Ateng Tanjaya berupa selang.

Satu tahun berdiri, posko pemadam pun dibangun di samping rumah Usman di Gang Nur Asyikin, Jalan HM Suwignyo, Kecamatan Pontianak Kota. Meski sederhana, posko tersebut menjadi tempat 25 anggota PPKS berkumpul.

Mereka terdiri dari berbagai etnis mulai dari Melayu, Dayak, Madura dan Tionghoa. Mereka juga terdiri dari beragam latar belakang, mulai dari pelajar, pekerja bengkel, hingga kuli bangunan. Sebelum bertugas, mereka dilatih agar tak terjadi hal yang tak diinginkan di lapangan.

Meski begitu, asap tebal di lokasi membuat Usman dan beberapa rekan pemadam PPKS pingsan. Mereka sesak nafas. Misalnya kebakaran di Serayu dan Gang Sampit belum lama ini. Bahkan beberapa petugas Damkar PPKS sempat mendapatkan perawatan di Rumah Sakit dengan biaya yang ditanggung sendiri tanpa ada perhatian pemerintah.

Sebagai tanggung jawab, tak jarang Usman pinjam uang demi biaya rumah sakit anggota damkar. Namun, karena kemanusiaan mereka tetap bertahan memberikan kontribusi terbaik kepada masyarakat yang mendapatkan musibah. Termasuk urusan operasional.

“Kami bertahan karena kemanusian. Saling bahu-membahu. Susah dan senang sama-sama,” tuturnya.

Sebagian anggota Damkar PPKS berfoto bersama.

 

Selama bertugas, kebakaran di Pasar Tengah menjadi kebakaran besar yang pernah ditangani. Sampai-sampai dua hari tak pulang ke rumah.

Beberapa kali Usaman juga menemukan mayat, yang terpanggang akibat musibah kebakaran. Awalnya, Usman tak bisa berbuat apa-apa.

“Bahasa orang Melayu tegamam. Mau minum, mau jalan pun tak bisa.”

Namun setelah beberapa kali, Usman kian berani. Bahkan, dia juga yang mengevakuasi jenazah usai diketahui kepolisian.

Selain memadamkan api, Damkar PPKS juga terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari pemadaman karhutla, pembersihan pohon tumbang, membantu pencarian mayat bersama Basarnas, pembersihan got dan membantu setiap aktivitas masyarakat yang membutuhkan.

Hingga kini, PPKS baru memiliki satu sepeda motor, dua unit mesin dan 10 rol selang. Kondisi tersebut terkadang menjadi kendala bagi mereka. Akan tetapi antusias tetap kuat. Sebagian pun turun dengan motor pribadi.

Bapak dua anak ini juga mengaku sempat beberapa kali mendapatkan laporan palsu tentang kebakaran. Misalnya informasi kebakaran di Sungai Raya Dalam. Ketika petugas PPKS sampai di TKP, tidak ada kejadian.

“Sekali dicek rupanya pelakunya iseng. Kami minta masyarakat jangan membuat laporan palsu mengenai kebakaran, karena bisa berakibat fatal dan membahayakan pemadam,” pintanya. (andi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *