Perjalanan di Luar Angkasa

ilustrasi via papers.co

From     : Darma

To         : Shevia Oktananda

Bacaan Lainnya

Subject : Surat I

Sekarang jam tangan digitalku menunjukan pukul 6:35 pm. Kau salah jika mengira aku sedang duduk di beranda rumah menikmati kopi dan sepotong roti tawar isi selai kacang sambil menulis apa yang kutulis sekarang. Ada yang pernah ke planet Jupiter? Kurasa belum. Untuk itu dengan segala rasa hormat, untukmu yang telah membaca tulisan ini segera kabari NASA, JAXA, ESA, Roscosmos, CNSA, atau apa pun itu yang berupa badan antariksa, untuk mencatat namaku sebagai orang pertama yang sudah buang air di planet terbesar di galaksi kita ini. Aku sudah dua kali buang air besar dan tujuh kali buang air kecil di sini. Baiklah, terlepas dari prestasi apa saja yang telah kudapat sejauh ini, rasanya sayang jika momen langka ini berakhir begitu saja tanpa sempat kuabadikan. Dan masalah terbesarnya, aku lupa membawa kamera atau perangkat lainnya untuk menangkap gambar. Jadi cukuplah pengalaman empiris terbesar dalam sejarah ilmu pengetahuan ini kuabadikan lewat tulisan yang boleh jadi, kau kira hanya rekaan belaka. Tak apa aku mahfum, bukankah kata adalah alat yang paling efektif untuk berdusta?

Kemarin tepatnya—dalam hitungan hari di sini yang hanya 9 jam 55 menit 30 detik—aku tiba di planet yang dimensinya sebelas kali lebih besar dari bumi. Jangan kira tibanya aku di sini terjadi dalam pendaratan menegangkan pesawat luar angkasa yang melaju menyamai kecepat cahaya. Sampainya aku di sini hanya karena lubang cacing yang kutemukan di kolong tempat tidurku kemarin. Kolong yang seingatku kujadikan sebagai tempat untuk menyimpan barang-barang lama. Kenangan lama.

Sehari berada di sini belum membuatku mengetahui banyak hal. Untuk itu kusudahi pesanku kali ini. Mungkin besok, lusa, atau kapanpun itu jika aku masih bisa bertahan hidup akan kuceritakan untukmu tentang apa saja yang kudapat di planet ini.

 ***

Hari ke-2, 368.000.000 mil dari bumi.

Gadis itu tengah duduk di ruang tamu; di hadapan kumpulan sanak saudara dari kedua belah pihak yang sedang menunggu dimulainya sesi pemotongan tumpeng.

Malam menjadi berisik, telinganya tak lagi mampu menangkap apa-apa yang penting; atau memang tak ada yang penting. Juga doa-doa yang berlantunan dari mulut orang tua; orang suci yang memohon kemudahan, kelancaran, serta keselamatan adalah sekumpulan harapan yang sebetulnya tak ia harapkan. Doa yang mereka panjat telah mengantarkannya ke dalam pusaran nasib yang biadab.

Lebih baik kalian mendoakanku mati detik ini.

Rasanya mulut tak lagi mengenal kata, wajah telah kehilangan warna, mata tak henti-hentinya mengairi lekuk-lekuk pipi. Ia mendapati jiwanya sedang menggantung di ranting rapuh, sebegitu rapuh hingga siap menjatuh harapannya, menghantamkan jiwanya dan menjadikannya sisa-sisa yang tak lagi bernyawa.

“Apa yang kau tangisi?” wanita yang masih ia anggap sebagai ibu itu menelanjangi tangisannya.

“Mau kau hidup dengan laki-laki gembel itu?” masih dari wanita yang berdiri tegak di hadapannya.

“Semua demi hidupmu. Coba sekali-kali kau gunakan isi kepalamu itu!” pertanyaan tanpa jawaban yang keluar dari mulut wanita itu diakhiri dengan kalimat perintah.

Ia tak lagi mampu berpikir. Tubuhnya telah mati; kepalanya telah mati; neuronnya tak lagi berfungsi. Beruntung lobus temporalis-nya masih dapat membuka lembar-lembar lama, obrolan-obrolan singkat dengan Dharma bagaikan jutaan partikel yang menghantam ingatannya.

“Cambrige?” tanya gadis itu.

“Kejauhan, ya?”

“Mau ngapain?”

“Memuaskan isi kepala.”

“Apa yang kau cari?”

“Tujuanku ingin mempertemukan Einstein dan Planck.”

“Maksudmu relativitas dan kuantum?”

“Itu yang para pemikir lakukan sekarang.”

“Kedengaran kontradiktif, aku masih belum mengerti.”

“Teori segala sesuatu. Akhir dari segalanya. Menjelaskan segalanya. Masif dan kuantum”

“Juga pertanyaan tentang Tuhan.”

“Itu pun kalau Dia ada.”

Ingatan semacam itu menjadi satu di antara jutaan bintang yang terlukis dalam kanvas hitam gelap malamnya. Malam yang panjang untuk calon pengantin baru.

***

Pagi-pagi sekali para wanita sibuk dalam peran masing-masing. Sebagian menambah apa-apa yang kurang, sebagian lagi mengurangi apa-apa yang berlebih. Para lelaki telah siap dengan jas dan peci, di antaranya dengan hikmat melantunkan doa dan puja puji. Mempelai pria tengah khusyuk mengingat serangkaian kalimat yang tak boleh cacat ia lafalkan di upacara akad nanti. Sedang si mempelai wanita, yang sebentar lagi mengakhiri masa gadisnya, dengan hiasan paling paripurna, tengah mendapati dirinya di hadapan cermin.

Sial, ini cara paling meriah untuk merayakan kematianku.

Ia tak henti-hentinya berharap sesuatu mesti terjadi. Sesuatu yang dapat menyelamatkannya dari takdir kematian. Sesekali terlintas di kepalanya supaya calonnya itu lebih baik mati dengan tiba-tiba, terserah dengan cara semacam apa. Juga terlintas di kepalanya lebih baik jika tanah yang ia pijak sekarang bergetar sekuat-kuatnya atau laut memuntahkan isi perutnya, menyapu habis tenda pernikahan di luar sana beserta isinya.

Tapi apa boleh buat, ia sekarang menyaksikan dirinya tengah duduk rapi. Berpasang-pasang mata memperhatikannya dengan warna haru bahagia. Di sampingnya pria yang telah tuntas mengucapkan janji lantas mengecup keningnya dengan rasa bangga. Ia pun menangis sejadi-jadinya. Sebagian orang mungkin mengira tangisan itu keluar dari mata pengantin baru yang berbahagia. Tanpa seorang pun mengerti, bahwa sekarang ia benar-benar mati.

Kenapa malaikat belum menghampiriku dan menanyai siapa Tuhanku?

***

Hari telah pamit. Tak ada lagi yang mampu ia tangisi, mata air—air mata—nya telah kering. Segala bentuk kecewa tak lagi mampu mendefinisikan dirinya dengan kata juga air mata. Tak ada lagi cara yang mampu mewakili kesedihannya. Ia benar-benar merasa diperbudak takdir. Sebenarnya pernikahan bukanlah alasan yang membunuhnya. Sebab jika hanya sebuah ikatan, anjing yang dibelenggu pun masih dapat berbuat dan merasa atas kehendaknya; sebab jika hanya ikatan, sebenarnya yang diikat hanyalah raga yang tak mengikut sertakan hakikat dirinya.

Kau telah menikahi wanita mati.

Tapi yang membuat ia merasa begitu tersiksa adalah, ada laki-laki di seberang sana yang harus kecewa atas konsekuensi hidupnya. Ada laki-laki di seberang sana yang telah dihabisi sebagian mimpinya. Ada laki-laki di seberang sana yang telah dibukakan pintu takdirnya: yang bukan dia. Laki-laki itu sekarang yang ia tanyakan keberadaanya, apakah ia begitu kecewa sampai-sampai tak sanggup hadir di acara pernikahannya. Dibukanya pesan singkat dari Dharma yang terakhir masuk dua hari yang lalu, melalui pesan singkat pun laki-laki itu tak memberi kabar tentang dirinya.

Kenapa harus email?

Dilihatnya Dharma telah menulis dua pucuk surat elektronik untuknya. Dengan tangan dan hati bergetar dibacanya surat itu satu per satu.

From     : Dharma

To           : Shevia Oktananda

Subject : surat II

Maafkan aku sebelumnya. Belum juga genap melangkahkan kaki; menangkap apa-apa saja yang ada di Jupiter kemarin, sekarang aku justru terseret dalam ruang waktu yang asing. Apa kau pernah mendengar dimensi kelima? Kalau kau masih ingat bagaimana yang kugambarkan dulu tentang tempat ini. Mungkin kau akan terkejut sebagaimana aku yang tak habis pikir telah berada di sini. Kemarin tepatnya, aku juga tak tahu apakah kata kemarin adalah kata yang tepat untuk menerangkan kondisi waktu yang kualami sejak memasuki lubang cacing yang mengantarkanku ke dalam tempat dan waktu ini. Aku menemukan lubang cacing di antara awan gas yang hampir saja membuatku mati. Lubang cacing itu persis seperti yang kutemukan di bawah kolong ranjangku waktu itu, tempat aku menyimpan barang-barang lama; kenangan lama.

Kupikir lubang cacing itu adalah jalan yang tepat untuk membebaskanku dari kematian. Kau tahu, aku tak ingin mati konyol di planet Jupiter sebelum mengisahkan apa-apa yang kutemukan di sana. Dan mungkin lubang cacing itu dikirim Tuhan untuk membebaskanku dari kebinasaan. Seketika saat aku memasuki lubang cacing itu, aku merasakan sensasi yang tak berbeda seperti sebelumnya. Tapi siapa yang tahu nasib kekacauan ruang dan waktu, aku justru terdampar di tengah galaksi, yang dari karakteristiknya aku berani bertaruh ini adalah galaksi Messier 83. Dan kau tahu apa yang menakjubkan? Selain kekagumanku terhadap Einstein, Planck, Brian Cox, dan Carl Sagan, aku juga mengagumi sosok Kurt Cobain. Dan maksudku, aku bertemu dengan Kurt Cobain di galaksi ini. Ia begitu ramah, aku tak pernah menyangka seberuntung ini. Dia mengajakku menghampiri sebuah tempat yang sebelumnya tak ia beritahukan kepadaku ke mana kami akan pergi. Di sepanjang jalan kami menyanyikan lagu Aneurysm, Drain You, Milk It, dan About a Girl. Begitu luar biasa bisa mendengar dan menyanyikan itu semua bersama penyanyi aslinya.

Sampai akhirnya kami sampai pada objek raksasa. Begitu gelap, dan jika kau melihatnya kau akan setuju tak ada lagi yang lebih gelap dari ini. Belakangan aku sadar ternyata Kurt membawaku mengorbit sebuah lubang hitam. Lubang hitam ini rasanya ratusan kali lebih besar dari matahari di galaksi kita. Dan yang mengejutkanku adalah, tangan Kurt yang semula menggenggamku kemudian menarik dan seakan-akan melemparku masuk melampaui batas horizon peristiwa, lantas ia berkata “see you on the other side.” Aku tak mengerti apa maksudnya, namun yang ku tahu pasti dia mengutip kalimat itu dari judul lagu Ozzy Osbourne.

Dalam hitungan sepersekian detik tubuhku ditarik oleh gravitasi lubang hitam hingga melaju menyamai kecepatan cahaya. Aku benar-benar merasakan lengkungan ruang waktu di sini yang jujur sulit untuk kujelaskan. Di sepersekian detik berikutnya aku melihat jutaan kilatan benda semacam butiran besi kecil yang dipanaskan menghantam tubuhku. Anehnya lagi tubuhku tak merasa terluka maupun terbakar, masih saja aku melaju entah ke mana, saat itu kupikir mungkin saja menuju singularitas. Tapi seketika aku berhenti, tanpa perlambatan dari kecepatan tinggi ke rendah aku merasa diriku tiba-tiba mengambang.

Di tempat ini; sekarang, aku berada di dimensi kelima. Sebelumnya aku merasa kebingungan, tapi kemudian aku sadar bahwa di sini tak ada lagi pijakan ruang dan waktu. Aku dapat bepergian ke mana pun dan kapanpun, namun hanya sebagai pengamat. Aku tak terlibat langsung dalam ruang dan waktu yang kulihat. Dan destinasi pertamaku adalah kau Shevia. Aku melihat kau begitu cantik dengan gaun pengantin, apa yang terjadi? Apakah itu pernikahan kita? Tapi kenapa tak ada aku di sana? Apakah di sampingmu itu stuntman yang menggantikanku? Seketika aku menemuimu lagi, tapi dalam ruang waktu yang berbeda. Kau tengah berdiri di beranda rumah menggendong seorang bayi, apakah itu anak kita? Tapi kenapa tak ada aku di sana? Apakah di sampingmu itu stuntman yang menggantikanku? Siapa nama anak perempuan itu? Jika boleh aku ingin menamainya Messier, namanya yang cantik bukan?

Dan sekarang bagaimana kabarmu Shevia? Sedang di ruang dan waktu yang mana kau? Aku di sini tak henti-hentinya menghampirimu. Aku terus di sini, tanpa tahu cara kembali.

***

Hari ke-tak hingga, tak terhitung jauhnya dari bumi.

Dengan alasan yang tak ia mengerti, Shevia seketika saja menumpahkan kesedihannya. Ia tak mengerti apa yang dimaksud oleh Dharma.

Apa mungkin laki-laki ini sudah gila?

Tak mau dihantui oleh segala pikiran buruk tentang Dharma, Shevia memutuskan berkunjung ke rumah kontrakannya. Sesampainya di sana yang ia lihat benar-benar tak seperti biasanya. Rumah itu disesaki oleh para tetangga yang ramai berdatangan, entah karena alasan apa. Shevia tak ambil peduli, yang ia inginkan adalah masuk dan menemui lelakinya. Di dalam sana yang ia temukan adalah Dharma yang telentang kaku, bergulingkan senapan panjang, mulut yang ternganga itu memamerkan darah dan bau mesiu.

***

Sekian waktu setelah kematiannya dan kematian laki-lakinya, Shevia pertama kalinya dibuat Tuhan untuk berbahagia. Bahagia atas kelahiran anak perempuannya.

Kuberi nama ia Messiar. Nama yang cantik bukan?**

 

Penulis:

Rizky Pangestu, lahir di kota Pontianak, 29 november 1999. Belum punya karya yang dibukukan. Baru saja kenal baca dan tulis. Bercita-cita jadi pesulap dan takut udang. Senang membaca dan menulis sejak terpaksa masuk ekstrakulikuler bengkel sastra semasa SMA karena mengincar adik kelas.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *