Tawa dan Nostalgia di Festival Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional

MAIN GETAH - Pengunjung tengah asyik main getah di Festival Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional di Rumah Radakng, Jalan Sultan Syahrir, Kecamatan Pontianak Kota, Minggu (8/3/2020) siang. (ANDI/insidepontianak.com)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Tawa lepas dan senyum riang jadi keceriaan sejumlah anak yang sedang asyik bermain tabak, satu dari sekian banyak permainan rakyat yang dimaikan di Rumah Radakng, Jalan Sultan Syahrir, Kecamatan Pontianak Kota, Minggu (8/3/2020) siang. Selain tabak, ada pula yang bermain sumpit, gala hadang, enggrang, terompa, ular tangga, kelereng, yoyo, karet, congklak dan beragam permainan lain. Tua-muda, semua ambil bagian.

Permainan rakyat itu tersaji pada ‘Festival Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional’ yang digelar Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Kalimantan Barat, 7 hingga 8 Maret 2020.

“Beragam permainan rakyat kami kemas sesuai dengan kearifan lokal, tujuannya untuk pelestarian,” kata Ketua Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Kalbar, Lukmanul Hakim kepada insidepontianak.com.

Permainan rakyat berangkat dari refleksi diri sosial masyarakat dan alam. Bagaimana beradaptasi dengan lingkungan secara kolektif, komunal, maupun berinteraksi sosial dengan masyarakat.

“Saat ini kondisi tersebut sudah semakin terkikis,” akunya.

Gempuran teknologi dan gadget ditengarai menjadi ancaman perubahan sosial dan karakter masyarakat, khususnya pada anak-anak dan pelajar. Akibatnya, anak zaman sekarang lebih memilih menatap gim-gim di layar. Padahal banyak makna yang tersimpan dalam permainan tradisional.

“Untuk itu permainan tradisional ini perlu kita galakkan lagi,” akunya.

Seorang anak memperhatikan gasing yang berputar di atas papan. (ANDI/insidepontianak.com)

Sejak dibuka kemarin, antusias masyarakat cukup tinggi.

“Dari kemarin kita lihat anak sangat asyik sekali bermain dan meninggalkan gadget,” terangnya.

Pada kegiatan itu, panitia juga menggelar workshop. Tujuannya memperkenalkan dan mengajarkan anak atau pengunjung tentang permainan yang disajikan.

“Kami juga buat tantangan perlombaan bagi pengunjung yang berminat. Kemudian kami adakan kompetisi di tingkat PAUD, SD dan SMP, yang diikuti hampir 200 peserta,” ungkapnya.

Disamping itu, ada juga permainan rakyat bebas yang bisa dimainkan pengunjung, serta sajian kuliner, dan seni yang juga ditampilkan. KPOTI Kalbar sebagai organisasi yang berfokus pada permainan rakyat dan olahraga tradisional, baru berdiri sejak Januari 2020. Dalam bidang olahraga tradisional, KPOTI akan mendorong adanya kompetisi dari permainan rakyat yang dinasionalisasikan untuk diperlombakan secara nasional.

Sementara, di permainan rakyat, pihaknya akan mulai menginventarisasi, mengembangkan, membina, serta mendorong komunitas-komunitas masyarakat berperan aktif menggalakkan kembali permainan tradisional.

Beberapa anak tengah asyik bermain ular tangga.

“Beberapa event sudah kita rencanakan dan disambut baik oleh pemerintah dan masyarakat,” lanjutnya.

Dia berharap masyarakat mendukung pelestarian permainan rakyat, karena berkaitan regenerasi ke depan. (andi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *