Multikulturalisme dalam Cerita Rakyat

Kover buku Kisah Rumah Keluarga Tjhia Antologi Cerita Rakyat Singkawang. (ISTIMEWA)

Bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang majemuk (plural). Hal ini tercermin dari keanekaragaman suku, agama, dan budayanya. Keanekaragaman ini menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Pluralisme tersebut menjadi pendorong lahirnya multikulturalisme. Semboyan Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda (dalam kemajemukan) tetapi satu (bangsa Indonesia) menjadi penguat multikulturalisme di Indonesia dengan makna keberagaman kebudayaan. Imajinasi tentang multikulturalisme niscaya sudah ada sejak dahulu termasuk dalam karya sastra (cerita rakyat). Cerita rakyat merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat yang diwariskan turun-menurun. Selain itu, cerita rakyat dapat mengungkapkan nilai-nilai bagi generasi sekarang tentang pentingnya kearifan lokal dalam menghadapi realitas sosial budaya di masyarakat.

Paham keanekaragaman budaya merupakan ideologi yang harus diperjuangkan sebagai landasan demokrasi, hak asasi manusia, dan kesejahteraan hidup masyarakat. Secara etimologi, multikulturalisme berasal dari kata multi (banyak), kultur (budaya), dan isme (paham). Jadi, multikulturalisme berarti paham tentang berbagai kebudayaan. Multikulturalisme mengandung pengakuan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya mempunyai kebudayaan masing-masing yang unik, baik sejarah, pemikiran, bahasa, etnik, dan kepercayaan (Mahfud, 2011:75 dalam Wahyu Amuk). Selain itu, multikultur adalah suatu bentuk keragaman kebudayaan. Kebudayaan yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat yang memiliki ciri khas tersendiri sesuai dengan letak geografis dan keadaan sosial yang ada pada suatu wilayah.

Bacaan Lainnya

Sebagai masyarakat yang multikultur, Kota Singkawang menyuguhkan perkembangan di berbagai bidang, antara lain di bidang sosial, budaya, politik, dan pariwisata. Perkembangan penduduk di Singkawang membuktikan refleksi keragaman budaya. Refleksi imajinasi kebudayaan bisa ditemukan dalam karya sastra. Karya sastra berkaitan erat dengan dunia sosial, yaitu lingkungan sosial yang digunakan oleh karya sastra itu hidup dan berlaku. Karya sastra merupakan ekspresi pengalaman subjektif pengarang sesuai lingkungan sosial di mana ia tinggal.

Antologi cerita rakyat Singkawang menggambarkan karya sastra dengan kumpulan cerita yang berkaitan dengan kehidupan tradisional masa lalu di daerah Singkawang meliputi fenomena alam, kehidupan masyarakat, dan adat istiadat setempat. Multikulturalisme dalam cerita rakyat berkaitan dengan sosiologi sastra. Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra; akar kata sosio/socius (Yunani berarti masyarakat) dan logi/logos (berarti ilmu). Sementara, sastra bermakna kumpulan hasil karya yang baik. Menurut Damono (1979:1) sosiologi sastra adalah pendekatan dalam kajian sastra yang memahami dan menilai karya sastra dengan mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan sosial. Sastra merupakan institusi sosial yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam pertentangan antar kelas di dalam masyarakat (Faruk, 2010:53). Lebih lanjut Ratna (2013:1-3) mengemukakan definisi sosiologi sastra yang mewakili keseimbangan komponen sastra dan masyarakat, satu diantaranya adalah pemahaman terhadap karya sastra sekaligus hubungannya dengan masyarakat yang melatarbelakanginya.

Nilai-nilai multikultur yang terdapat dalam antologi cerita rakyat Singkawang diperoleh dari  analisis wacana menggunakan teori sosiologi sastra. Kisah Rumah Keluarga Tjhia Antologi Cerita Rakyat Singkawang cetakan ketiga tahun 2016 ditebitkan oleh Balai Bahasa Kalimantan Barat. Dalam antologi tersebut mengandung nilai-nilai multikultur, antara lain nilai toleransi, nilai kesetaraan, nilai keagamaan, nilai budaya, nilai solidaritas, nilai perdagangan, nilai kekeluargaan, nilai kesederhanaan, nilai pantang menyerah, nilai penghargaan, dan nilai menepati janji. Multikulturalisme dalam cerita rakyat Singkawang menunjukkan perkembangan dinamis sosial budaya kehidupan masyarakat. Masyarakat multikultural akan terwujud dan berpotensi menyejahterakan apabila masing-masing menghargai dan menghormati orang lain. Dengan memahami perbedaan kultur orang lain dan menjadikan landasan berpikir, masyarakat yang multikultur bisa hidup rukun dan damai.

Penulis:

Binar Kurniasari Febrianti, Peneliti Muda Bidang Sastra Balai Bahasa Kalimantan Barat.

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *