Pelecehan Seksual Jalanan Pontianak: dari Remas Payudara sampai Ekshibisionis

ilustrasi.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Kasus pelecehan seksual terhadap perempuan di jalanan terjadi di Pontianak dalam beberapa bulan terakhir. Selain kasus peremasan payudara, terdapat pula sejumlah kasus ekshibisionis atau mempertontonkan alat kelamin pada orang lain. Yang disebut terakhir, termasuk gangguan perilaku seksual.

Untuk kasus peremasan payudara, Polda Kalbar telah menangkap satu orang pelaku berinisial SU. Kini kasusnya masih dalam tahap pemberkasan. Namun diperkirakan, pelaku tidak hanya seorang. Sedang untuk kasus ekshibisionis, belum satu pun pelaku ditangkap. Yang perlu jadi catatan, dalam keadaan tertentu, pelaku pun bisa jadi merupakan korban.

Bacaan Lainnya

Ema (bukan nama sebenarnya) hendak pergi kuliah dan melintasi Jalan Budi Karya, Pontianak Selatan, dua bulan lalu. Awalnya perempuan 20 tahun ini merasa tak ada yang aneh di perjalanan. Namun ketika sampai di dekat persimpangan, seorang lelaki yang berdiri di depan salah satu rumah warga, tiba-tiba saja mengeluarkan penisnya. Ema terkejut. Badannya gemetar. Tiba-tiba air matanya keluar. Dia ketakutan.

Sialnya, belum hilang trauma, dia kembali mengalami kejadian serupa. Saat itu, Ema baru pulang dari Ayani Mega Mal sekitar pukul 21.00 WIB, bersama seorang teman. Mereka lewat jalan di depan Auditorium Untan. Sebelumnya, ada pengendara lain di depan mereka. Akan tetapi dekat pintu gerbang Jalan Tanjung Sari, pengendara itu berhenti. Tanpa babibu, dia membuka resleting dan menunjukkan penisnya.

“Dia masih pakai helm dan keluarkan ‘itu’-nya. Motornya antara Revo atau Vega,” cerita Ema pada Arni (23), perantara wawancara kami. Ema merasa malu jika harus diwawancara langsung. Namun dia setuju jika lewat perantara temannya.

Ema pertama kali menceritakan kejadian itu pada Arni, Jumat, 6 Maret 2020 lalu. “Badannya gemetar, juga cerita sambil nangis,” kata Arni, Rabu (11/2/2020).

Kemungkinan, kejadian pertama dan kedua yang dialami Ema berasal dari pelaku sama. Dia merasa ada kemiripan bentuk tubuh. Namun untuk kisaran usia, dia tak tahu pasti. Sebab wajah pelaku tertutup helm. Dari modusnya, pelaku tak mengikuti korban, tapi menunggu di titik tertentu.

Ternyata, bukan Ema sendiri di lingkaran pertemanannya yang bernasib sama. Seorang temannya, sebut saja Tya juga pernah jadi korban ekshibisionis di area Car Free Day (CFD) Jalan Ayani Pontianak. Tepatnya di Jalan DA Hadi, sebelah Kantor PLN. Padahal saat itu kondisinya tengah ramai. Pelaku pun menggunakan helm.

Sementara untuk kasus peremasan payudara, salah satunya dialami Farah (bukan nama sebenarnya), Kamis, 23 Januari 2020 lalu. Saat itu, dia pulang kuliah dan melewati Jalan Sultan Syahrir, Pontianak Selatan sekitar pukul 19.30 WIB. Tepat di depan Taman Akcaya, seseorang dengan motor besar meremas payudaranya dari arah samping. Perempuan 20 tahun itu sempat teriak, namun kemudian menangis.

Sampai di rumah pun, dia masih ketakutan. Dia tak berani menceritakan hal tersebut pada keluarga. Hingga kini, setiap pulang malam, Farah tak berani sendirian.

“Kemarin begitu kejadian itu dia nangis. Gak berani cerita ke siapa pun. Terus Indri tanya dia kenapa. Mau cerita hanya ke Indri aja,” kisah Indri (19) teman Farah yang juga jadi perantara wawancara kami. Sama seperti Ema, Farah setuju jika wawancara dilakukan lewat temannya.

Peristiwa itu membuatnya was-was. Apalagi dia kuliah malam. Setiap pulang, harus diantar teman.

“Aku sempat hampir jatuh. Syok,” kata Farah.

Farah tak tahu pasti ciri-ciri pelaku. Kejadian berlangsung cepat. Dia hanya ingat pelaku menggunakan motor besar. Namun dia merasa SU, terduga peremas payudara yang ditangkap Polda Kalbar, Minggu (8/3/2020) lalu adalah pelakunya. Kesamaan motor jadi dasar keyakinannya.

“Pengen nampar sih. Bayangin lah dia bilang mau dapat kepuasan batin habis kayak gitu,” katanya usai membaca pernyataan SU di media.

Dari cerita Indri, ternyata ada banyak kasus ekshibisionis terjadi. Beberapa temannya pernah jadi korban. Lokasinya antara lain Jalan Ampera, dan wilayah Universitas Tanjungpura.

Sebenarnya, kasus peremasan payudara di Pontianak sudah berlangsung lama. Ratna (bukan nama sebenarnya) sempat jadi korban di tahun 2008. Saat itu ibu satu anak ini pulang sendirian melewati Jalan Sejarah, Pontianak Kota sekitar jam 22.00 WIB. Penerangan jalan kala itu memang tak ada, jalanan pun sepi.

“Ada orang pakai motor Mio berdua mepet-mepet aku. Aku pikir mau jambret, tapi tas aku di sebelah kiri. Tiba-tiba dari samping dia langsung remas payudara aku. Aku kejut dan teriak maling,” ceritanya.

Entah keberanian dari mana, dia mengejar pelaku. Namun kalah cepat.

“Kalau dipikir, kok dulu aku berani kejar, kalau mereka putar balik terus apa-apakan aku kan malah seram,” ceritanya sambil mengetuk-ketuk kepalanya.

Ratna ketakutan. Dia pun malu untuk cerita. “Gila, bagian vital aku dipegang,” geramnya.

Kejadian itu baru berani dia ceritakan ke mantan pacarnya setelah sekian bulan. Bahkan hingga kini, suaminya pun tak pernah tahu peristiwa itu. Sejak kejadian, dia jadi lebih waspada di jalan. Selalu melihat spion motor begitu ada orang mendekat.

“(Kalau ketemu) mau marah aku. Pengen kutampar, kutinju. Sampai mati ndak aku maafkan,” tutupnya.

Nonton Film Porno

SU hanya menunduk malu, saat insidepontianak.com menemuinya di Mapolda Kalbar, Kamis (12/3/2020) siang. Hari itu, menjadi hari keempat baginya menjalani hidup di balik jeruji besi, sejak ditangkap, Minggu (8/3/2020) lalu.

Kehidupan SU tentu saja berubah. Dia tak lagi bebas, karena harus menjalani hukuman atas kasus asusila, yakni meremas payudara wanita. Dengan nada pelan, dia bicara singkat. Dia mengaku menyesal dengan perbuatan yang telah dilakukannya.

“Nyesal, ndak tau kayak gini jadinya,” ungkapnya.

Pria 26 tahun itu bercerita, mulanya hanya iseng semata. Akhirnya menjadi kebiasaan, karena ada rasa puas usai meremas payudara.

“Ada rasa puas gitu,” katanya.

Awal aksi tersebut dilakukannya sejak memiliki ponsel Android sekitar lima bulan lalu. Lewat ponsel baru, membuatnya mudah mengakses video-video porno. Keseringan, akhirnya jadi ketagihan dan lupa diri. Terlebih untuk menyalurkan hasrat SU yang masih lajang.

Akhirnya muncul niat jahat, dan menyasar perempuan yang kebetulan melintas di depan matanya demi memenuhi kepuasan batinnya.

“Korbannya tidak diintai, kebetulan ketemu di jalan. Jadi awalnya, saya pakai motor ada cewek nyalib saya, terus saya kejar dia. Terus saya pegang (payudara) dan saya lari,” ceritanya.

Aksi perdana sukses membuat SU ketagihan. Hingga akhirnya banyak korban, dan menarik perhatian polisi.

Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Donny Charles Go mengatakan, penangkapan tersebut berawal dari informasi yang beredar di media sosial. Masyarakat dibuat resah oleh aksi tersebut. Polisi pun berusaha mencari pelaku.

“Ciri-ciri pelaku yang menggunakan sepda motor Vixion dan helm yang digunakan menjadi petunjuk. Hingga akhirnya berhasil kita temukan di salah satu barbershop di Kota Pontianak,” terangnya.

Dari hasil penyelidikan, SU tak mengelak. Dia mengaku telah enam kali melakukan perbuatan serupa sejak tahun 2019. Perbuatan pertama, dilakukannya di Jalan Pangeran Natakusuma, Kecamatan Pontianak Kota. Tersangka memegang payudara korban serta menunjukkan kemaluannya.

Perbuatan kedua, dilakukan di Gang Melati. Ketiga di Jalan Tabrani Ahmad, kemudian Jalan Alianyang Pontianak. Sedang aksi kelima dan keenamnya dilakukan di Jalan Pancasila dan Jalan Suwignyo.

Dari hasil penyelidikan sementara, motivasi perbuatan tersebut guna memenuhi kebutuhan birahi. Sebab pelaku diketahui suka menonton video porno.

Donny mengatakan, tidak ada pengecualian hukum terhadap pelaku. Terkecuali pelaku yang memiliki gangguan jiwa.

“Yang jelas ini perbuatan cabul, di depan umum dan korbannya ada anak-anak sehingga kita jerat dengan UU Perlindungan Anak,” terangnya.

Akibat perbuatan tersebut, SU dijerat pasal 82 UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi UU Jo. pasal 289 ayat 1 dan pasal 281 ayat 1 KUHP.

“Ancaman hukuman lima hingga lima belas tahun,” tegasnya.

Bantuan Psikolog

Psikolog klinis, Maria Nafaola menerangkan, perbuatan asusila meremas payudara tidak masuk dalam kriteria kelainan seksual atau gangguan jiwa.

“Kalau memegang atau meremas payudara sejauh ini belum masuk ke gangguan kejiwaan,” katanya.

Dalam literatur Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fifth Edition (DSM5) juga tak menemukan istilah remas payudarah masuk golongan kelainan seksual.

“Setelah saya cek dalam DSM 5, tidak ada kriteria yang cocok untuk memasukan perilaku meremas payudara ke gangguan kejiwaan,” terangnya.

Namun demikian, menurutnya, perilaku remas payudara di jalanan yang dilakukan oleh seseorang secara spontanitas, dan mengabaikan norma dan hukum, bisa dikategorikan sebagai masalah kejiwaan.

“Artinya dia (pelaku) memiliki masalah mental. Ada dorongan yang tidak bisa dia kendalikan. Kepengin lagi, dan dia lakukan bahkan mengabaikan norma dan hukum, meski dia sadar hal itu perbuatan salah,” jelasnya.

Sementara gangguan jiwa dan masalah kejiwaan, mempunyai definisi yang berbeda. Kedua sifat itu, jelas diatur dalam UU Kesehatan Jiwa Nomor 14 Tahun 2018.

“Dalam ilmu jiwa, tidak ada istilah penyakit kelainan seksual, ya. Ini ada bebera istilah kejiwaan, yang berkaitan dengan masalah perilaku seksual,” jelasnya.

Sedangkan perilaku ekhibisionis memang masuk kategori gangguan kejiwaan. Sebab, dalam ilmu jiwa, dikenal dengan istilah Exhibitionistic Disorder dengan kode DSM-5 302.4 (F65.3).

“Gangguan ini, ciri khasnya memiliki kebutuhan untuk mengekspos alat kelaminnya kepada orang lain. Kalau memegang atau meremas payudara sejauh ini belum masuk ke gangguan kejiwaan,” katanya.

Orang yang mengalami masalah mental, seperti pelaku remas payudarah bisa disembuhkan dengan pendekatan khusus.

“Metode wawancara psikologi dapat digunakan untuk pendekatan penyembuhan masalah mental pelaku,” ujarnya.

Sedangkan untuk para korban remas payudara, khusus anak di bawah umur, bisa saja mengalami rasa khawatir dan takut. Namun, untuk memastikan korban trauma atau tidak, mesti melewati pemeriksaan psikolog. Bila sudah diperiksa, psikolog dapat menentukan langkah penanganan selanjutnya. Apakah korban remas payudara tersebut perlu konseling dan terapi psikologi.

“Kemudian bila butuh terapi, terapi apa yang tepat untuk korban,” ujarnya.

Namun sayangnya, pemeriksaan psikologi sejauh ini memang belum tersedia merata di Puskesmas. Layanan psikologi hanya ada di praktik khusus atau rumah sakit tertentu. Padahal, keberadaan psikolog di Puskesmas sangat diperlukan. Masyarakat jadi jauh lebih mudah mengakses dan peduli terhadap kesehatan mental dan jiwa mereka. Kebijakan ini sudah diterapkan di DKI Jakarta dan Yogjakarta.

“Supaya semua masyarakat bisa dengan mudah mengakses pelayanan psikologi untuk berkonsultasi,” pungkasnya.

Rendahkan Martabat

Komisioner Komisi Nasional Antikekerasan terhadap (Komnas) Perempuan, Andy Yentriyani meminta kasus peremasan payudara yang ditangani Polda Kalbar ditangani serius. Perbuatan pelaku menyerang organ seksual perempuan dilatarbelakangi pemikiran yang menempatkan perempuan semata sebagai objek seksual.

“Perbuatan itu merendahkan martabat manusia,” katanya, Kamis (11/3/2020).

Sayangnya, payung hukum untuk memberatkan hukuman bagi para pelaku remas payudara di negeri ini belum cukup mampu memberi efek jera.

“Ini mengapa pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual menjadi sangat urgent,” ujarnya.

Jenis-jenis baru kekerasan seksual, seperti remas payudara, tidak dapat tertampung oleh KUHP, maupun undang-undang lain. Namun dalam RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, sudah diakomodir. Bukan saja untuk mempidana pelaku, tapi juga memastikan korban mendapatkan dukungan pemulihan yang dibutuhkan.

“Perkara kalau pelaku misalnya ada kelainan kejiawaan, itu harus diassesment dulu terpisah oleh ahlinya. Dalam hukum, kelainan kejiwaan juga bisa dijadikan cara menghindari hukuman,” katanya.

Dalam penangan kasus tersebut, pendidikan ulang sangat penting dalam aspek penghukuman. Artinya pelaku jangan hanya sekadar diberi hukuman.

“Bentuk hukuman seperti kerja untuk publik, selain di penjara, adalah salah satu contohnya. Namun,model ini belum dikenal dalam sistem pidana kita, yang saat ini diintrodusir lewat RUU Penghapusan Kekerasan seksual,” sebutnya. (abdul/andi/balasa)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *