Ketua MUI Kalbar: Maklumat Meniadakan Salat Jumat untuk Menolak yang Bisa Membahayakan Harus Didahulukan

PENGUMUMAN - Masjid Al Muhtadin di Komplek Untan meniadakan salat Jumat sementara menyusul merebaknya virus Corona. (ISTIMEWA)
banner 468x60

PONTIANAK, insidepontianak.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Barat mengeluarkan surat tausiyah atau maklumat bernomor 24/MUI-KB/III/2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah di Masjid dalam Situasi Darurat Covid-19, Rabu (26/3/2020). Dalam surat tersebut, MUI Kalbar memberikan imbauan sebanyak empat hal.

Pertama, pengelola masjid dan segenap umat Islam Kalimantan Barat untuk tidak menyelenggarakan salat Jumat pada tanggal 27 Maret 2020. Dan para jamaah menggantikannya dengan melaksanakan salat zuhur di kediaman masing-masing.

Kedua, pengelola masjid tidak menyelenggarakan jamaah salat rawatib atau jamaah salat lima waktu, namun azan tetap dikumandangkan sebagai tanda waktu salat.

Ketiga, tidak menyelenggarakan kegiatan keagamaan melibatkan orang banyak baik di masjid atau di tempat lain. Dan ke empat, untuk salat Jumat selanjutnya akan dikeluarkan tausiyah berikutnya sesuai dengan perkembangan situasi.

Selain itu, masyarakat diminta mematuhi seruan berbagai pihak untuk berdiam di rumah dan menjaga jarak fisik. Tausyiah tersebut ditujukan kepada seluruh masjid atau surau atau musala di Kalimantan Barat.

Ketua MUI Kalbar H M Basri HAR mengatakan seruan itu terpaksa diputuskan untuk mencegah penjangkitan Corona secara luas. Sebab, mengumpulkan orang sangat rentan membuat mata ratai penjangkitan semakin menyebar.

“Momen yang rentan itu kan kalau terjadi kumpulan orang ramai. Dengan kondisi saat ini, sehingga kita ambil satu sikap menyerukan umat muslim di Kalbar untuk sementara waktu meniadakan Jumatan. Tapi cukup melakukan salat Zuhur di rumah,” katanya kepada insidepontianak.com, Rabu (26/3/2020).

Menurutnya, jika masih ada masjid-masjid yang masih tetap melaksanakan jumatan, MUI tidak punya kewenangan untuk melakukan pelarangan.

“Kita hanya memberi maklumat. Selebihnya tinggal masing-masing memutuskan mau atau tidak melaksanakan,” katanya.

MUI sejatinya sangat berat memutuskan mengeluarkan sikap untuk meminta masjid-masjid meniadakan salat Jumat sementara. Namun, kondisi saat ini memang mengharuskan keputusan tersebut. Tujuannya untuk menjaga keselamatan umat dari penjangkitan virus Corona.

“Prinsipnya, tausiyah untuk tidak Jumatan sementara, semata untuk memberikan keselamatan. Menolak hal yang bisa membahayakan harus didahulukan. Itulah yang menjadi dasar argumen kita,” katanya.

Dia menyadari, tausiyah tentang meniadakan salat Jumat atau salat jamaah lainnya di masjid tersebut pasti menimbulkan pro dan kontra.

“Tetapi ya mau diapakan lagi. Ini lah salah satu cara yang bisa kita lakukan. Tapi kita berharap, mudah-mudahan secepatnya Corona ini segera berlalu,” tutupnya. (abdul)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *