PMI Bermasalah Kembali Dipulangkan dari Malaysia di Tengah Pandemi Corona

PMI Bermasalah yang dipulangkan. (Ist)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Di tengah peningkatan jumlah kasus Corona di tanah air, deportasi Pekerja Migran Indonesia Bermasalah (PMI-B) oleh otoritas pemerintah Malaysia masih terus dilakukan.

Jumat (27/3/2020), BP3TKI Kalbar kembali menerima 66 orang PMI-B yang dipulangkan dari Sarawak melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau.

Bacaan Lainnya

Sekitar pukul 16.00 WIB, para PMI-B tersebut tiba di Dinas Sosial Kalbar. Di sana mereka didata ulang. Tercatat dari 66 orang itu 16 orang diantaranya perempuan, dan 50 orang lainnya laki-laki.

Kasi Perlindungan dan Pemberdayaan BP3TKI Kalbar, Andi Kusuma Irvandi menyebutkan ke 66 orang PMI-B yang baru saja dipulangkan itu, sudah dilakukan pengecekan kesehatan oleh petugas karantina kesehatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) saat di PLBN Entikong sebelum akhirnya dikirim ke Dinas Sosial

Masing-masing PMI-B tersebut telah diberikan kartu kuning. Sebagai tanda sedang dalam pemantauan. Meskipun saat ini kondisi fisik mereka dinyatakan sehat.

“Sementara semuanya sehat,” kata Kasi Perlindungan dan Pemberdayaan BP3TKI Kalbar, Andi Kusuma Irvandi.

Meski demikian, pemeriksaan ulang kesehatan terhadap seluruh PMI-B tersebut tetap dilakukan. Tujuannya tentu saja untuk mendeteksi ulang potensi penyebaran Covid-19.

Apalagi Sarawak merupakan salah satu wilayah di Malaysia yang turut terpapar Corona. “Mereka akan diperiksa ulang oleh Dinkes Provinsi (Kalbar),”ujarnya.

Andi merinci, dari 66 orang PMI-B yang dideportasi tersebut, 41 orang diantaranya merupakan Warga Kalbar. Selebihnya ada tiga orang asal Jawa Timur, empat orang dari Jawa Tengah, lima orang dari Jawa Barat, satu orang dari Nusa Tenggara Timur (NTT), satu orang dari Nusa Tenggara Barat (NTB), satu orang dari Banten, enam orang dari Sulawsi Selatan, satu orang dari Sulawesi Tenggara, dua orang dari DKI Jakarta dan satu orang dari Lampung.

“36 orang dideportasi karena tidak memiliki paspor. Kemudian 19 orang tidak memiliki permit, tujuh orang ikut orang tua, dan empat orang pulang karena Repatriasi (melapor ke KJRI Kuching, karena ingin dipulangkan ke daerah asal),” tutupnya. (abdul)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *