Mencari Tepung

ilustrasi Ali Express.

Perempuan itu menyeret-nyeret kakinya menapaki jalan berumput yang tertutup embun. Sendalnya putus. Libi, anak perempuan dengan masker dan sarung tangan merah di sampingnya mengenggam erat tangannya. Sementara dia menggendong tabung kaca dibalut kain panjang cokelat berbintik-bintik putih. Mereka pergi mencari tepung.

Hari ini Libi berulang tahun yang keenam. Sejak bangun tidur dia merengek minta martabak padahal di rumah tak ada tepung sama sekali. Harusnya dia sudah memikirkannya saat menghadiri Hari Bertukar tiga hari yang lalu.

Bacaan Lainnya

“Mama, kenapa tak lepas saja sendalnya?”

Dia menoleh sebentar dan tersenyum. “Rumputnya masih basah. Lagian kita tidak tahu rumput mana yang tak jadi tempat anjing buang air kecil.”

“Oh. Jijik ya?” tanyanya lagi di sela napasnya yang memburu. Berjalan jauh menggunakan penutup hidung sungguh melelahkan.

“Bukan masalah jijiknya, Libi. Mama alergi. Memangnya kita punya anti-septik lagi? Kan tidak ada. Nanti repot sendiri.”

“Kita bisa meminta Piang Baja untuk meracik daun agar gatalnya reda,” katanya.

“Benar. Tapi tak bagus merepotkan orang terus. Kita harus hemat, jangan menukar barang untuk sesuatu yang tidak terlalu mendesak.” jawabnya sabar.

Anaknya  mungkin paham, hingga jawaban itu tak memunculkan pertanyaan. Mereka melewati rumah-rumah yang kosong. Daun-daun kering berserakan di beranda, rumput-rumput tinggi menutupi halaman, kotoran burung muncrat di dinding dan jendela.

Kebanyakan rumah kosong karena penghuninya telah mati oleh pandemi, seperti Nenek dan Kakek. Sebagian lagi memilih mati dengan cara masing-masing. Tetangga mereka mati terkena pandemi, tapi anak lelaki dan menantunya mati bunuh diri.

Dia tak menyangka tepung terigu akan jadi begitu berarti, mereka sudah mendatangi dua rumah tapi belum juga mendapatkannya. Rumah pertama yang mereka tuju adalah rumah Santi. Teman sekolahnya waktu SMP. Dulu dia seorang pegawai pemerintahan di Dinas Pertanian.

Pandemi membuatnya kembali ke tempat ini. Sama sepertinya, bagi Santi setiap hari adalah usaha untuk tetap bertahan agar tak mengambil tali lalu gantung diri. Anak bungsunya yang berusia setahun lebih meninggal terkena pandemi.

Mereka sering bertukar barang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi kali ini Santi tak banyak membantu. Dia merasa tak memerlukan barang yang dibawa temannya itu, dia bilang saja tidak punya tepung terigu. Padahal dia masih menyimpan beberapa kilogram, jaga-jaga untuk kue Paskah nanti.

Perempuan itu mencoba mengerti. Empat bulan setelah haru biru, dia sudah menukarkan nyaris separuh dari isi rumah Kakek. Mulai dari kursi kayu, lukisan oleh-oleh saat pelesiran, sarung bantal berbunga-bunga, selimut, hingga cangkir. Pot-pot kembang Nenek juga satu per satu berganti dengan bahan makanan; beras, gula aren, bibit perenggi, kadang daging.

Rumah kedua yang mereka singgahi adalah rumah Mamak Ema. Entah siapa nama sebenarnya, Ema adalah nama anak sulungnya. Rumahnya luas, memiliki banyak bunga di halaman, bahkan saat huru hara terjadi, bunga-bunga itu tetap tumbuh subur.

Rumah pensiunan guru yang senang merajut itu kini ramai. Dia dan anak-anaknya memilih tinggal bersama. Ada tiga kepala keluarga dalam satu rumah. Mereka punya tepung, tapi tak mungkin menukarnya dengan barang yang dibawanya. Dia mengerti, mereka juga singgah karena kebetulan hanya pintu rumah itu yang terbuka. Keluarga itu ramai, mereka pasti menghemat bahan pangan sebisanya agar semua bisa makan.

Kesukarelaan menjadi modal utama dalam menjalani kehidupan di sini, jangan melakukan sesuatu dengan terpaksa. Jangan menukar sesuatu bila tak ingin, kalau tak butuh dengan barang yang ditawarkan maka jangan ambil. Tapi jika punya belas kasih, berilah sesuatu dengan cuma-cuma.

Sedikit demi sedikit dia mulai menerima nilai-nilai baru dalam hidupnya. Dulu semua hal diukur dengan angka, di sini angka-angka telah mati. Tenggelam bersama mayat-mayat para tuan tanah dan pemilik kebun yang sering memotong upah pekerja. Kebanyakan dari mereka mati terkena pandemi, tapi lebih banyak yang mati bunuh diri karena putus asa.

Uang sekarang tak berguna karena semua orang menerapkan barter. Masing-masing menanam kebutuhan pangannya karena kini semua orang memiliki lahan. Kalau ada yang kurang, silakan mencari orang untuk saling tukar.

“Mama, mengapa dia tidak ingin menukarkan tepungnya?”

“Mereka belum membutuhkan barang yang kita bawa,” jawabnya pendek.

Dalam benaknya anak itu bertanya, memangnya siapa yang perlu ikan hias sekarang. Di rumah Kakek ada banyak akuarium kosong. Kata mama dulu isinya ikan hias, ikan-ikan itu berwarna agak kemerahan dan memiliki kumis. Selain di akuarium ada juga di kolam. Tapi itu dulu, saat mereka datang hanya tersisa satu ikan. Sekarang ikan itu di gendongan mama.

Mereka terus berjalan, di jalan yang kering perempuan itu melepas sendalnya dan memegangnya di tangan kiri. Dia melihat pesawat kertas dari selembar uang 100 ribu tergeletak di tanah saat jongkok. Mereka saling pandang lalu mengangkat bahu berbarengan.

Sesekali mereka menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Udara di sini bersih. Libi bisa merasakannya meski menghirupnya di balik masker. Sejak huru hara terjadi, semua anak di bawah 12 tahun wajib mengenakan masker dan sarung tangan saat keluar rumah. Bahkan setelah kekacauan berlalu, peraturan itu masih berlaku.

Rumah Kakek terpisah dari rumah penduduk. Katanya keturunan pemanggil roh leluhur harus tinggal di tempat yang suci karena perlu ketenangan untuk mendoakan orang banyak. Hal-hal seperti itu yang membuatnya tak sanggup hidup di sana. Dia menetap di ibu kota seusai kuliah. Menjadi seorang pegawai di bank swasta, menikah dengan seorang notaris yang dikenalnya sewaktu sedang antre membeli martabak.

Sejak saat itu martabak begitu sentimentil baginya, makanya dia tak sanggup menolak permintaan Libi. Satu-satunya hal berharga di hidupnya saat ini. Mereka menyukai martabak, baik manis atau asin, entah itu rasa otentik atau dengan sentuhan kontemporer. Sejak menikah – dan suaminya mulai menerapkan slow food – dia mulai membuat martabak sendiri.

Andalannya adalah martabak manis, hanya perlu tepung terigu dengan rasa vanilla yang diberi campuran mentega, di atasnya ditaburi gula dan kacang goreng yang dihaluskan. Kadang kacang goreng diganti taburan cokelat, susu kental manis, atau parutan keju.

Libi lahir di tahun ke-2 pernikahan. Tepat tanggal ini. Hari itu merupakan tanggal liris single Let It Be dari grup musik kesukaan mereka, The Beatles. Dia dinamai Libi untuk mengingat judul lagu Let It Be. Sejak kehadiran Libi, taburan martabak manis lebih beragam, bisa cokelat batang yang dicairkan, atau selai kacang dari Nutella.

Hari ini bocah itu meminta martabak manis dengan taburan cokelat Kit Kat cair. Dalam hati, perempuan itu meringis. Orang-orang yang bunuh diri karena putus asa di tengah pandemi pasti tidak punya anak perempuan yang meminta martabak manis bertabur cokelat Kit Kat saat toko-toko kosong melompong dan gula hanya bisa didapat dari air aren yang dimasak.

Dulu hidupnya terasa bahagia sampai pandemi melanda seluruh negeri. Demam tinggi disertai batuk dan flu yang mematikan hanya dalam waktu delapan jam setelah terinfeksi. Kacau balau di mana-mana. Dalam hitungan bulan, kota-kota lumpuh.

Tak ada aktivitas di pusat perbelanjaan, rumah sakit tutup karena petugas kesehatan satu per satu meninggal dunia. Pemerintahan kacau, banyak pejabat yang memilih bunuh diri sebelum dibunuh maling yang menjarah isi rumah. Perampokan dan pembunuhan jadi hal yang biasa. Orang kelaparan di mana-mana.

Dan hanya inilah tempat aman yang tersisa. Karena di sinilah satu-satunya sungai yang jernih. Banyak perantau yang kembali. Mencoba memulai hidup baru setelah kekacauan di luar sana. Di sini, pandemi itu tiba juga, tapi ada daun yang menyelamatkan. Melumat beberapa lembarnya secara teratur mampu mengembalikan kekebalan tubuh.

Sebenarnya kita hanya perlu cuci tangan untuk mencegah sumber penyakit masuk ke tubuh, begitu kata tetua. Tapi di tempat lain sungai-sungai telah kotor. Mereka mencuci tangan di air yang tercemar, itu malah memperparah keadaan.

Empat bulan setelah haru biru, orang-orang mulai menata kehidupan. Empat bulan yang lalu dia memeluk Libi dengan was-was di belakang kemudi mobil. Mereka mengenakan masker dan sarung tangan, menjaga jarak sejauh mungkin dari suaminya yang memacu kencang setir mobil. Berlomba dengan waktu agar dia bisa mengantar istri dan anaknya pulang ke kampung halaman.

“Besarkan Libi di sana. Hiduplah dengan bahagia. Aku tak bisa,” kalimat itu jadi kalimat terakhir yang dia ucapkan.

Setelah itu dunianya seperti terbalik. Empat bulan yang lalu, dia masih mendengarkan Madonna dari Spotify. Dua peneliti idolanya masih meluncurkan podcast, membahas gangguan psikologis akibat pandemi ini. Beberapa hari kemudian keduanya tewas bunuh diri.

Hari ini mereka menyusuri jalanan, masih terlalu pagi hingga tak berlaluan dengan satu orang pun. Perjalanan ini seperti ziarah masa lalu baginya. Dulu dia pernah menjalani hidup sepenuhnya. Futum brutum amorfati. Di hari baru ini bisakah dia mengulangnya. Rasa sedih karena kehilangan orang-orang terkasih masih membuatnya terpukul, proses adaptasi dengan cara hidup baru ini juga kadang membuatnya seperti orang gila. Tapi Libi membuatnya tak ingin menyerah. Bahkan jika mereka harus berkeliling hingga rumah paling ujung untuk menukarkan ikan siluk dengan satu kilogram tepung terigu, dia akan melakukannya.

Saat pikirannya sedang berkecamuk, anak itu menarik-narik tangannya.

“Itu Piang Baja,” tunjuknya kegirangan. Dari kejauhan dilihatnya seorang perempuan lanjut usia menggendong sesuatu. Dulu dia bekerja untuk Kakek dan Nenek. Tugasnya memberi makan babi dan merawat kebun sayur Nenek, suaminya memberi makan ikan-ikan. Meski telah bekerja keras, mereka tetap tak mampu menyekolahkan anak-anaknya.

Sejak kekacauan terjadi, Kakek tak mampu lagi mengupah mereka, satu bulan setelahnya tak ada lagi yang diupah atau mengupah. Semuanya saling melayani, sesuai dengan  kebutuhan. Pasangan suami istri itu tak pernah lagi datang ke rumah. Mereka hanya bertemu di Padang Hijau saat hari bertukar tiba.

Piang Baja menggendong umbut kelapa di belakangnya. Tubuhnya yang mulai uzur tampak sangat kecil dibalut baju dan celana panjang berwarna cokelat. Tapi kakinya yang tertutup sepatu karet masih mantap langkahnya. Entah basa-basi atau bukan, dia langsung menanyakan tujuan mereka.

“Kami ingin membuat martabak, tapi tak ada orang yang berkenan menukar tepung terigu dengan ikan hias yang kami bawa,” Libi mendahului Mamanya.

Piang Baja, perempuan yang menghabiskan separuh hidupnya bekerja untuk kedua orang tua perempuan muda itu mendekat. Dilihatnya ikan itu berdiam tenang di dalam. Suaminya menghabiskan hampir separuh hidupnya untuk mengurusi ikan-ikan itu, bahkan anak-anaknya tak diurusnya seperti dia mengurus ikan siluk. Meski telah berpuluh tahun dia bekerja di sana, tak seekor pun pernah jadi miliknya.

“Libi ulang tahun hari ini, dia meminta martabak manis. Kami tak punya tepung sama sekali,” perempuan muda itu mencoba menjelaskan.

“Sayang sekali kami tak punya tepung terigu.” Kalimat itu keluar dengan berat. Sekarang bukan hanya dia dan suaminya yang mengalami ini; membesarkan anak tanpa kue ulang tahun. Jangankan membuat kue ulang tahun untuk anak-anaknya, dia dan suaminya bahkan lupa memberi ucapan karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja di kebun dan kolam orangtua perempuan muda itu. Meski telah bekerja keras mereka tetap saja tak bisa membawa pulang kue ulang tahun, bahkan yang paling murah sekali pun.

Libi tak tahan lagi, perjalanan panjang membuatnya capek dan tidak mendapatkan tepung membuatnya sedih. Dia mulai menangis mengajak pulang.

“Aku mau pulang saja Mama. Melepas masker ini dan mulai menghitung lagi. Hari ini aku enam tahun, masih perlu enam tahun lagi sampai aku bisa keluar rumah tanpa menggunakannya,” rengeknya.

Andai uang masih memiliki nilai, perempuan itu bisa membelikan ratusan kotak martabak jika putrinya meminta. Dia ingin melampiaskan kekesalannya juga, mengutuk kondisi. Antara putus asa dan rasa iba pada Libi, dia jongkok dan meletakkan tabung ikan itu. Bahkan jika seekor anjing menggigit dan membawanya lari, dia tak akan menyesal. Ikan itu tak memiliki nilai lagi. Semakin dibujuk Libi semakin tersedu-sedu.

Piang Baja masih berdiri menyaksikan perempuan muda itu. Dia tak mengira orang yang sudah dianggap lebih maju dan modern akan mengalami kesusahan hidup di sini.

“Tapi kita bisa membuatnya dengan tepung beras. Saya bisa menumbuk beras dan mengayaknya jadi tepung. Seumur hidup suami saya ingin memiliki ikan siluk,” kalimat itu keluar cepat. Seperti peluru yang melesat, menghantam ulu hati perempuan muda yang tengah berlutut membujuk putrinya.

Libi menghentikan tangisnya, sepertinya mereka harus membiasakan diri makan martabak manis dari tepung beras. Mamanya menelan ludah sebelum mengangguk tanda setuju. Diambilnya lagi tabung ikan itu dan digendongnya. Sama seperti suami Piang Baja, ayahnya juga mencintai ikan siluk. Mencintai uang yang didapat darinya.

Piang Baja dan suaminya menghabiskan umurnya untuk merawat ikan-ikan milik ayahnya, sekarang inilah satu-satunya ikan siluk yang tersisa di tempat ini. Dulu ayahnya menjualnya dengan harga fantastis, mampu membeli rumah, menyekolahkannya, bahkan untuk membiayai pernikahannya. Sekarang dia menyerahkannya pada orang lain untuk ditukar dengan tepung. Karena di hari ulang tahun anaknya, hanya itulah permintaan yang bisa dia penuhi.

Di sini, di kehidupan yang baru, tempat paling aman yang tersisa, setiap hari dia mencoba untuk waras. Dulu nyaris sepanjang hari dia menghitung uang, sekarang setiap hari dia menghitung nyawa yang masih bertahan. Sekarang orang-orang tidak mati karena pandemi, tapi karena tak sanggup menjalani kehidupan yang baru.**

 

Penulis:

Claudia Liberani, relawan di @saomamasa.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *