H Sulaiman Mangkat, Selamat Jalan Pejuang Perdamaian Kalbar

Ketua IKBM Kalbar, H Sukiryanto (kiri) memberikan tumpeng kepada H Sulaiman (kanan) dalam sebuah acara. H Sulaiman wafat pada Jumat (3/4/2020)

PONTIANAK, insidepontianak. com – Jumat, 3 April 2020 menjadi hari duka mendalam bagi kalangan warga Madura di Kalimantan Barat. Seorang tokoh besar dan saksi sejarah pergolakan sosial masyarakat Madura, H Muhammad Sulaiman mangkat.

Dewan Kehormatan Ikatan Keluarga Besar Madura (IKBM) Kalbar, kelahiran Pontianak 20 Agustus 1944 itu, sempat kritis sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Bacaan Lainnya

Sulaiman adalah sosok penting dalam keorganisasian Madura di Kalbar. Peran pendiri IKBM Kalbar itu begitu besar. Baik dalam pengaruhnya terhadap kehidupan sosial, budaya bahkan catur perpolitikan masyarakat Madura.

Salah satu yang membekas dalam ingatan, Sulaiman memposisikan dirinya sebagai garda paling depan dalam upaya perdamaian konflik etnis. Bertahun silam yang meluas di Kalbar.

“Dilihat dari sejarah kerusuhan di Kalbar, almarhum menjadi orang yang tampil berani untuk mengambil langkah perdamaian. Dalam keadaan genting, dia datang ke Sambas saat kerusuhan untuk menegakkan perdamaian di sana,” kenang Ketua IKBM Kalbar, H Sukiryanto kepada Insidepontianak.com.

Anggota DPD RI, Sukiryanto menjenguk H Sulaiman

Tak peduli nyawa bakal jadi taruhan, Sulaiman begitu gigih memperjuangkan perdamaian itu. Perangainya yang tenang, mampu merumuskan butir-butir perdamaian masyarakat dengan pendekatan yang persuasif.

Perdamaian tersebut akhirnya berhasil dicapai. Itu lah kemudian menjadi tonggak awal perkembangan kebudayaan Madura di Kalbar kembali. Di sini, Sulaiman lagi-lagi mengambil peran memperkenalkan kearifan budaya hingga setara dengan etnis lainnya di Kalbar.

“Sulaiman juga berkontribusi besar dalam bidang kebudayaan masyarakat Madura. Budaya Madura bisa dikenal seluruh masyarakat Kalbar atas perjuangannya. Dia selalu terdepan, misalnya di kesenian saja di Sandur dia selalu aktif, di kegiatan lain juga selalu aktif,” ungkap Sukiryanto.

Atas semua kontribusi yang telah diberikan itu, Sulaiman dipandang sebagai seorang ayah bagi organisasi IKBM, bahkan secara umum bagi warga Madura di Kalbar. Dia panutan dengan segala hal yang patut dicontoh.

“Jadi memang Sulaiman sosok yang segalanya patut dicontoh. Semoga nanti akan lahir Sulaiman-Sulaiman lain dari organisasi IKBM Kalbar ini,” kata Sukiryanto, yang kini menjabat sebagai anggota DPD RI.

Teladan Sulaiman ini juga menjadi warisan tersendiri bagi kalangan pemuda Madura. Bukan cuma sebagai pejuang perdamaian sejati di Kalbar yang berani pasang badan, tapi juga orang yang begitu demokratis.

“H Sulaiman adalah sosok yang demokratis. Beliau sangat menghargai peran dan kontribusi siapa pun di IKBM. Baik itu tokoh, senior, pengusaha maupun anak muda seperti kami,” kata salah satu tokoh pemuda Madura, Subro.

Ketua Bidang Kebudayaan IKBM Kalbar itu menceritakan, Sulaiman selalu memberikan ruang bagi siapa saja tak terkecuali pemuda untuk berekspresi. Diskusi-diskusi selalu dilakukan untuk perkembangan sosial masyarakat dan organisasi IKBM pada khususnya.

“Bahkan kami diberikan ruang untuk berekspresi dan berdiskusi. Jadi beliau sangat mengayomi itu dan menghargai pendapat orang,” ujar Subro.

Sulaiman tak mau otoriter bahkan relatif mendengar pendapat kalangan muda. Kebesaran namanya, tak dijadikan alasan untuk menunjukkan diri, sebagai orang yang punya pengaruh. Baik di kalangan masyarakat, pemerintahan dan lintas tokoh adat serta agama.

“Beliau kadang mengajak saya berdiskusi, mengajak saya ke pertemuan-pertemuan penting demi kedamaian di Kalimantan Barat. Tapi lagi-lagi beliau tak segan meminta pendapat kami sebagai anak muda. Selaku genarasi penerus,” papar Subro.

Tak sedikit pelajaran yang diberikan ke kalangan muda dan kini terpatri di hati mereka. Terutama soal ketenangan diri dan keramahan yang terus ditebar bagi banyak orang. Bahkan saat menghadapi stigmatisasi terhadap warga Madura.

“Bahkan dalam situasi misalkan banyak membicarakan stereotipe orang Madura khususnya di Kalbar. Tapi beliau menanggapinya dengan tersenyum, tenang dan selalu berargumentasi dengan baik. Sehingga di banyak kalangan dikenal sebagai sosok yang ramah dan etikanya cukup baik,” terang Subro.

Tokoh Tionghoa, Ateng Tanjaya bersama H Sulaiman. (ist)

Pemikiran Sulaiman adalah sebuah inspirasi bagi anak muda Madura. Alur hidupnya dari nol sampai sukses berwirausaha dan berorganisasi, merupakan buah kerja keras dan didikan dari orang tuanya dahulu.

Sulaiman kecil adalah orang biasa yang ikut membantu orang tuanya berjualan mie goreng. Sifat pekerja kerasnya sudah kelihatan. Untuk ukuran bocah, dia tak gengsi untuk bekerja mencuci mobil, menambang sampan dan lainnya.

“Beliau wirausahawan sejati. Lingkungan tangguh itulah akhirnya yang membentuk beliau. Jadi kesuksesannya sekarang bukan dibentuk semudah membalikkan telapak tangan. Tapi memang dengan kerja keras sejak dia dapatkan didikan dari orang tuanya sejak kecil,” cerita Subro.

Sebagai rasa penghormatan, potret kehidupan Sulaiman ini diabadikan oleh Subro dalam sebuah biografi yang tengah digarap. Dalam biografi itu, Sulaiman dipaparkan mulai dari A sampai Z. Tentang kisah, soal cerita hidupnya dari bocah hingga mangkat.

Karakter ramah senyum ini, tak hanya sebagai orang yang dituakan. Lebih  dari itu Sulaiman bisa melebur bak sahabat dan teman sebaya. “Ramah kepada siapa pun. Termasuk ke anak-anak muda. Beliau itu murah senyum kalau secara akhlak personal,” kata Khatib Syuriyah Pengurus Cabang (PC) NU Kota Pontianak, Andi Nuradi.

Selain itu, H Sulaiman juga dikenang sebagai orang yang senang berbagi ilmu. Suka bercerita tentang pengalaman hidup. Terutama dalam membangun bisnis hingga mampu membangun usahanya itu sampai sukses.

“Almarhum itu, mau berbagi pengalaman hidup pada anak-anak muda. Misal dalam hal bisnis, kan beliau pengusaha sukses,” ujarnya.

Sebagai tokoh masyarakat, H Sulaiman semasa hidup juga tak pelit akan nasehat. Agar anak muda gigih dalam menjalani hidup. “Nah, dia menasehati dan ngasih petuah ke anak-anak muda itu dari pengalaman hidup yang dia ceritakan itu. Misal soal kegigihan dalam usaha, kepatuhan pada orang tua, dan lain-lain,” katanya.

Nasehat-nasehat dan petuah itu tidak sekadar teori. Tetapi apa yang disampaikannya berdasarkan pengalaman hidupnya dalam berbagai hal.

“Jadi bukan seperti teori-teori, atau bagai guru atau dosen di kelas dalam membangun semangat dan menasehati anak muda. Tapi almarhum ini lebih pada berbagi kisah hidup untuk sama-sama belajar,” pungkasnya. (andrie/abdul)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *