Saleh Kembali Ditahan Pihak Polres Ketapang, Dituduh Panen di Kebun PT ASL

TUNJUKKAN - Kuasa hukum Saleh menunjukkan surat dari Polres Ketapang, Senin (6/4/2020). (FAUZI/insidepontianak.con)
banner 468x60

KETAPANG, insidepontianak.com – Warga Desa Pantai Ketikal, Kecamatan Singkup, Kabupaten Ketapang, Saleh kembali berurusan dengan hukum, lantaran pihak PT Ayu Sawit Lestari (PT ASL) kembali melaporkannya atas tuduhan memanen buah sawit di lahan perusahaan PT Ayu Sawit Lestari (PT ASL), yang merupakan salah satu anak perusahaan dari Cargill Group.

Sebelumnya, Saleh juga pernah dilaporkan PT Ayu Sawit Lestari, namun hasil putusan Pengadilan Negeri Ketapang pada tahun 2019 lalu menyatakan Saleh bebas karena tidak terbukti melakukan pemanenan buah sawit di dalam kawasan perusahaan.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan keterangan Tengku Amirul Mukminin yang dipercaya menjadi kuasa hukum Saleh menerangkan, kliennya kembali dituduh melakukan pemananen buah sawit di lahan perkebunan milik perusahaan PT Ayu Sawit Lestari. Padahal selain putusan Pengadilan Negeri Ketapang dan putusan PJ Bupati Ketapang Kartius pada tanggal 30 November 2015 menyatakan bahwa status lahan di luar izin seluas 144,28 Ha yang berada di Desa Pantai Ketikal dijadikan kebun plasma mandiri.

“Dituduh memanen sawet tanpa izin di PT ASL, karena menurut versi laporan bahwa yang memerintahkan untuk manen itu saudara Saleh. Sawit yang dipanen ini terletak di i2, lokasi 144 Ha berdasarkan putusan Pejabat Bupati (Pj) Kartius itu diserahkan ke masyarakat untuk plasma mandiri,” terang Tengku Amirul Mukminin, Senin (6/4/2020).

Dia heran, kenapa Saleh sebagai kliennya harus dilaporkan dengan tuduhan memanen di kawasan milik perusahaan, padahal di surat keputusan PJ Bupati Ketapang Kartius dan hasil putusan pengadilan sudah jelas, bahwa kawasan 144, 28 Ha tersebut menjadi plasma mandiri. Namun pihak perusahaan kembali melaporkan di lahan yang sama.

“Di pengadilan juga memutuskan untuk lokasi 144 Ha, saudara Saleh dibebaskan tidak bersalah, dan ini di lokasi yang sama juga,” tambahnya.

Namun dia menghormati proses hukum yang saat ini berjalan. Dalam waktu dekat pihaknya akan meminta Polres Ketapang mengalihkan penahanan. Karena sebelumnya Saleh pada tahun 2019 sempat ditahan 3 bulan penjara sambil menunggu proses putusan pengadilan, dan akhirnya dinyatakan bebas tidak bersalah.

“Kita sesuai prosedur saja, sesuai tudahan mereka, kita lihat saja nanti pengadilan yang memutuskan. Setelahnya ada penahanan ini dalam waktu dekat kita ada upaya permohonan pengalihan penahanan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Saleh melaporkan pihak perusahaan kepada pihak berwajib terkait aktivitas perkebunan di luar izin, namun hingga saat ini belum ada kejelasan proses hukumnya.

“Masalah ini kita juga ada bikin laporan, lahan di luar izin, kita ada dua laporan yang disampaikan Pak Saleh, kita mau minta laporan ini juga ditindaklanjuti, jangan hanya sepihak saja,” tegasnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Ketapang AKP Eko Mardianto saat di konfirmasi awak media, belum dapat memberikan keterangan lebih detail dengan alasan proses pemeriksaan belum selesai.

“Untuk berita terkait sawitnya nanti saya ekspose setelah selesai pemeriksaan semua ya,” terang AKP Eko Mardianto menjawab pesan awak media melalui pesan WhatsApp. (fauzi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *