Data 65 Orang Peserta Sajadah Fajar di Kapuas Hulu Diserahkan ke Pemerintah

Ilustrasi. (Islampos.com)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Ketua rombongan jamaah Sajadah Fajar di Kapuas Hulu, Edo Tobing menyebutkan sudah menyerahkan 65 data peserta yang ikut kegiatan tersebut ke pemerintah, untuk dilakukan penelusuran penyebaran Covid-19.

“Data rombongan yang ikut kegiatan Sajadah Fajar di Kapuas Hulu sudah kami kirim sesuai permintaan pemerintah tadi pagi. Ada 65 orang. Termasuk yang meninggal,” katanya kepada Insidepontianak.com, Selasa (7/4/2020).

Bacaan Lainnya

Dia pun membenarkan, lansia 68 tahun yang ditemukan meninggal, Senin (6/4/2020) malam merupakan salah satu peserta Sajadah Fajar di Kapuas Hulu.

“Betul. Tapi kalau diperhitungkan dia tanggal 1  Maret pulang ke Pontianak. Jadi sudah 34 hari baru meninggal,” katanya.

Edo menegaskan, sangat mendukung langkah pemerintah dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan Covid-19. Namun, dia membatah tudingan yang menyebutkan tidak mau menyerahkan data rombongan peserta.

“Insya Allah, kita dukung upaya pemerintah. Ini kan untuk kebaikan juga. Cuma kemarin pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi itu ndak benar. Sudah diminta begini-begitu itu kan ndak benar.  Secara anu (resmi) dia tidak pernah meminta,” katanya.

Dia pun menyampaikan, hingga saat ini jamaah rombongan yang ikut kegiatan Sajadah Fajar di Kapuas Hulu, dalam kondisi sehat, kecuali dua jamaah yang telah meninggal. Menurutnya, rombongan jamaah Sajadah Fajar di Kapuas Hulu semua dari Kalbar. Tidak ada dari luar. Kegiatan tersebut pun dilaksanakan atas undangan Bupati Kapuas Hulu, tanggal 27 Februari sampai 1 Maret 2020.

“Yang ikut ke Kapuas Hulu itu, semua jamaah kita lah, yang biasa keliling setiap Subuh. Kita dakwah. Kita kemarin diundang Bupati ke Kapuas Hulu,” ucapnya.

Kelompok Sajadah Fajar sudah aktif melakukan kegiatan dakwah masjid ke masjid sejak 14 tahun yang diketuai H Munir. Sajadah Fajar tepatnya berdiri tahun pada November 2007.

“Kita tiap subuh keliling ke Kota Pontianak, masjid ke masjid. Tujuannya kita ingin memakmurkan masjid. Sajadah Fajar ini salat Subuh berpindah-pindah di waktu fajar. Itu artinya,” tutupnya.

Sebelumnya, seorang perempuan 68 tahun ditemukan meninggal di rumahnya di Jalan Djohar, Pontianak, Senin (6/4/2020) malam. Dia diperkirakan telah meninggal sejak dua hari lalu. Dari keterangan adiknya, almarhumah merupakan salah satu jemaah yang ikut Sajadah Fajar di Kapuas Hulu beberapa waktu lalu.

“Ibu ini tinggal sendirian karena anaknya di Jakarta. Dia berumur 68 tahun dan mempunyai riwayat menurut adiknya, mengikuti acara Sajadah Fajar di Kapuas Hulu,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Harrison, Senin malam.

Sebagaimana diketahui, pasien positif Corona asal Pontianak Kota yang meninggal 21 Maret 2020 lalu juga mengikuti acara Sajadah Fajar di Kapuas Hulu. Rombongan dari Pontianak berangkat ke sana 21 sampai 27 Februari 2020.

“Mayatnya sudah dievakuasi Dinkes Pontianak. Mayat akan dibawa ke RSUD Soedarso, untuk penatalaksanaan jenazah sesuai prosedur dan malam ini akan dikuburkan,” sambungnya.

Walau memiliki riwayat mengikuti kegiatan Sajadah Fajar, hingga kini tak bisa dipastikan apa penyebab meninggalnya almarhumah. Proses Rapid Test tak mungkin dilakukan karena darah telah beku. Begitu pun pengambilan sampel spesimen tenggorokan.

Sayangnya, almarhumah juga tak masuk radar pelacakan Dinkes Pontianak terhadap orang-orang yang mengikuti Sajadah Fajar. Alasannya, ketua kelompok Sajadah Fajar ini tak mau menyerahkan nama-nama anggotanya yang berangkat.

“Kelompok Sajadah Fajar ini ketuanya sama sekali tidak mau menyerahkan nama-nama peserta yang datang ke Kapuas Hulu,” tegas Harrison. (abdul)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *