Percak Burok, Buku Pengikat Memori Kota Khatulistiwa

PARIT - Kota Pontianak dijuluki sebagai Kota Seribu Parit. (Foto Koleksi Balai Kajian Sejarah Kalbar)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Buku berjudul Percak Burok, Kumpulan Cerita Masa Kecil di Kampong Halaman, awalnya merupakan tulisan berseri dari 13 September hingga 8 Oktober 2019 di laman Facebook, penulis buku ini, Pahrian Ganawira Siregar. Saya tertarik membaca tulisan berseri  tersebut. Sebab, meski sudah belasan tahun tinggal di Kota Pontianak, ada banyak informasi di tulisan tersebut yang tak saya ketahui.

Tulisan itu mengingatkan kita pada sesuatu yang kadang terlintas, atau pernah kita alami dan temui. Membaca serial tulisan itu, saya merasa baru tinggal di Kota Pontianak. Jadi, saya selalu mengikuti tulisan berseri tersebut. Dan, selalu memberikan centang Suka, pada sebagian besar tulisan.

Bacaan Lainnya

Dalam satu pertemuan dan nongkrong bareng, saya bertanya, apa yang mendasari serial tulisan itu? Apa pentingnya tema-tema tulisan itu bagi dia? Ya, pada dasarnya, alasan dia, sama dengan sebagian besar orang lain. Sebagai orang yang besar di Kota Pontianak, tentu saja merasa perlu untuk mengenang masa kecil. Memaknai. Atau, menggali ulang sisi-sisi pengalaman menyenangkan, unik, menarik atau pengalaman psikologis lainnya.

Lalu, kenapa buku ini diberi judul Percak Burok? Kalimat itu merupakan ungkapan khas di Pontianak, dan memiliki makna atau arti yang luas. Secara harfiah, percak berarti kain pel atau kain perca. Burok, untuk menyatakan sesuatu yang jelek atau sungguh teramat jelek atau terok. Acap kali, percak burok digunakan untuk mengkonotasikan seseorang yang tak berguna. Menyatakan kekesalan pada orang lain, tak jarang percak burok yang menjadi sasarannya (hal 1).

Jalan Tanjung Pura di Kota Pontianak, sekitar tahun 1971. (Foto Koleksi Balai Kajian Sejarah Kalbar)

Pahrian lahir pada pertengahan April 1973 di Pontianak. Orang tuanya adalah Hakim Pengadilan Militer di Pontianak. Ia menikmati masa kecil hingga SMA di Pontianak. Lulus SMA, dapat undangan masuk tanpa tes dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, Jawa Barat. Lulus kuliah, melakoni profesi sebagai jurnalis, aktivis lingkungan, dan dosen di Universitas Indonesia (UI).

Dalam profilnya di Linked, Pahrian memiliki jejak panjang sebagai Koordinator Program yang berpengalaman di berbagai sektor pembangunan internasional. Terampil dalam Tata Pembangunan Berkelanjutan, Tata Kelola Hutan, Tanggung Jawa Sosial Perusahaan, Keanekaragaman Hayati, Pembangunan Pedesaan, dan Kesadaran Lingkungan. Dia, lulusan Doktor atau S (3) Ilmu Lingkungan, Fakultas Ilmu Lingkungan, Universitas Indonesia (UI).

Tak heran bila, pemilihan tema dan bab dalam buku ini begitu kentara. Lihat saja pada bab pertama buku, berisi berbagai pemanfaatan keanekaragaman hayati dan keberadaannya yang kian terancam. Bab kedua mengenai sejarah, bangunan atau tata kota hingga seputar kisah kota. Bab ketiga berisi prilaku, kehidupan atau tingkah polah umum bocah zaman dulu. Prilaku itu, masih ada yang dilakukan hingga kini, atau malah ditinggalkan. Bab empat, berisi permainan anak-anak yang biasa dilakukan ketika itu. Saat ini, mungkin saja permainan itu dianggap sudah tak menarik lagi untuk dimainkan. Kalah menarik dan tergerus oleh permainan video game atau internet.

Bagian awal buku dibuka permainan masa kecil penulis dengan ikan gendang-gendis (Brachyangobius doriae). Ikan itu memiliki panjang sekira 2-2,5 cm. Berwarna dasar hitam kebiruan. Ada tiga lingkaran warna kuning di kepala, sirip punggung dan pangkal ekor. Bentuk ikan serupa tawon. Karenanya, kerap disebut Bumblebee goby.

Meski buku ini bertema pengalaman masa kecil di kampung halaman, dari latar belakang pendidikan penulis, kita bisa membaca analisis dan informasi yang bagus dari buku. Misalnya, pada cerita ikan gendang-gendis (hal 4). Ikan ini sulit ditemui di parit-parit yang kotor, tercemar dan penuh sampah. Ikan itu bak indikator alami untuk menilai kesehatan parit yang baik, karena sifatnya yang steno, dimana kemampuannya yang rendah dalam mentolerir perubahan lingkungan.

Ada sesuatu yang khas di Kota Pontianak. Kota ini terletak sekitar 1-1,5 meter di atas permukaan air. Kota dirancang menyerupai kota-kota di Belanda. Ada kanalisasi. Tak heran bila, keberadaan Sungai Kapuas menjadi bagian penting, dalam struktur dan tata ruang Kota Pontianak. Dari Sungai Kapuas, dibuat parit-parit sekunder, tegak lurus dengan Sungai Kapuas. Parit membelah wilayah kota. Dilanjutkan dengan parit tersier, membelah tegak lurus parit sekunder.

Di antara air dan parit inilah, berdiri gertak atau jembatan membelah kampung. Biasanya gertak terbuat dari kayu khas Kalimantan yang terkenal kuat dan keras. Yaitu, kayu belian (Eusideroxylon zwageri). Anak-anak biasanya menggunakan gertak kayu untuk bermain, mencari ikan, belut dan lainnya.

Landscape berawa dengan beragam tanaman khas, menjadi kisah menarik tersendiri. Lihat saja pada cerita batang bemban (Donax canniformis) dan gila babi (hal 8). Kita bisa melihat, bagaimana kondisi Kota Pontianak ketika itu. Tanah rawa membuat tanaman air tumbuh subur. Warga menggunakan tanaman itu sebagai bahan anyaman keranjang dan tikar. Anak-anak juga menggunakan batang bemban untuk permainan. Seperti, membuat pedang-pedangan. Tapi, seiring perkembangan kota dan pemanfaatan wilayah. Juga semakin banyaknya orang mendirikan bangunan. Tanaman rawa itu semakin sulit ditemui, saat ini.

Landscape Kota Pontianak. (Foto Koleksi Balai Kajian Sejarah Kalbar)

Kisah tentang kayu belian juga muncul pada cerita atap sirap (hal 21). Atap sirap sangat unik dan khas. Atap itu membuat rumah menjadi adem. Sifat atap sirap menyerap panas. Awal tahun 1980-an, sebagian besar rumah di Kalimantan, menggunakan atap sirap dari kayu belian. Tahun 2006, Pemprov Kalbar membatasi penggunaan kayu. Atap sirap sulit dicari. Langka. Warga menutup atap sirap dengan seng, supaya rumah tidak bocor.

Tulisan tentang miding/lemidi/lemiding/ramiding (Stenochlaena palustris), membawa kita pada suatu masalah khas di Kalbar. Yaitu, kabut asap dan kebakaran lahan. Namun, dari kebakaran lahan, biasanya muncul miding. Melalui spora, tanaman epifit ini tersebar dengan cepat di lahan bekas kebakaran.  Bahkan, tak jarang tumbuhan itu lebih mendominasi.

Dari miding, muncul beragam makanan khas, sayuran atau bubur pedas. Tak hanya itu, miding memiliki kandungan Vitamin A, C, B2, karbohidrat, protein, serat atau fiber dan lemak, mineral, dan zat besi. Beragam fungsi dan kegunaan tersebut, dikisahkan dalam cerita khas, mirip penyuluh lapang kesehatan. Lengkap dan detail (hal 30).

Sejarah perkembangan Kota Pontianak, muncul pada cerita Tanah Seribu atau Satu Pal (Verkendepaal). Sejarah awal pemukiman membuat Kota Pontianak terbagi menjadi tiga wilayah. Sisi timur atau Tanjung, menjadi pusat Kesultanan Qadriah. Bagian kedua, sisi utara dan menyatu dengan Pulau Kalimantan, dikenal sebagai Siantan. Terakhir, sisi selatan dan barat kota, saat ini menjadi pusat kota. Dulu, lebih dikenal dengan nama Tanah Seribu (hal 46).

Selanjutnya, beragam bangunan dibuat untuk memudahkan pengelolaan administrasi bagi pemerintahan kolonial Belanda. Sayangnya, bangunan itu banyak yang rusak dan hilang. Beberapa yang masih nampak. Misalnya, Gedung Kantor Pos Besar yang dibangun 1858. Atau, Kantor Bank Indonesia (De Javasche Bank) didirikan pada 1906.

Sejarah awal pemukiman dan asal usul nama wilayah, bisa kita temukan pada kisah Sungai Bangkong (hal 54). Sebagai anak kolong, hidup di tangsi militer merupakan pilihan yang tak dapat ditolak. Sungai Bangkong dengan sejarah dan asal usulnya diceritakan dengan apik. Bahkan, diberi kontek yang lebih sosio-antropologis. Seperti, awal mula kedatangan dan karakteristik pemukim dari beragam etnisitas, hingga karakteristik dan profesi yang dijalani.

Karakteristik khas tanah gambut dan rawa di Kota Pontianak, turut menciptakan kondisi khas dan adaptasi pada berbagai kehidupan. Misalnya, adanya tempayan air pada setiap rumah warga. Begitu pun munculnya penyakit demam berdarah dengue, malaria, diare dan muntaber. Sesuatu yang jamak ditemui para pemukim di tanah berawa.

Dari segi bahasa, ada sesuatu yang khas dalam penggunaan bahasa Melayu di Pontianak. Orang cenderung melafalkan “r” secara secara sengau atau dalam istilah linguistiknya voiced velar fricative, dimana pelafalan sebuah konsonan dengan desis dari langit-langit belakang (hal 100). Ada beragam cara menghilangkan “r” berkarat atau kecadelan tersebut. Misalnya saja, mereka disuruh mengucapkan kalimat yang mengandung banyak huruf “r’. Contoh, “Ular melingkar-lingkar di pinggir pagar rumah orang Prancis.” Kalimat itu harus diucapkan secara berulang-ulang.

Mereka yang tak lolos memperbaiki kecadelannya, agar tak ketahuan cadel dalam pelafalan huruf “r”, terkadang harus menghindari kata-kata berhuruf “r”. Caranya? Memilih kata sinonimnya. Misalnya, kata mercon diganti petasan. Pergi diganti jalan. PR (pekerjaan rumah) diganti tugas, dan lainnya. Malahan, ada orang menghindari pacaran dengan perempuan yang namanya ada huruf “r”-nya. Alasannya, takut tak dinyatakan lolos saat akad nikah. Alamak, sampai segitunya.

Jalan Agus Salim di Kota Pontianak. (Koleksi Balai Kajian Sejarah Kalbar)

Tak hanya “r” berkarat, Pontianak yang multi-etnis, melahirkan beragam kalimat dan idiom khas bagi penghuni kota. Sebut saja, besakat atau lapes, untuk membuat suasana nongkrong dan kumpul menjadi lebih guyub dan seru. Namun, satu aturan tak tertulis harus dipahami: kalau tak mau disakat, tak boleh menyakat. Kalau sudah disakat, tidak boleh pendek tongkek atau gampang marah. Begitu pun dengan idiom merampot dan minyak angin, jadi istilah tersendiri yang sulit diganti padanan katanya.

Kehidupan masa kecil, tentu saja tidak bisa dipisahkan dengan permainan anak-anak. Situasi kota yang masih lengang ketika itu, turut membuat interaksi antar anak-anak menjadi lebih kuat. Beragam permainan tradisional dimainkan. Kondisi itu membuat interaksi antar anak semakin kuat. Menciptakan solidaritas antar mereka. Namun, ada fatwa dan tiga tempat yang tak boleh didekati. Yaitu, tembok, parit dan anen. Alasannya, tiga kata itu memiliki makna bahaya. Tembok jadi pemisah kampung dengan jalan raya. Parit memiliki kedalaman dan lebar, berbahaya bagi anak-anak. Begitu pun dengan anen atau gardu listrik. Bisa menimbulkan celaka atau kena strum listrik.

Dan, kegembiraan masa anak-anak, tentu saja kurang lengkap tanpa permainan tradisional. Permainan luar ruangan menciptakan keseruan masa kanak. Sebut saja permainan tabak, karet, kasti, tapok kaleng, lak, pistol patrom, tato babal, kartu gambar, keriang bandong, betarek (balap sepeda), dan lainnya. Nah, coba tanya pada anak sekarang, mereka tahu atau tidak permainan itu?

Buku ini, tentu saja tidak bakal menjawab semua ingatan Anda tentang masa kecil di kampung halaman. Tapi, setidaknya, buku ini akan mengantar Anda untuk melihat lagi: Anda, tentu saja bukan sesuatu yang terpisah dari lingkungan kota, atau desa yang ditinggali. Semua lingkungan itu, menciptakan imaji dan daya kreasinya sendiri, bagi penghuni. (Muhlis Suhaeri)

 

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *