Satu PDP Ketapang Meninggal Akibat Gagal Jantung

Kepala Dinas Kesehatan sekaligus Juru Bicara Posko Covid-19 Ketapang, Rustami.

KETAPANG, insidepontianak.com – Akibat Cardiac Arrest atau gagal jantung, seorang pasien yang berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang dirawat dan disolasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agoesdjam Ketapang meninggal dunia. Pasien pria berusia 44 tahun itu meninggal Minggu (12/4/2020) malam sekitar pukul 21.57 WIB.

“Hasil diagnosa dari rumah sakit pasien meninggal akibat cardiac arrest atau gagal jantung,” terang Kepala Dinas Kesehatan sekaligus Juru Bicara Posko Covid-19 Ketapang, Rustami, Selasa (14/4/2020).

Bacaan Lainnya

Pasien dirawat dan diisolasi di RSUD Agoesdjam Ketapang sejak Senin (6/4/2020) dan telah dilakukan pengambilan uji swab untuk memastikan apakah yang bersangkutan terpapar Covid-19 atau tidak.

“Sampel sudah dikirim Selasa (7/4/2020) dan hasilnya belum keluar. Karena statusnya PDP maka pemakaman sesuai prosedur penanganan yang ada,” katanya.

Sebelumnya, rumah sakit telah melakukan Rapid Test terhadap keluarga pasien. Hasilnya, semuanya dinyatakan non reaktif.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, NS satu di antara kerabat pasien, meminta agar masyarakat tidak menstigma pasien lantaran pasien meninggal karena gagal jantung sesuai dengan surat keterangan dari pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agoesdjam Ketapang.

“Surat keterangan kematian sudah keluar dan almarhum dinyatakan penyebab meninggalnya gagal jantung,” katanya.

Almarhum memang mengidap penyakit gondok beracun atau teroit selama delapan tahun belakangan, bahkan sejak tiga bulan terakhir sudah beristirahat total akibat sakit yang dideritanya.

“Almarhum tidak ada riwayat pergi ke daerah terpapar Covid-19, bahkan sejak tiga bulan terakhir hanya istirahat di rumah akibat sakit gondok tersebut. Hanya saja karena kondisi semakin parah dan ada sesak nafas kemudian almarhum dianjurkan Dokter Sony yang merupakan dokter biasa mengobati almarhum untuk dirujuk ke Agoesdjam dan pada Minggu (12/4/2020) sekitar pukul 21.15 almarhum meninggal dunia di rumah sakit,” terangnya.

Beberapa hari sebelum meninggal, pihak keluarga sempat dipanggil dokter ahli jantung bahwa hal terburuk yang mungkin terjadi adalah gagal jantung akibat dari penyakit gondok beracun yang diderita.

“Hanya saja karena kondisi di negara kita sedang ada wabah seperti ini, kebetulan almarhum ada gejala sesak nafas kemudian pihak keluarga diminta mengikuti prosedur yang sudah ada termasuk pemakaman,” jelasnya.

Dia meminta masyarakat untuk tidak berpikir atau beropini sendiri mengingat almarhum memiliki riwayat sakit yang lain. Bahkan keluarga almarhum telah dilakukan Rapid Test yang hasilnya semuanya menunjukkan non reaktif atau negatif.

“Sedangkan untuk hasil tes swab almahum masih menunggu hasil dari laboratorium Jakarta yang sudah dikirim sehingga masyarakat jangan sampai menduga-duga atau beropini atas sesuatu yang belum diketahui,” harapnya. (fauzi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *