Danau Setengah Babi

ilustrasi pxhere.com.

Malam semakin larut. Udara di hutan belantara ini sungguh dingin. Demi Tuhan, juga demi seluruh arwah leluhur penunggu hutan belantara ini, aku tak bisa tidur. Aku tak kuat menahan gigil yang dikirim oleh embus angin malam yang sesekali menerpa begitu kencang. Itulah mengapa aku lebih senang duduk di dekat api unggun yang dibuat oleh Loweh, kawan baruku, sekaligus dewa penyelamat nyawaku. Nyala api yang meliuk-liuk itu sanggup menahan gempuran angin dan memberikan hawa hangat di sekujur tubuh. Aku ingin tidur di dekat api unggun itu tapi Loweh melarang. Ada banyak binatang yang punya sengat mematikan, katanya. Demi Tuhan, aku takut. Aku tak mau mati di sini dengan cara disengat kalajengking atau dipatuk ular kobra. Tapi, untuk pergi ke atas rumah pohon dan tidur di sana, dinginnya bukan main.

Sudah hampir dua pekan aku di sini, di jantung hutan belantara ini. Selama itu, aku hanya makan umbi-umbian dan minum air yang entah itu campuran dari cairan apa saja. Rasanya aneh. Kadang masam, kadang pahit, kadang baru beberapa teguk saja kepalaku sudah berat, seperti kehilangan kesadaran. Sudahlah. Aku tak punya pilihan lain. Tak ada apa-apa yang bisa dimakan dan diminum di tengah hutan belantara ini selain apa yang sehari-hari dimakan dan diminum oleh Loweh dan segenap koloni sukunya itu.

Bacaan Lainnya

“Sani… hei Sani… kau sedang apa? Ke sini, kita nyocok dulu Sani.”

Aku menoleh ke arah Loweh yang sedang menenggak minuman dari gelas yang terbuat dari ruas bambu yang diukir. Gelas itu cantik dan punya nilai seni tinggi, tapi isinya belum tentu enak.

Loweh melambai ke arahku. Dia duduk di depan api unggun juga, sekitar lima meter dari api yang berkobar. Loweh mengajakku nyocok. Nyocok itu artinya minum. Minum di sini sama sekali jauh dari apa yang aku bayangkan. Kemarin aku diajak nyocok darah ular. Kemarinnya lagi aku diajak nyocok tuak. Beberapa hari yang lalu aku dipaksa nyocok air yang rasanya sungguh pahit dan sangat tidak enak. Entah air apa itu. Kawan-kawan Loweh tertawa terbahak dan berbicara dengan bahasa yang tidak aku pahami. Di mataku, mereka sungguh kelihatan bodoh sekaligus menyebalkan.

Aku menghampiri Loweh. Loweh segera mengangsurkan gelasnya kepadaku.

“Air apa ini? Air kencing iblis lagi, ya?”

Loweh tergelak, “Hei… tidak Sani. Ini air akar pohon. Kau minum. Ini segar. Lama-lama duduk di dekat api, panas juga. Minum, Sani,” lanjut Loweh dengan bahasa Indonesia yang terdengar lucu.

Di hutan belantara ini, hanya Loweh yang paham sedikit-sedikit menggunakan bahasa Indonesia. Konon, dia pernah tersesat ke desa di luar hutan saat memburu anak babi yang berlari sangat kencang menuju tepian hutan di sebelah utara. Loweh tinggal di desa itu selama berbulan-bulan, sebelum pada akhirnya kepala suku dan beberapa orang kawan Loweh datang mencari. Hampir saja terjadi perang andai Loweh terlambat menjelaskan bahwa dialah yang bersalah, memburu anak babi sampai tersesat, dan orang-orang desa di tepi hutan belantara itu sudah sangat baik bersedia merawatnya seperti keluarga.

Aku tersenyum mendengar cerita Loweh ini. Jika pada umumnya orang desa yang tak sengaja masuk hutan, tak menemukan jalan pulang, maka mereka menyebut diri sedang tersesat di hutan. Nah, orang-orang yang tinggal di hutan belantara seperti Loweh ini, akan menyebut diri mereka tersesat saat mereka masuk ke desa-desa tanpa disengaja. Ini sungguh lucu, batinku.

“Kalau air ini rasanya tidak enak, akan kubakar dengan gelas-gelasnya,” ancamku pada Loweh. Dia tergelak lagi. Kuseruput sedikit air di dalam gelas di tanganku. Rasanya sejuk dan sedikit manis. Bukan, bukan manis dari gula. Ini seperti manis sari bunga atau manis dari buah-buahan yang diperas dan diambil ekstraknya. Rasanya enak. Aku suka. Selama hampir dua pekan di sini, mungkin inilah minuman terenak yang pernah aku teguk.

Loweh tertawa dan menepuk pundakku, “Hei Sani, enak kan?”

Aku mengangguk. Kuteguk sampai tandas. Loweh tertawa lagi. Dia bilang, besok dia akan mencarikanku air akar pohon itu lagi sebab aku suka meminumnya. Ah, Loweh sungguh baik hati.

“Hei Sani, kau tahu tidak? Tak jauh dari sini, ada danau bagus. Danau yang sakti airnya. Kepala suku kami menyebutnya ‘Danau Setengah Babi’.” Kata Loweh sambil melemparkan beberapa potong dahan kering ke nyala unggun yang sudah mulai redup.

“Danau Setengah Babi?” ulangku dengan intonasi bertanya. Sungguh, nama danau itu aneh sekali.

“Betul, Sani. Dulunya danau itu adalah danau biasa, danau yang menjadi batas wilayah antarsuku di hutan ini. Kau tahu, Sani? Di hutan ini ada tiga suku besar yang hidup dan bisa berperang kapan saja. Dulunya, kami adalah suku paling lemah dan selalu kalah dalam perang. Kepala suku lalu memberi mantra pada danau itu, Sani. Kami disuruh minum airnya. Hei, Sani… kau tahu? Kami berubah bentuk menjadi manusia setengah babi. Tenaga kami seperti babi hutan yang tak pernah takut maju untuk menggempur lawan. Ketika terjadi perang, kami seperti kerasukan arwah ribuan babi. Suku-suku yang berperang melawan kami, semua kami kalahkan dan beberapa kami bunuh. Kami jadi penguasa baru di hutan belantara ini.”

“Oh…”

Iya, aku cuma ber ‘oh…’ saja. Danau itu, selain punya nama aneh, ternyata juga punya riwayat yang menyeramkan. Aku bergidik.

“Apa… apa kekuatan mantra itu masih ada sampai sekarang?”

Loweh mengangguk, “Masih, Sani. Itulah mengapa kami tidak kasih izin orang-orang mendekat ke danau itu. Tak ada yang tahu tentang mantra di air danau itu selain orang-orang suku kami saja. Kami takut kalau suku lain tahu, mereka akan meminum airnya dan punya kekuatan yang sama dengan kami. Itu bahaya, Sani.”

Aku tak menyahut. Aku hanya mendengarkan lanjutan cerita Loweh saja. Loweh bilang, wujud manusia setengah babi itu akan hilang setelah malam kedua belas bulan purnama. Jika belum sampai malam kedua belas, siapa saja yang meminum air itu tetap merupa sebagai manusia setengah babi. Aku bergidik lagi.

“Besok akan kuajak kau ke sana, Sani.”

“Lho… eh…”

“Jangan takut, Sani. Sekarang, mari kita tidur.”

***

Aku terbangun dengan denyut di kepala. Kepalaku sungguh terasa pusing pagi ini. Di bawah sana, anak-anak sudah berlatih melempar tombak dan belajar membuat jerat untuk menangkap binatang buas. Aku tak punya selera untuk turun dan bergabung bersama mereka. Aku teringat akan mimpiku semalam. Anak dan istriku datang menjengukku di dalam mimpi. Mereka bilang mereka rindu kepadaku. Lalu peristiwa mengerikan itu mampir lagi di dalam mimpiku semalam. Peristiwa yang membuat aku terpenjara di sini, di hutan belantara ini.

Aku adalah salah satu manager muda yang ditugaskan untuk mengontrol dan mengawasi cabang perusahaan baru di luar kota. Kali ini perusahaan tempatku bekerja buka cabang di Pulau Borneo dan aku yang diutus.

Pesawat kecil yang aku tumpangi, yang berisi delapan orang rekan kerjaku dan pilot, jatuh di tengah hutan. Sebelum sampai ke tanah, masih bisa aku saksikan badan pesawat menghantam pohon-pohon raksasa. Lalu pesawat kecil itu terhempas dan seketika aku kehilangan kesadaran.

Adalah sebuah keajaiban jika pada akhirnya aku masih hidup. Ketika aku membuka mata, aku dikelilingi oleh manusia-manusia yang tidak memakai baju, berkalung akar-akaran pohon, berkulit hitam mengilat, dan berbau anyir seperti bau darah. Salah seorang menepuk pipiku dan perlahan-lahan mendudukkanku.

“Hei… sudah sadar, kau. Kau jangan marah. Kita cuma bisa selamatkan kau. Yang lain mati terbakar. Pesawatmu meledak.”

Seketika aku teringat tentang pesawat yang jatuh dan menghantam pohon-pohon raksasa sebelum akhirnya berdebum, bergoncang dengan dahsyatnya dan aku kehilangan kesadaran.

“Hei Sani, turun. Kepala suku minta kita semua ke panggung titah. Cepatlah, Sani.”

Lamunanku tentang pesawat dan rekan kerjaku seketika buyar. Kepala suku minta mereka, dan juga aku tentunya, berkumpul di panggung titah. Panggung titah itu semacam tempat pertemuan yang biasa dipakai kalau kepala suku hendak memberikan perintah dan semacamnya. Kata Loweh, ritual pemujaan kepada leluhur juga dilaksanakan di sini.

Kepala suku minta supaya mereka, sepertinya termasuk aku juga, untuk berburu babi. Padi di gunung sana sudah masak. Sebentar lagi akan datang masa panen. Adat di suku ini, kata Loweh, jika akan memanen padi, mereka mesti membuat persembahan terlebih dahulu kepada leluhur. Persembahan itu harus babi yang dipanggang utuh, tidak boleh diganti dengan binatang lain. Itu supaya jangan sampai leluhur marah.

Pernah, dahulu kala, tak ada babi yang tertangkap. Mereka hanya berhasil menangkap seekor kijang yang gemuk. Kijang itulah yang mereka jadikan persembahan untuk leluhur. Rupanya leluhur tidak suka dan marah. Ajaib, panen padi gagal. Padi-padi yang mereka tanam di punggung-punggung gunung luluh lantak terbawa longsor. Mereka bersedih. Tak ada padi, berarti mereka harus makan umbi-umbian sedikit lebih lama, sampai masa panen berikutnya.

“Itulah Sani, kami harus tangkap babi. Untuk leluhur, Sani,” Loweh menutup ceritanya.

Aku mengangguk-angguk dan mulai memahami cara bertahan hidup suku ini. Masa panen padi yang terjadi selama empat sampai lima bulan sekali itu sungguh lama rasanya. Jika mereka gagal panen, mereka harus menunggu empat sampai lima bulan lagi untuk makan nasi dan selama menunggu itu, mereka harus sabar bertahan hidup hanya dengan makan umbi-umbian saja.

Aku naik lagi ke rumah pohon. Kepalaku masih berdenyut. Aku ingin merebahkan tubuhku dan tidur barang sejenak. Mungkin semalam aku kurang tidur sehingga kepalaku berdenyut seperti ini.

“Hei Sani, turunlah. Ayo ke Danau Setengah Babi. Supaya kau tahu. Ayo, Sani!”

Aku menggerutu dalam hati. Aku ingin tidur, tapi tidak enak menolak ajakan Loweh. Bagaimana pun, dia sudah baik dan berjasa kepadaku.

Sepanjang jalan menuju Danau Setengah Babi, Loweh mengajakku bercakap-cakap. Soal kesediaanku ikut berburu babi, ikut menyuguhkan babi panggang sebagai persembahan kepada leluhur, juga kemungkinan aku tinggal selamanya di sini.

Kukatakan kepada Loweh, perihal berburu babi dan ikut ritual memberi persembahan kepada leluhur, aku akan mengabulkannya. Namun, perkara aku harus tinggal di sini selamanya, jelas tidak bisa. Aku punya keluarga di kota . Aku harus pulang suatu saat nanti.

Loweh merangkul pundakku. Katanya, kelak dia akan mengantarku ke desa, di sebelah utara, desa tempatnya tersesat dulu. Kemungkinan orang-orang di desa itu tahu jalan menuju kota, begitu kata Loweh dan kedengarannya memang sangat masuk akal. Nah, lihatlah, betapa baiknya kawanku ini.

Tak terasa, kami sudah sampai ke danau. Demi arwah leluhur yang mendiami seluruh penjuru hutan belantara ini, yang ada depanku ini sungguh cantik. Cantik sekali. Mahaluas. Airnya jernih dan memantulkan warna biru langit yang sedang cerah. Permukaannya terlihat tenang. Sesekali ada riak kecil akibat sentuhan kaki-kaki capung yang terbang di atasnya. Atau sebab ada selembar daun kering yang jatuh melayang ke tengah permukaan danau.

“Loweh, ini indah sekali. Kenapa tak kau bawa aku ke sini sejak dulu? Ah, kau ini…”

“Hei Sani, mandilah. Mandilah sepuasmu, Sani.”

Aku menggeleng. Aku bilang, aku tidak akan mandi di danau ini. Aku hanya akan menikmati keindahannya saja. Aku sama sekali tidak ingin mandi apalagi minum airnya. Ah, siapa yang sudi wujudnya berubah jadi manusia setengah babi? Aku menggeleng sekali lagi.

“Airnya segar, Sani. Rasanya manis. Bukan Sani, bukan manis gula. Tapi seperti manis sari bunga. Atau… ah, iya… seperti manis buah-buahan yang diambil sari patinya.”

Aku terkesiap. Penjelasan Loweh soal air ini sama persis dengan apa yang aku bayangkan semalam, saat meminum air akar pohon yang diberikan oleh Loweh di depan api unggun.

“Loweh, apakah…”

“Benar, Sani. Air dari danau inilah yang kau minum semalam. Dan lihat, kau tak berubah jadi apa-apa. Artinya kau tidak mempan dengan mantra kepala suku kami, Sani.”

Aku mengangguk-angguk. Di dalam lubuk hatiku, aku masih merasa takut dan khawatir. Namun, penjelasan Loweh sungguh semakin membuatku ingin menceburkan diri ke danau ini. Tiba-tiba aku ingin minum air danau ini sebanyak-banyaknya.

“Mandilah. Minum air danau itu sebanyak-banyaknya, Sani. Tak akan apa-apa.”

Sekali lagi Loweh meyakinkanku dan aku percaya kalau Loweh tidak akan membohongiku. Toh selama ini Loweh baik kepadaku.

Aku melepas baju dan segera menceburkan diri ke dalam danau itu. Sungguh, danau ini segar sekali. Aku berkecipak, berenang seperti anak kecil yang begitu bahagia mandi di sungai. Loweh duduk di akar pohon, tak jauh dariku berenang.

“Minumlah, Sani. Minumlah. Sebanyak-banyaknya. Kau akan suka dengan rasa airnya.”

Aku menyelam sambil menelan seteguk air danau lalu muncul lagi ke permukaan. Loweh benar. Air danau ini sama seperti air yang aku minum semalam. Rasanya segar dan agak manis. Aku suka, sungguh-sungguh suka. Aku menyelam lagi dan minum sebanyak yang aku bisa. Badanku jadi berasa sedikit punya tenaga. Selama di sini, aku minum air yang tidak jelas itu air apa. Hari ini, aku disuguhi air yang segar dan nikmat di danau ini. Apakah ada alasan aku harus menolaknya? Ah, tentu tidak. Maka, setiap kali aku menyelam, aku selalu menelan beberapa teguk air danau ini, danau yang dinamai oleh kepala suku dengan sebutan ‘Danau Setengah Babi’.

Memikirkan kata ‘babi’, seketika aku teringat perintah kepala suku untuk berburu babi dan kewajiban menyerahkan sesembahan kepada leluhur berupa daging babi panggang yang utuh. Dadaku seketika bergemuruh dan darahku berdesir. Astaga… bagaimana jika… jika…

Aku melompat naik ke tepi danau. Loweh tertawa terbahak-bahak. Ada apa rupanya? Aku sungguh merasa heran.

“Hei Sani, berkacalah. Berkacalah di permukaan danau itu. Berkacalah!”

Perasaanku sudah tidak enak. Aku bergegas berdiri di tepi danau yang airnya sudah kembali tenang. Di sana, di pantulan permukaan air danau yang jernih itu, kudapati sesosok mahkluk yang menjijikkan. Makhluk itu berbulu tebal, bertelinga lancip, berhidung besar dengan dua lobang yang tak kalah besar juga, dan di moncong mahkluk itu ada dua taring yang menyeramkan. Itu babi. Iya, itu babi hutan!

“Loweh… bangsat kau!” makiku. Tapi aku tak mendengar suaraku sendiri. Yang keluar dari mulutku justru suara yang menyeramkan sekaligus menjijikkan; “Ngorrrkkkk… nggoooorrrkkkk…”

“Air Danau Setengah Babi itu akan bekerja mantranya jika diminum tujuh teguk, Sani. Dan kau sudah minum lebih dari itu. Aduh Sani, terima kasih sudah membantu kami. Kami tidak perlu repot-repot berburu babi lagi untuk persembahan menyambut musim panen nanti. Aduh Sani, kau baik sekali.”

Aku murka semurka-murkanya. Aku sudah akan maju untuk menerkam Loweh dengan kekuatan baru yang aku punya. Loweh keparat itu malah tertawa terbahak-bahak. Aku kian murka. Amarahku sudah tak dapat kutahan.

Aku melompat dan siap untuk menerkam Loweh. Namun, gerakanku terhenti oleh sebatang tombak yang tancap tepat di dada sebelah kiriku. Rupanya, anak-anak suku yang tadi pagi berlatih melempar tombak itu sudah ramai-ramai berlari menyerangku. Mereka muncul dari belakang Loweh. Sesuatu yang tidak aku duga-duga sebelumnya. Loweh sendiri kian terbahak-bahak melihat aku tersungkur dengan tombak di dada. Bangsat betul.

Dengan mata yang mulai berkunang-kunang, kulihat seorang anak berlari dengan mandau terhunus. Oh, itu mandau milik kepala suku yang biasa dibawanya saat berbicara di panggung titah. Keparat. Benar-benar keparat.

Aku ingin teriak minta ampun saat anak itu sudah akan membabatkan mandaunya ke leherku. Namun, sekali lagi, yang keluar dari mulutku bukanlah suaraku, melainkan suara babi hutan yang menjijikkan itu.

“Ngooooorrrrrrrkkkkk…” ucapku meminta ampun. Tapi terlambat. Mandau itu sudah terayun dan meluncur dengan derasnya menuju leherku.

“Hei Sani, turunlah. Ayo ke Danau Setengah Babi. Supaya kau tahu. Ayo, Sani!”

Aku tersentak. Terbangun dengan napas terengah-engah. Kepalaku masih berdenyut. Perlahan-lahan, kesadaranku pulih. Aku segera mengucapkan segala puja dan puji bagi Tuhanku yang Mahabaik bahwa yang barusan itu hanya mimpi belaka.

“Hei Sani, ayolah. Jangan tidur saja. Kita ke danau. Nanti kuajari kau berburu babi untuk persembahan. Kuajari juga kau cara melempar tombak dengan benar. Sani, ayolah!”

Mendengar ajakan Loweh kali ini, aku justru merasakan takut yang sangat. Kukatakan pada Loweh kalau kepalaku terasa berdenyut dan sangat berat. Aku ingin tidur dulu barang sebentar. Loweh mengabulkan permintaanku. Tidak, kali ini aku tidak merasa ini sebagai sebuah kebaikan. Logikaku mengatakan, semua ini hanya tinggal menunggu waktu saja. Dan danau itu… oh, Tuhan. Aku tidak akan pernah sudi mengunjunginya. Tidak akan.

Diam-diam aku turun dari rumah pohon, menyelinap, mengendap-endap, dan berusaha menjauhi koloni. Aku berlari sekuat tenaga. Di dalam pikiranku, aku harus menemukan arah utara dan menemukan desa tempat Loweh tersesat dulu. Itu yang harus aku lakukan sekarang.

Sebentar! Sebelah utara? Desa? Tersesat? Hei… siapa yang bisa menjamin kalau cerita Loweh itu benar? Bisa saja dia cuma mengarang saja. Ah, keparat betul.

Aku berlari dengan sangat kencang dan sesekali menoleh ke belakang, hanya untuk memastikan tak ada yang mengikutiku. Ketika aku hendak menambah kecepatan berlariku, aku dikejutkan oleh tombak jatuh dan tertancap persis di depanku. Sontak aku menghentikan lari.

“Mau ke mana, Sani?”

“Oh, kepala suku! Kepala suku bisa berbahasa Indonesia juga? Tuhan!”

“Malam persembahan kepada leluhur tinggal lima hari lagi. Kau tidak boleh pergi!”

“Tapi… tapi…” belum selesai ucapanku, Loweh dan beberapa laki-laki dewasa muncul. Tidak, mereka bukan manusia yang utuh lagi. Bahkan, mulut Loweh sudah berubah jadi moncong babi dengan taring-taring yang tajam dan mengerikan. Liur menetes dari moncong itu dan demi Tuhan, itu terlihat sungguh menjijikkan.

“Ngooorrrkkkk… ngooooorrrrrkkkkk…” Loweh mengulurkan gelas dari ruas bambu, kali ini agak panjang, berisi air yang kira-kira jika diminum, itu akan lebih dari tujuh teguk. Loweh menjambak rambutku dan memaksaku untuk meminum air itu. Aku meronta dan mengatupkan mulutku rapat-rapat. Perbuatanku itu rupanya membuat murka babi-babi yang lain. Perutku dihantam dengan ujung tombak. Seketika aku terbatuk dan menahan sakit yang sangat. Mau tidak mau, pada akhirnya kuminum juga air itu. Rasanya segar dan agak manis. Bedebah. Ini pasti air dari Danau Setengah Babi. Loweh keparat!

Aku ditangkap oleh sekawanan manusia setengah babi. Suara babi hutan yang menjijikkan berhamburan dari moncong-moncong mereka. Suara-suara menjijikkan itu kian terdengar riuh saat perlahan-lahan tubuhku dipenuhi dengan bulu-bulu. Kurasakan ada yang tumbuh di telingaku, di hidungku, di mulutku juga. Suaraku parau. Aku berteriak sekencang-kencangnya, memohon supaya dilepaskan. Namun, yang keluar dari mulutku justru suara-suara yang sangat aku benci; ngoooorrrrrkkk… ngoooooorrrrrkkkk…

Aku pasrah sudah. Di dalam perjalanan menuju panggung titah, aku hanya berdoa kepada Tuhanku, semoga ketakutanku kali ini hanya sebuah mimpi seperti tadi.***

Maret 2020

 

Penulis:

Khozin Arwani, menulis sajak dan cerita pendek. Selain itu juga bekerja sebagai ilustrator di sebuah penerbitan di Kota Pontianak. Sehari-hari bergiat secara aktif di Forum Penulis Barat Borneo sebagai Kepala Divisi Publikasi dan Dokumentasi. Dapat dihubungi di akun Instagram @nyucih_gelash.

Kakanda Redi, lahir di Jembrana, Bali, 13 Maret 1985. Menulis cerita pendek dan sajak. Tulisan-tulisannya ditayangkan di beberapa surat kabar dan majalah seperti Harian Suara Pemred Kalbar, Pontianak Post, Harian Equator, Tabloid Nova, Radar Banyuwangi, dll. Menghadiri Temu Penyair Asia Tenggara di Kota Padang Panjang pada bulan Mei 2018. Bergiat secara aktif di Forum Penulis Barat Borneo sebagai Ketua Umum. Saat ini berdomisili di Mempawah, Kalimantan Barat.

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *