Ketimbang PSBB, Apindo Dorong Pemkot Pontianak Terapkan Protokol Kesehatan Ketat

Ketua Apindo Kalbar, Andreas Acui Simanjaya.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalbar, Andreas Acui Simanjaya berharap Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jadi opsi terakhir yang diambil Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak menghadapi pendemi virus Corona atau Covid-19. Sebab kemungkinan gagal dalam hasil sangat besar jika keputusan tersebut diambil. Pilihan menerapkan protokol kesehatan ketat, jauh lebih masuk akal.

“Menurut saya PSBB sebaiknya menjadi opsi terakhir karena kemungkinan gagalnya besar, contohnya DKI yang gagal mencapai hasil yang diinginkan melalui PSBB,” katanya kepada insidepontianak.com, Minggu (19/4/2020).

Bacaan Lainnya

Jika dilakukannya PSBB, harus ada indikator jelas, berapa minimal tambahan pasien positif selama masa penerapan. Bukan tidak mungkin malah PSBB akan diperpanjang.

Kondisi tersebut akan berdampak terhadap aktivitas masyarakat, dan kerentanan atau keterpurukan ekonomi yang semakin meningkat.

“Sekarang saja sudah mencapai 30 persen orang kehilangan penghasilan, artinya belanja kebutuhan dan sebaliknya juga pasti menurun volumenya,” ujarnya.

Apalagi bila menerapkan PSBB, semakin banyak masyarakat yang kehilangan penghasilan, dan bisa menjadi 60 persen.

“Kalau PSBB diterapkan dipastikan akan banyak warga yang semakin sengsara, dan akan jadi beban besar bagi pemerintah,” ungkapnya.

Untuk itulah, dia mendorong agar pemerintah cukup menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin.

“Contoh warga ke tempat umum tak pakai masker didenda dan tipiring,” jelasnya.

Selain itu, tempat usaha yang tidak menyediakan fasilitas cuci tangan dan tidak menerapkan pengaturan jarak juga diberikan sanksi. Hal lain yang dapat dilakukan adalah menghindari berkumpul orang dalam jumlah banyak, dan peningkatan sanitasi lingkungan secara intensif di tingkat RT.

“Artinya bantu teknis dan metode sosialisasi pada pengurus RT untuk diteruskan pada warga mengenai protokol kesehatan,” tuturnya.

Dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, maka aktivitas masyarakat tetap bisa berjalan, meski dengan pengamanan diri sendiri atau individu yang ketat. Bagaimana pun juga pandemi virus Corona bisa diatasi jika masing-masing individu disiplin menjaga kesehatan diri dan keluarganya.

“Kita ini sekarang ibaratnya pelari maraton, harus pandai mengatur napas dan semangat agar bisa tetap bertahan sampai pandemi virus Corona ini berakhir. Kita pun tidak bisa melakukan tidur panjang atau hibernasi seperti beruang dan kodok dalam menghadapi kondisi kurang menguntungkan seperti saat ini,” terangnya.

Berdasarkan analisa World Health Organization (WHO) puncak pandemi Covid-19 di Indonesia terjadi sekitar tanggal 21 Mei 2020. Artinya, setelah itu kasus pasien positif Corona perlahan-lahan akan menurun.

“Sehingga prediksi saya, kita akan selesai berurusan dengan pandemi virus Corona pada Juli 2020,” tuturnya.

Setelah itu, perlu waktu penyesuaian diri memulihkan segala aktivitas masyarakat termasuk ekonomi sampai akhir tahun 2020.

“Artinya semua aktivitas akan berjalan normal pada Januari 2021, dengan catatan tidak muncul lagi gelombang pandemi ke II atau ke III seperti yang gejalanya mulai muncul di beberapa negara,” paparnya.

Dia pun mengimbau masyarakat tetap menjaga kesehatan diri dan lingkungan.

“Saya doakan semoga semua masyarakat Kalbar selalu sehat dan bahagia,” pungkasnya. (andi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *