Terpisah dari Ibunya, Batis Diselamatkan Warga Sebelum Dibawa BKSDA

SELAMATKAN - Petugas BKSDA Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang menyelamatkan satu individu bayi orangutan peliharaan warga di Dusun Sabang Keramat, Desa Batu Lapis, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang, Jumat (17/4/2020). (BKSDA)

KETAPANG, insidepontianak.com –  Bumeng menemukan Batis tiga bulan lalu di tepi hutan. Bayi orangutan itu meringkuk sendirian. Ibunya entah ke mana.  Dia sempat berusaha mempertemukan bayi orangutan tersebut dengan induknya. Namun setelah menunggu berjam-jam di hutan, sang induk tak kunjung datang.

“Bumeng berinsiatif membawanya pulang untuk dipelihara,” kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta, Selasa (21/4/2020).

Bacaan Lainnya

Nama Batis merupakan pemberian Bumeng. Bayi orangutan tersebut dipelihara dalam kandang  kecil, berukuran 80x80x50cm.

“Orangutan ini diberi makan nasi putih, pisang, pepaya, tebu dan diberi minum kopi dan air putih. Tidak pernah dikeluarkan dari kandang. Makan dan minum diberi di kandang saja,” katanya.

Meski berniat memelihara bayi orangutan dengan alasan ingin menyelamatkannya karena telantar, upaya ini tetap tak boleh dilakukan.

“Pemeliharaan ilegal yang tidak memperhatikan kebersihan dan kesejahteraan satwa ini turut menyumbang potensi munculnya penyakit,” ucapnya.

BKSDA Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama IAR Indonesia pun menyelamatkannya kembali dari rumah Bumeng di Dusun Sabang Keramat, Desa Batu Lapis, Kecamatan Hulu Sungai, Ketapang, Jumat (17/4/2020).

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara oleh dokter hewan IAR Indonesia di lapangan, kondisi kesehatan orangutan berusia lebih dari 6 bulan tersebut terlihat cukup baik. Tidak tampak kelainan maupun gejala dehidrasi. Namun, untuk memastikan kondisinya, tetap harus pemeriksaan lanjutan.

“Saat ini, bayi orangutan itu sudah berada di kandang karantina di Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan IAR Indonesia di Desa Sungai Awan, Kabupaten Ketapang untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut,” terangnya.

Karantina tersebut akan dilakukan selama delapan minggu. Pemeriksaan lebih mendalam juga akan dilakukan beberapa kali selama masa karantina. Gunanya, memastikan apakah Batis membawa penyakit atau tidak, yang bisa menular ke manusia ataupun orangutan lain di pusat rehabilitasi.

“Pemeliharaan satwa liar oleh warga seperti ini, memang seharusnya tidak lagi terjadi,” pesannya.

Pemeliharaan satwa secara ilegal, bisa  mengancam kelestarian satwa liar. Selain itu, pemeliharaan satwa yang tidak dilakukan dengan benar, juga berisiko membahayakan manusia dengan penyakit yang mungkin dibawa oleh satwa liar itu.

Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L Sanchez menegaskan, satwa liar tidak boleh dipelihara oleh warga. Satwa liar termasuk orangutan harus dibebasliarkan hidup di hutan.

“Sudah saatnya, kita semua menghentikan pemeliharaan satwa liar. Baik orangutan maupun satwa lainnya. Satwa liar seharusnya tetap tinggal di hutan,” ucapnya.

Kepada warga yang menemukan atau melihat orangutan dan satwa liar lainnya di tempat yang tidak semestinya, diminta segera melaporkannya ke pihak berwajib..

“Kita tidak pernah tahu virus, bakteri, atau penyakit apa yang bisa dibawa oleh satwa liar dan ditularkan ke manusia,” ujarnya.

Namun, jika warga tidak mau bekerja sama menyerahkan orangutan, maka diperlukan penegakan hukum. Sebab, pemeliharaan satwa secara ilegal, bukan lagi sekadar isu konservasi spesies atau kesejahteraan satwa, melainkan isu kesehatan manusia secara global. (abdul)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *