Kosmetik dan Dampak Pendemi Covid-19

ilustrasi Dea Dewi P.

Saya merasa senang sekali setelah melewati hari pertama merasakan krim untuk wajah buatan Korea. Ada sebuah optimisme dari efek penggunaan krim wajah tersebut; wajah lebih cerah, awet muda, dan rasa percaya diri yang maksimal.

Beberapa hari sebelumnya, saya mengeluh kepada seorang teman perempuan dan meminta saran tentang perawatan wajah, setelah merasa tidak nyaman melihat wajah sendiri di cermin. Ia menyarankan satu produk wajah buatan Korea yang katanya, ampuh membuat kulit wajah bening kembali. Saran tersebut saya terima dan ikuti.

Bacaan Lainnya

Bagi kaum hawa, urusan tetek bengek semacam ini mungkin lumrah. Namun bagi kaum adam, saya rasa tidak umum. Entah karena sugesti atau memang efek dari krim tersebut, wajah saya terasa lebih ringan dan cerah.

“Awal yang bagus untuk memulai hari,” batin saya.

Dari pagi sampai siang, saya mengunjungi beberapa pelaku UMKM dampingan. Bekerja sebagai fasilitator di sebuah lembaga filantropi yang memiliki cabang di Kota Pontianak, membuat saya sulit melakukan Work From Home (WFH) di masa pandemi Covid-19 ini. Monitoring lapangan adalah kewajiban.

Kunjungan pertama adalah rumah Pakde. Seorang tukang pangkas rambut di Desa Mega Timur, Kubu Raya. Suasana desa yang rindang dan embusan angin yang mendayu, jadi penyempurna “ngopi pagi’ kami berdua. Pagi itu, belum ada pengunjung yang datang untuk gunting rambut, jadi kami bebas bicara.

“Gimana nih Pakde, banyak ndak yang datang gunting rambut?” tanyaku. Beliau menjawab, “Wah, sepi ini. Biasanya rame, sekarang cuma dua atau tiga (orang yang gunting rambut) sehari, kadang juga ndak ada. Saya juga milih-milih yang mau digunting, Bang. Yang batuk, saya nda mau gunting. Saya bilang jak lagi tutup (tempat potong rambut).”

Lalu kami berdua tertawa, seolah sepakat bahwa itu bahan lelucon.

Pakde mungkin masih bisa tertawa, walau sebenarnya tawanya hanyalah obat pikiran yang kacau karena sumber penghasilan yang tak bisa diharap. Sebenarnya, Pakde masih punya kebun sayur yang saat ini ditanami okra, namun karena sempat ditinggal pulang ke Jawa selama satu bulan, tanaman okranya tidak bisa dipanen dengan hasil maksimal.

Namun seperti kucing yang memiliki nyawa sembilan, Pakde masih bisa menutupi kebutuhan keluarganya dengan keahlian lain yaitu jadi terapis pengobatan alternatif.

Obrolan saya dan Pakde berakhir ketika seorang pelanggan datang. Pakde bergegas mempersilakannya dan saya pamit. Dari sana, saya mampir ke warung makan di Jalan Tanjung Sari, Pontianak. Pemilik warungnya adalah Bibik. Dia juga warga dampingan saya.

“Bik, ngape melamun jak?” goda saya kepada Bibik, membuka percakapan. Beberapa minggu ini, Bibik tampak tak semangat seperti sebelum-sebelumnya. Lebih tepatnya semenjak imbauan Gubernur untuk siswa sekolah dari tingkat PAUD sampai SMA belajar di rumah diterapkan. Diikuti kebijakan birokrat kampus di Pontianak untuk menghentikan sementara aktivitas belajar-mengajar di kampus sebagai upaya menghentikan penyebaran virus Covid-19.

Omzet yang diterima Bibik per hari menurun tajam. Karena mayoritas pelanggan warungnya adalah mahasiswa yang indekos di sekitar Jalan Tanjung Sari. Semenjak kebijakan kampus menerapkan kebijakan belajar-mengajar melalui daring dan pemberlakuan menjaga jarak semakin diperketat, banyak mahasiswa memilih pulang kampung.

“Saye sering pusing nih, tengkok rasenye berat. Kenape ye?” keluhnya mengenai kondisi kesehatnnya.

“Oh, mungkin kolesterol Bibik lagi tinggi tuh. Minum obat, Bik. Tapi sebelum itu cek dulu ke Puskesmas,” analisa dan saran sederhana saya ke Bibik.

Dengan cepat Bibik menjawab, “Bukan, ini pusing tak ade duit di kantong.” Saya dan Bibik kompak tertawa. Sama halnya seperti percakaan saya dengan Pakde sebelumnya, tawa lepas dari Bibik hanyalah relaksasi sesaat dari kegalaunnya mengenai ketidakpastian di depan mata.

Tak sama seperti Pakde yang memiliki cara lain memenuhi kebutuhan keluarganya, Bibik hanya punya harapan pada usaha warung makannya. Dengan omzet yang turun drastis, tentu Bibik berpikir keras untuk membayar uang sewa warungnya, dan biaya kebutuhan anak yang masih sekolah. Ditambah, Bibik orang tua tunggal untuk anak-anaknya.

Melihat Pakde dan Bibik tertawa, saya merasa diperlihatkan pada pertunjukan satir mengenai kehidupan yang getir. Terlebih jika saya bandingkan dengan diri saya sendiri. Rasa senang saya setelah merasakan krim kulit, tentunya berbanding terbalik dengan keresahan yang dialami Pakde dan Bibik.

Tawa satir Pakde dan Bibik menampar saya. Saya jadi teringat mengenai kisah seorang aktivis tahun 60-an yaitu Soe Hok Gie, yang menegur dan mengungkapkan rasa kekecewaan kepada teman-temannya yang dulu sama-sama berjuang dan kritis kepada pemerintah, namun ketika jadi anggota dewan di Senayan, seolah memilih jalur kompromistis dengan mengirimkan paket berupa lipstik, bedak, dan kutang.

Cerita satir paket kosmetik Hok Gie dan tawa yang dilemparkan Pakde dan Bibik, menurut saya memiliki kesamaan. Dalam tetek bengek hal yang sangat kita perhatian, ternyata ada yang perlu dikritisi.

Saya ingin mengutip kata-kata yang ditulis Hok Gie dalam bukunya Catatan Seorang Demonstran: “Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan, dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan. Tanpa itu semua, maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu, maka absurdlah hidup kita.”

Tuhan, jangan hilangkan cinta dari hati kami. Tanpa itu kami tak tahu bagaimana merasakan simpati dan empati.

Penulis

Diego Rumania, fasilitator Rumah Zakat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *