banner 468x60 banner 468x60

PAP

  • Bagikan
ilustrasi via p4.wallpaperbetter.com.

Gina buru-buru merapikan kain putih bermotif polkadot yang dibentangkan menutup cat tembok kamarnya yang pudar. Diceknya apakah sudah simetris atau belum. Dia harus memastikan latarnya rapi. Kipas angin tua di sampingnya berputar lambat, seperti laba-laba yang berjalan pincang karena cidera. Untung kipas itu tak mengeluarkan suara berderit, jadi tak mengganggu.

Lampu tidur digesernya hingga cahaya dirasa cukup. Saat bekerja, lampu itu diarahkan ke tubuhnya. Kemudian dia buru-buru mengganti sport bra yang dikenakannya dengan lingerie berwarna merah tua. Sudah hampir sebulan ini kamar kostnya bak studio mini.

Tapi tak seperti model pada umumnya, Gina hanya menjepret bagian dadanya, kadang video, tergantung permintaan. Kali ini ada yang meminta PAP + video setengah wajah, user memintanya menggunakan lipstick warna merah tua, sesuai dengan warna lingerie yang diinginkannya.

Uang muka harus dibayar sebelum gambar dikirim. User membayar 50.000 untuk mendapatkan tiga gambar darinya. 150.000 untuk gambar dan video dengan durasi satu menit. Sebisa mungkin Gina memberi servis terbaik. Semakin bagus testi yang ditinggalkan, semakin bagus trust dari konsumen.

Kedai kopi tempatnya bekerja paruh waktu harus tutup karena sepi pengunjung, kedai itu berada di wilayah zona merah. Teman-teman di kostnya satu per satu pulang. Mereka juga mengalami nasib yang sama, harus kembali ke kampung karena sumber uang telah kering. Bagi Gina—seorang mahasiswi rantau yang membiayai hidupnya sendiri— kondisi ini tak mudah.

Meminta uang pada orangtua sudah jadi pantang baginya. Di kampung ayah dan ibunya hanya penjual pentol kuah yang mangkal di depan sekolah. Sejak anak-anak libur, pendapatan mereka turun drastis, sementara harga sembako semakin naik. “Pulang saja Nduk, pinjam uang dulu sama kakakmu,” pinta ayahnya saat menelepon minggu lalu.

Sorry ya Gin. Aku juga gak pegang uang nih. Asman masih karantina di kantor, baru balik dari lapangan,” suara Mirna sangat berat saat menerima telepon darinya. Dia mencoba maklum, kakaknya hanya seorang istri yang seharian waktunya habis di rumah. Mengurus anaknya yang baru berusia delapan bulan dan menyiapkan kebutuhan suaminya.

Kalau anaknya tak rewel, dia lebih senang menggunakan waktu luangnya untuk berkumpul di halaman rumah Bu Minten, tetangga sebelah. Sekarang karena ada anjuran untuk menjaga jarak, mereka tak bisa kumpul-kumpul. Dia jadi sering menghabiskan waktu bermain Facebook, obrolan berlanjut di kolom komentar jika ada yang mengunggah sesuatu. Berniat meminjam uang pada orang yang tak menghasilkan uang sepertinya sangat kejam.

Sejak tak lagi menjadi pelayan di kedai kopi, Gina membuat akun anonim di media sosial. Dia mengenal beberapa teman kampusnya yang melakukan hal serupa untuk memenuhi gaya hidup. Tak seperti mereka, dia melakukan ini untuk bertahan hidup. Tiga hari ini dia melakukannya untuk membeli tiket pulang.

Sekarang uang tiket sudah lebih dari separuh dipegang. Sisa 75.000 lagi, besok dia bisa pulang ke kampung halaman. Hari ini hujan seharian, user agak ramai. Hari biasa paling banyak dia menerima tiga orderan PAP, kadang cuma satu.

Karena cuaca mendukung, banyak yang meminta video sehingga dia harus berkali-kali mengganti pakaian sesuai permintaan. Setelah mengirim PAP dan video setengah wajah, Gina segera memeriksa direct message yang tersisa. Ini adalah kotak masuk terakhir. Gina langsung melihat request dari user keenam.

“Order:PAP+Video. Request: Tampakin wajah ya Sayang, saya bayar dua kali lipat.”

Gina memperbesar foto profil calon pengguna jasanya. Seorang laki-laki ber-hoodie putih, berdiri dengan latar foto pantai.

“Asman” batinnya.

“Maaf, sudah close, Mas,” Gina membalas pendek.

“ L testi kamu bagus. Saya order untuk besok malam pukul 22.15 bisa?”

Gina hanya membacanya. Napasnya terasa berat entah karena udara di kamar kostnya yang pengap atau karena perasaannya jadi tak enak. Ruang itu jadi terasa semakin sempit hingga rasanya dia terhimpit. Rasa panas menjalar di sekitar matanya. Teringat kakaknya yang sedang menunggu suaminya. Laki-laki itu semoga tak lupa istri dan anaknya. Mood Gina langsung berantakan. Dia menutup layar ponselnya. Biarlah dia belum jadi pulang besok. ***

 

Penulis:

 

Claudia Liberani, relawan di @saomamasa.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: