Datuk Maringgih dan Nasionalisme

Potongan adegan di sinetron 'Sitti Nurbaya' yang tayang di TVRI tahun 1980-an.

Pada tahun 80-an, TVRI menyiarkan sebuah sinetron yang bertema kawin paksa di masa penjajahan kolonial Belanda. Sinertron itu diangkat dari roman dengan judul yang sama dengan judul sinetron tersebut, yaitu Sitti Nurbaya. Sinetron Sitti Nurbaya menjadi sangat terkenal dan digemari masyarakat Indonesia. Para pemainnya juga menjadi ikut terkenal di antaranya Sitti Nurbaya diperankan oleh Novia Kolopaking, Samsul Bahri diperankan oleh Gusti Randa, dan Datuk Meringgih diperankan oleh almarhum Him Damsik.

Roman Sitti Nurbaya ditulis oleh Marah Rusli tahun 1922 pada masa Angkatan 20 yang juga dikenal dengan nama Angkatan Balai Pustaka. Sebenarnya Balai Pustaka merupakan nama sebuah penerbit yang menerbitkan buku-buku berisi cerita rakyat, buku-buku terjemahan sastra Eropa, dan buku-buku yang dapat menambah pengetahuan. Nama ini kemudian dipakai kepada para sastrawan yang berkarya pada masa itu dan karya-karyanya banyak diterbitkan oleh penerbit tersebut.

Bacaan Lainnya

Pemahaman yang muncul pada masyarakat tentang tokoh utama dalam roman tersebut, yaitu Sitti Nurbaya dan Samsul Bahri adalah orang baik dan Datuk Meringgih adalah orang yang sangat jahat. Sitti Nurbaya dan Samsul Bahri merupakan tokoh protagonis yang mendapat simpati pembaca. Sebaliknya, Datuk Meringgih adalah tokoh antagonis yang tidak disukai pembaca karena menjadi dalang kematian Sitti Nurbaya. Dia juga telah memutuskan jalinan cinta antara Sitti Nurbaya dan Samsul Bahri dengan memaksa Sitti Nurbaya menjadi istrinya.

Roman ini dibuat pada masa penjajahan pemerintah kolonial Belanda di tanah air tercinta, Indonesia. Pada masa itu, sudah muncul berbagai aksi perjuangan terhadap penjajahan Belanda dan tentu saja pemerintah kolonial Belanda tidak berdiam diri. Balai Pustaka menjadi peranti pemerintah kolonial Belanda menjalankan politik etis untuk kepentingan pemerintah kolonial Belanda dalam memperluas dan memperkuat kekuasaannya di Indonesia. Pemerintah kolonial Belanda menyusupkan doktrin di dalam bahan-bahan bacaan tersebut tanpa disadari oleh masyarakat Indonesia dengan tujuan supaya doktrin tersebut meresap di dalam hati dan jiwa orang-orang Indonesia sehingga Belanda dapat menjajah Indonesia selama mungkin.

Sebenarnya, apabila kita cermati lagi tentang tokoh Samsul Bahri dan Datuk Meringgih muncul sesuatu yang menarik, yaitu Datuk Meringgih tidaklah seburuk yang diketahui masyarakat Indonesia. Ada satu hal yang membuatnya jauh lebih baik dan terhormat daripada Samsul Bahri, yaitu di dalam jiwanya berkobar semangat nasionalisme yang sama sekali tidak dimiliki Samsul Bahri dan, sejalan dengan pendapat Kohn (1965) menyatakan bahwa nasionalisme adalah paham atau doktrin yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu diserahkan kepada negara-bangsa. Aksi Datuk Meringgih yang mengobarkan semangat juang kaumnya untuk menentang dan melawan kolonial Belanda (yang memaksa mereka untuk membayar pajak belasting padahal kolonial Belanda sudah menarik pajak lainnya yang jumlahnya tidak sedikit) merupakan upayanya dalam membela masyarakat dan tanah Minang dari  penjajahan kolonial Belanda.

Datuk Meringgih menghimpun orang-orang Minang untuk membakar perkebunan milik Belanda. Tindakannya itu merupakan suatu protes terhadap Belanda yang menjajah dan menyengsarakan bangsanya. Tokoh Datuk Maringgih adalah seorang pejuang sama seperti penjuang-pejuang lainnya di seluruh tanah air yang melawan penjajah meski nyawanya menjadi taruhan. Hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat buruk serta ditakuti pemerintah kolonial Belanda karena mengancam kekuasaannya di Indonesia.

Datuk Meringgih digambarkan sebagai seorang pria pribumi yang bertubuh kurus, tinggi, pandai bersilat, seorang rentenir yang licik, jahat, penuh tipu daya, dan tidak pantas dipercaya, serta sering berbuat onar bahkan menjadi dalang kematian Sitti Nurbaya, merupakan karakter seorang pemimpin perjuangan rakyat melawan pemerintah kolonial Belanda yang sebenarnya merupakan pembuat onar. Gambaran tersebut merupakan doktrin yang ditanamkan pemerintah kolonial mengenai orang pribumi, bahwa orang-orang yang dianggap sebagai pejuang sekaligus pahlawan tersebut adalah orang-orang yang jahat dan berkarakter buruk. Sebaliknya orang-orang yang bekerja kepada pemerintah kolonial Belanda adalah orang yang baik seperti tokoh Samsul Bahri.

Di dalam roman Sitt i Nurbaya, tokoh Samsul Bahri menjadi tokoh protagonis, sosok pahlawan. Dia memimpin pasukannya untuk menumpas perjuangan rakyat melawan pemerintah kolonial Belanda. Namun, apabila kita lihat dari sudut teori Postkolonial, sebenarnya tokoh Samsul Bahri merupakan pengkhianat bangsa. Ia memimpin pasukannya menumpas para pejuang yang dipimpin Teuku Puteh di Aceh. Bahkan ia pun memimpin pasukannya menumpas para pejuang dari bangsanya sendiri di Padang yang dipimpin oleh Datuk Meringgih.

Sungguh sangat ironis doktrin tersebut sudah tertanam di benak orang-orang Indonesia dari generasi ke generasi. Mereka menganggap Samsul Bahri sebagai tokoh yang baik, sedangkan Datuk Meringgih sebagai tokoh yang jahat. Lebih miris lagi roman ini pernah menjadi materi pelajaran sastra di sekolah beserta doktrin tersebut.***

 

Penulis:

Dewi Juliastuty, peneliti Sastra di Balai Bahasa Kalimantan Barat.

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *