Sakit Gigi Beaumont dan Betapa Kita Ingin Dimengerti

Judul: Hari Ketika Beaumont Berkenalan Dengan Rasa Sakit Dalam Dirinya

Penulis: J. M. G. Le Clezio

Bacaan Lainnya

Penerbit: Trubadur

Penerjemah: Lutfi Mardiansyah

Cetakan pertama: Desember, 2019

Tebal: iv + 87 halaman

 

Lebih baik sakit gigi, dari pada sakit hati ini . . .

Itu adalah petikan lirik lagu dari Meggy Z yang populer, dan sering dibalik terutama ketika kita sedang terkena sakit gigi, menjadi “lebih baik sakit hati, dari pada sakit gigi”. Namun, bila waktunya sakit hati menerjang, ditinggal tanpa alasan, ditinggal ketika lagi sayang-sayangnya, lirik itu menjadi afdol.

Bagi saya, tidak ada sakit yang lebih menyakitkan atau sakit yang lebih tidak menyakitkan. Sakit itu sakit, dan akan terjadi pada mereka yang hidup. Yang membedakan hanya konteksnya dan cara menerima atau menyikapi atau mengelola rasa sakit itu. Anak yang berusia satu tahun, akan sakit hati bila mainannya direbut, dan ia menyikapinya dengan raungan dan tangisan yang memekik. Apa bedanya dengan seorang politis yang direbut kekuasaannya, lantas menyikapinya dengan stress berkepanjangan, memaksa keluarganya untuk membopongnya ke rumah sakit jiwa?

Tidak ada cara untuk menghindari rasa sakit selama hidup. Barangkali, lewat sakit, hidup bisa ditemukan.

Itu kiranya, salah satu yang bisa ditangkap lewat novela The Day that Beaumont became Acquainted with his Pain, diterjemahkan oleh Lutfi Mardiansyah dan diterbitkan oleh Penerbit Trubadur menjadi Hari Ketika Beaumont Berkenalan Dengan Rasa Sakit Dalam Dirinya karya J. M. G. Le Clezio. Walau terjemahannya di Indonesia baru diterbitkan sejak Desember 2019, novela tersebut dirilis pada tahun 1966. Masa itu adalah ketika dunia masih getol (sekarang pun masih) mempertanyakan eksistensi manusia, dan karya-karya yang terbit di era itu sering kali berkutat di sekitar pertanyaan tentang eksistensi.

Di novela ini, Le Clezio tidak menggambarkan eksistensi dengan melakukan interpretasi terhadap mitos, seperti Albert Camus, misalnya, yang memberi pemaknaan lebih terhadap Mitos Sisifus. Ia tidak juga berusaha menyikapi masalah alienasi (keterasingan) manusia dari hal-hal di luar dirinya, seperti yang misalnya, dilakukan oleh Natsumi Soseki di dalam novelnya, Kokoro. Le Clezio, peraih Nobel Sastra tahun 2008 itu, berangkat dari masalah sakit yang tampaknya dialami oleh seluruh makhluk hidup yang punya gigi: sakit gigi.

Beaumont, tokoh di dalam novela Le Clezio, terbangun dari tidurnya pada pukul tiga dini hari dengan rasa sakit yang luar biasa. Digambarkan:

Beaumont berguling di atas kasurnya dengan susah payah, merasakan perlawanan seprai dan selimut, yang ikut ambil bagian dalam gerak berputarnya, tetapi dengan cara yang ganjil, dengan melawan gerakan tersebut. Seolah-olah sebuah tangan tak kasat mata telah memuntir seprai itu di sekeliling batang tubuh dan pinggulnya yang tak bergerak (hal 3).

Demi menahan atau meredakan rasa sakit itu, Beaumont menegak pil, minum minuman beralkohol, merokok, berusaha tidur lagi, tapi tak ada satu pun yang berhasil mereda sakit giginya. Ia lantas menelepon seseorang bernama Paule, kawan perempuannya, dan memintanya untuk datang. Namun, Paule tidak bisa memenuhi permintaannya, karena hari masih terlampau pagi.

Beaumont meringkuk lagi, meratap lagi, menderita lagi. Rasa sakit itu tak lagi beragam, suatu struktur arsitektural. Rasa sakit itu menjelma simbol tegak-lurus, jelas potongannya, terang dan gelap, semacam kuman di mana seluruh tubuhnya disulakan. Posisi tubuhnya sekarang tetap, dan terus seperti itu sampai akhir, sampai ahli bedah gigi, ahli stomatologi, dll. itu, Beaumont harus mempertahankan posisi tubuhnya, berguling mati-matian ke sana-kemari: suatu kekejaman vertikal (hal 33).

Menjelang pagi, Beaumont berbicara dengan seseorang di telepon. Bukan seorang yang ia kenal, namun seseorang yang nomor teleponnya ia tekan secara acak.

“Aku tidak mengenalmu, aku menelponmu secara acak, benar-benar secara acak. Aku memutar nomor, begitu saja, dan kaulah yang menjawab. Aku bahkan tidak ingat nomor yang baru kuputar . . . apa kau bersedia mendengarkanku, apa kau keberatan mendengarkanku sampai selesai?” (hal 42).

Yang ditelepon, seorang gadis, bersedia mendengarkan. Maka Beaumont bercerita panjang lebar tentang rasa sakit yang ia alami selama hampir seperempat malam. Cerita via telepon Beaumont pada gadis itu diakhiri dengan dialog sebagai berikut:

“Baiklah, Beaumont, aku . . . aku akan memikirkanmu.”

“Kalau aku mati,” kata Beaumont.

“Begitulah, kalau kau mati,” timpal gadis itu. Hal 48)

Akhir cerita, Beaumont tiba pada kesimpulan: Aku bahagia sekali bisa mengetahui semua ini. Sekarang aku mencintai semua ini. Sampai jumpa lagi. (hal 49).

Sakit gigi Beaumont mungkin bukan sebuah kisah realis, atau bisa jadi realis, bisa jadi sebuah mitos, namun dibungkus dengan kalimat-kalimat dan diksi-diksi surealis oleh Le Clezio. Le Clézio sendiri dianggap oleh Akademi Swedia yang berwenang memutuskan peraih Nobel Sastra, sebagai seorang “pengarang yang membawa titik pembaruan lewat petualangan puitis dan sensualitas pengalaman pribadi; penjelajah kemanusiaan yang berada di luar sekaligus di dalam peradaban”.

Penulis kelahiran tahun 1940 tersebut memang sempat gemar melakukan eksperimen dalam stilistika dan narasi. Siksaan fisik-batin dan sakit jiwa merupakan tema-tema yang kerap ia angkat. Sejak tahun 1970, gaya kepenulisan Le Clezio menjadi lebih realis. Salah satu karyanya yang bercorak realis dapat dibaca dalam novel Mencari Emas (diterbitkan Yayasan Obor Indonesia tahun 2014).

Namun, bukan berarti peralihan gaya kepenulisan menjadikan karya-karya yang terbit di masa eksperimennya menjadi tidak lebih baik ketimbang setelahnya. Eksperimennya bukan sekadar proses mencari jati diri, namun juga sebuah pencapaian. Novela Ketika Beaumont Berkenalan Dengan Rasa Sakit Dalam Dirinya menjadi salah satu capaian yang patut dibaca. Balutan kalimat-kalimat surealis bukan sekadar dibuat untuk membuat pembaca terkesan, namun juga mengarahkan bahwa novela ini bukan tentang sakit gigi belaka.

Apakah itu sakit hati atau sakit gigi, atau misalnya yang terjadi sekarang ini, sebuah pandemi, segala bentuk kesakitan menawarkan sebuah pandangan hidup: Itulah hidup. Begitulah eksistensi kita selaku makhluk hidup. Selalu mengandung rasa sakit. Sakit itu pasti sesederhana kematian itu pasti. Tinggal bagaimana cara menerima dan mengelolanya.

Dalam kasus Beaumont, adanya tokoh-tokoh lain, walau sekadar dalam dialog telepon, seolah mengamini bahwa cara meredam rasa sakit adalah dengan berbagi pada orang lain. Eksistensi manusia tidak dapat dilepaskan dari hal-hal di luar dirinya. Beaumont tidak pergi ke dokter gigi, tetapi ia merasa lebih tenang setelah seorang gadis mau mendengarkan ceritanya dan mau mengingatnya. Padahal tidak ada solusi yang ditawarkan oleh si gadis (sepertinya hal ini terjadi pada diri kita, yang dalam beberapa masalah, lebih hanya ingin didengarkan ketimbang dijejali solusi). Sakit gigi Beaumont adalah tentang “betapa kita ingin dimengerti”.

Di luar perihal eksistensi, saran saya, bersiap-siaplah dengan obat sakit gigi. Entah, sepertinya ada aura mistis dari novela yang membuat sakit gigi Beaumont menular. Saya sampai harus cabut gigi.

 

Penulis:

Abroorza A. Yusra, seorang penulis, penggiat literasi, dan pendukung konservasi lingkungan. Kelahiran 1987. Bermukim di Singkawang, Kalimantan Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *