Literasi Arab Melayu

ilustrasi via nu.or.id.

Setakat ini, fenomena literasi merasuki hampir di kehidupan keseharian akhir-akhir ini dengan ragam kegiatan, baik yang dihelat oleh pemerintah maupun sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Dengan core of core (intinya inti), meminjam istilah viral Pak Ndul, adalah melalui menulis, karena selalu diperhadapkan dengan tradisi lisan (oralitas) yang akan segera hilang seiring perbincangan disudahi.

Tradisi literasi dapat dipahami dalam dua cakupan yang berbeda, yaitu melanjutkan tradisi lisan untuk tidak mengatakan menggantikannya dan revitalisasi tradisi literasi yang pernah berkembang sebelumnya. Sebenarnya, tradisi literasi sudah mengatmosferi pada ragam masyarakat dengan latarnya masing-masing. Khazanah intelektual lama sebuah masyarakat masih bisa ditelaah sampai detik ini berkat tradisi literasi yang dilestarikannya.

Bacaan Lainnya

Dalam tradisi peradaban (tamaddun) Melayu tidak hanya dipenuhi oleh tradisi lisan dalam khazanahnya, tetapi juga ditinggalkan warisan literasi yang masih bisa dilihat sampai hari ini. Tradisi literasi Melayu masih tetap dikaji sebagai khazanah Nusantara agar terjadi proses dialektika sebagai kebutuhan kekinian yang semakin supermodern. Sebagai khazanah Nusantara warisan literasi Melayu akan tetap berakar menghujam sebagai penanda jati keindonesiaan.

Arab Melayu sering  disebut Arab Jawi atau pegon tidak bisa dipisahkan dari peradaban Melayu (Malay civilization). Berbagai bidang ilmu pengetahuan yang dibangun oleh orang-orang Melayu, didokumentasikan dan dihantarkan melalui struktur bahasa Arab Melayu. Dari bidang agama, sejarah, cerita roman, pengobatan, dan tata-kelola birokrasi, bahkan berbau klenik sekalipun terkait dengan peradaban Melayu  bisa dipastikan ditulis dengan Arab Melayu.

Dalam peradaban Melayu Kalbar, sebut saja Muhammad Basuni Imran, Ismail Mundu, dan Muhammad Khatib Sambas, intelektual muslim ini menuangkan pemikirannya melalui bahasa Arab Melayu. Demikian juga, korespondensi Keraton Kadariah Pontianak dengan dunia luar difasilitasi dengan bahasa tersebut. Sejarah dan silsilah Keraton Sambas ditulis juga dengan  menggunakan bahasa Arab Melayu. Tentunya, masih banyak aspek lain dengan situasi sama.

Misalnya, asa literasi Arab Melayu tampaknya cukup menggembirakan dari apa yang dilakukan oleh masyarakat Sambas. Beberapa gang di Kabupaten Sambas masih digunakan bahasa Arab Melayu untuk papan namanya di bawah bahasa Indonesia. Fenomena semacam ini akan berdampak positif bagi pemertahanan literasi Arab Melayu. Kemudian, memudahkan memicu seseorang untuk memahaminya karena berada di ruang publik.

Oleh karena itu, bahasa Arab Melayu berperan penting dalam membangun dan menghantarkan peradaban Melayu sampai sekarang ini, termasuk dalam lingkup regional Kalimantan Barat sebagai ranah Melayu. Literasi Arab Melayu tampaknya perlu upaya revitalisasi sebagai sarana mengetahui khazanah masa lalu sekaligus memelihara kekayaannya sebagai pengayaan intelektual dan spiritual di era digital seperti sekarang ini.

Untuk masuk ke relung dan palung intelektual dan spiritual Melayu tidak dapat dicapai tanpa melalui literasi Arab Melayu sebagai jendela yang ke sekian untuk membukanya. Knowledge is power  (pengetahuan adalah kekuatan) tanpa instrumen bahasa sulit mengetahui dan memahami isi pengetahuan tersebut. Literasi Arab Melayu mau tidak mau harus dikuasai demi khazanah Melayu tetap hidup dan menghidupkan.

Literasi Arab Melayu sekali lagi penting sebagai sarana menyadari jati kemelayuan dalam konteks Nusantara yang lebih luas. Dengan akar jati menghujam dalam berpotensi besar mengimbangi fenomena global dunia maya yang massif  dan yang selamanya tidak berdampak positif. Tak kurang dampak negatif dipicu oleh dunia maya, hanya karena komentar di medsos urusannya bisa sampai ke meja hijau.

Kalimantan Barat merupakan bagian dari tamaddun  Melayu dengan berbagai warisan intelektual, dipandang perlu aktualisasi literasi Arab Melayu. Aksara tersebut merupakan warisan kearifan para intelektual Melayu masa lalu. Capaian sintesa benar-benar disimpulkan dengan menggabungkan dua entitas luar dan entitas dalam. Meskipun berkompromi dengan pengaruh luar, para intelektual Melayu tetap berpijak di ranah Melayu, tulisannya Arab tetapi bahasanya Melayu, itulah halikat literasi yang dipandang sebagai kemampuan.

 

Penulis:

Khairul Fuad, peneliti Balai Bahasa Kalbar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *