Lagu Didi Kempot Menemani Saya Tumbuh

ilustrasi Didi Kempot.

Seorang penonton memaki ‘Bajingan’ dua kali. Dia menepuk lantai panggung di hadapannya. Saat itu, semua tengah menyanyikan lagu Kalung Emas. Sampai di lirik ‘opo salahku iki, opo dosaku iki’ itulah, pemuda itu menunduk dan melampiaskan kekesalannya.

“Haha, kelingan iki (teringat ini),” kata Didi Kempot disambut tawa penonton lain.

Bacaan Lainnya

Saya menikmati hampir dua jam ‘Ngobam Bareng Didi Kempot’ di kanal Youtube Gofar Hilman tanpa jeda, sembilan bulan lalu. Adegan di atas salah satu cuplikannya.

Jagat media sosial ketika itu ramai dengan ‘reinkarnasi’ sang maestro campursari yang sudah saya kenal sejak duduk di bangku sekolah dasar. Sebelum muncul Sad Boy, Sad Girls, atau Sobat Ambyar, telinga saya sudah akrab dengan suaranya yang tak pernah absen di Minggu siang.

Sebagai seorang peranakan Jawa di Pontianak, Bapak saya kerap memutar lagu-lagu Didi Kempot. Kami tinggal di Gang Margodadirejo, salah satu daerah sebaran warga transmigran asal Jawa. Dan sebagaimana orang rantau pada umumnya–meski lahir di Pontianak–orang tua saya juga gemar menyetel Video Compact Disc (VCD) dengan volume besar.

Di rumah, perangkat itu lengkap dengan dua speaker besar dan satu ampli. Terpasang rapi menghimpit televisi 32 inch. Merek HTC. Ada pula satu speaker berukuran sedang yang diletakkan di teras samping. Apalagi kalau bukan supaya lagu-lagu yang disetel, terdengar sampai halaman depan.

Rumah kami bertetangga dengan tiga rumah lain. Saling hadap dengan dua berbanjar. Mereka semua keluarga, adik-adik Bapak. Semua punya hobi sama; mendengar campursari dengan suara memekakkan telinga.

Walau tumbuh di lingkungan yang sering berbahasa Jawa, saya tidak pandai melafalkannya. Saya tahu maksud lawan bicara, tapi tak bisa membalasnya, meski untuk sebuah percakapan dalam bahasa Jawa sehari-hari. Akan tetapi, lagu-lagu macam Stasiun Balapan, Cucak Rowo, Sekoyong-Koyong Koder, Sewu Kutho, Jambu Alas, dan Parangtritis, saya hapal luar kepala.

Tidak, saya tidak pernah menghapalkannya, lagu itu berputar di telinga dan akhirnya mendekam di ingatan. Saat itu, saya tidak benar-benar merasa sebagai seorang fans. Bapak dan paman-paman saya sering memutarnya, diselingi dengan lagu lain dari Sonny Josz atau Cak Diqin. Apalagi jika sudah ada acara keluarga, terlebih resepsi pernikahan atau sunatan, campursari selalu pilihan utama.

Setiap ada yang pulang ke Jawa–Bapak saya berkampung halaman di Kebumen dan Ibu dari Yogjakarta–keping-keping VCD atau DVD Didi Kempot selalu jadi oleh-oleh andalan selain kue lanting. Lagu terbaru didapat dari sana. Biasanya, sejumlah judul sudah dipesan setelah sebelumnya didengar di acara campursari yang disediakan radio-radio Pontianak. Radio Kenari di malam Kamis, MC Radio di malam Sabtu, dan RRI di malam Selasa dan malam Minggu, masih eksis hingga sekarang.

Mau tidak mau, suara Didi Kempot mengakrabi saya.

Hingga Juli 2018, saya menikah dan tak lagi tinggal di Margodadirejo. Campursari jarang saya dengar, terlebih sejak ayah meninggal Maret 2017. Sampai Juni 2019, Twitter diramaikan dengan nama Didi Kempot yang masuk trending topic. Potongan video 29 detik ketika dia manggung di Surakarta, ramai dibagikan. Penonton pria begitu antusias bernyanyi.

“Suasana surakarta sad boy club ketika menonton God Father of Broken Heart ‘Didi Kempot’ yang dipimpin langsung oleh @jarkiyo,” tulis seorang warganet.

Setelahnya, gelar itu melekat pada sosok penyanyi yang mendapat penghargaan Lifetime Achievement Billboard Indonesian Music Awards 2020 untuk 30 tahun karirnya di dunia musik itu.

Lirik yang melankolik, dan nada yang asyik dibawa joget, jadi sesuatu yang nyaman diterima. Walau saya sadari, awalnya biasa saja. Mungkin karena saya tidak tumbuh di lingkungan pertemanan yang mayoritas Jawa. Saya lebih banyak ‘main’ di luar. Kawan-kawan saya bisa jadi tak kenal Didi Kempot. Tidak seperti adik saya yang lancar berbahasa Jawa dan saban hari dengar campursari. Dia dekat dengan anak-anak gang Margodadirejo lain. Sedang saya sejak SMP lebih sering main dengan kawan sekolah.

Namun ketika ‘reinkarnasi’ Didi Kempot terjadi di pertengahan 2019, perasaan nostalgia menarik saya. Berulang kali saya mendengar lagunya, menonton sejumlah acara yang menampilkan dirinya dari Youtube, dan ikut bernyanyi ketika sedang santai. Istri saya beberapa kali mengabadikannya untuk bahan Instastory.

Di kantor lama saya, seorang rekan editor pun rajin memutar lagu Didi Kempot sejak dia kembali tenar. Ritual itu dilakukannya setelah Magrib, sambil edit berita. Biasanya, lagu diputar besar, sambil ikut bernyanyi lantang. Kini, dia jadi Kepala Desa Teluk Kebau, Kabupaten Sekadau.

Sworo angin
Angin sing ngreridu ati
Ngelingake sliramu sing tak tresnani
Pengen nangis
Ngetokke eluh neng pipi
Suwe ra weruh
Senajan mung ono ngimpi

Kadang saya pikir, kami hanya tidak mau ketinggalan tren. Tapi di sisi lain, saya merasa pulang ke rumah dan bertemu Bapak. Mungkin memang begitu kerja lirik patah hati Lord Didi. Mengingatkan kembali, walau kita pernah pergi.

Selamat jalan Lord Didi. Selamat menghibur patah hati penghuni surga sambil dijogeti!

Penulis:

Kristiawan Balasa, jurnalis.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Terimakasih Adek ku Krestiawan Balas telah menceritakan panjang tentang bagaimana hidup dilingkungan Jawa dan kebetulan pengagum berat karya karya seni Almarhum Didi Prasetyo ( Didi Kempot ) terus gaungkan karya karyanya jangan bosan warisan lagu lagu yang sangat menghibur kita keluarga Besar Balasa. Sekali lagi selamat dan sukses selalu untuk Adek ku Krestiawan Balasa.