Pengaruh Bahasa Korea pada Bahasa Remaja

ilustrasi.
banner 468x60

Demam korea melanda masyarakat Indonesia, stasiun televisi yang ada di Indonesia bersaing untuk menayangkan berbagai macam acara televisi yang ada di Korea, seperti drama korea, film Korea, musik Korea, bahkan acara masak atau kuliner yang berhubungan dengan Korea. Ini membuktikan betapa besar antusias masyarakat Indonesia dengan hal-hal yang berbau Korea. Negara Korea sendiri juga gencar memproduksikan produk-produk mereka melalui industri iklan dan bertujuan agar produk-prroduk yang mereka tawarkan dapat diterima masyarakat di Indonesia yang sedikit banyak, sudah terpapar cara dan gaya kehidupan mereka melalui tontonan drama, film, maupun musik Korea.

Demam korea atan Korean wave membawa pengaruh terhadap gaya hidup di Indonesia, aliran musik masyarakat Indonesia berganti menjadi aliran musik Korea dengan ciri khas boyband dan girlband, bahkan musik dangdut yang merupakan musik asli Indonesia terpengaruh dengan aliran musik Korea, dan jika kita melihat konser-konser musik Korea yang diadakan di Indonesia, maka akan sangat ramai penontonnya, dan paling banyak adalah remaja-remaja yang histeris dengan idola mereka (boyband dan girlband)

Bacaan Lainnya

Budaya kehidupan masyarakat Korea menjadi barometer penggemarnya terutama remaja-remaja, tidak hanya gaya keseharian (busana atau riasan wajah), cara berbicara remaja-remaja banyak menirukan istilah atau bahasa-bahasa Korea. Bahasa-bahasa korea yang biasa mereka dengar dari tontonan drama, film maupun musik korea sudah tidak asing lagi terdengar di telinga mereka, bahkan mereka terbiasa mengucapkan beberapa istilah dalam bahasa Korea ketika berbicara dengan teman-temannya.

Kata-kata annyeong haseyo, oppa, sarrang hae, hwaiting, kamsahamnida, dan banyak lagi kata atau istilah dalam Bahasa Korea yang sering diucapkan remaja-remaja dengan penuh kebanggaan ketika berbicara dengan teman-temannya, atau ketika bermedia sosial. Para selebritas juga sering menggunakan kata atau istilah dalam bahasa Korea baik di media televisi maupun di media sosial, hal ini menjadi contoh yang kurang baik, karena media televisi dan media sosial merupakan media ruang publik seharusnya mempergunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Menggunakan bahasa Korea atau bahasa asing lainnya ketika berkomunikasi dengan orang lain bukanlah suatu kesalahaan, tetapi kita tidak ingin remaja  atau yang lainnya merasa bangga ketika menggunakan bahasa negara lain, daripada bahasa negara kita sendiri (Bahasa Indonesia). Penggunaan kata atau istilah dalam Bahasa Korea di masyarakat jangan sampai melupakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan bahasa pemersatu dalam berkomunikasi.

Demam Korea menjadikan tempat tempat kursus Bahasa Korea semakin diminati, ini menandakan keingintahuan akan budaya Korea melalui Bahasa Korea sangat besar. Ini merupakan hal positif karena akan menambah luas ilmu pengetahuan dan wawasan, tetapi jangan sampai rasa bangga pada suatu negara lain, melunturkan rasa bangga kita terhadap negara kita sendiri.*

 

Penulis:

Amanah Hijriah, peneliti Balai Bahasa Kalimantan Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *