Istilah dalam Dunia Kosmetik

ilustrasi net.

Suatu siang sebelum pemberlakuan pembatasan jarak karena pandemi virus korona, aku menuju toko kosmetik sebelum berfoto di studio. Tentu saja tujuanku ingin membeli kebutuhan yang kebanyakan dibutuhkan oleh para wanita. Aku memerlukan alas bedak dan perona pipi untuk berdandan guna keperluan mendapatkan pas foto terbaru. Ada banyak pilihan jenama di sana. Masing-masing wanita berdiri di depan meja dengan seragam yang mewakili jenama kosmetik yang dijualnya. Aku menghampiri salah satu wanita dengan seragam hitam yang agak sepi pengunjung. Sebuah jenama baru kosmetik lokal. Aku ingin mencoba produknya.

“Cari apa, Kak?” tanyanya ramah.

Bacaan Lainnya

“Alas bedak, Kak,” jawabku.

“Untuk Kakak?” sambungnya lagi. “Ya,” jawabku singkat.

Foundation ini saja kak, ini ada dua shade. Sepertinya kakak cocok dengan shade yang ini,” tawarnya sembari mengulurkan sebuah tube ukuran sedang kosmetik. Aku menimbang-nimbang. Mencoba-coba dua pilihan warna tersebut. Mencocokkan kembali sarannya dengan warna dan jenis kulitku.

“Kakak kan kulitnya sepertinya sensitif. Ini cocok untuk acne prone, Kak” pujuknya antusias. “Coveragenya medium to high, Kak. Buildable lagi, Kak” tambahnya.

“Iya, oke,” jawabku singkat.

“Mau, Kak?” tanyanya memastikan dan kujawab dengan anggukan serta isyarat yang membenarkannya untuk membuka bon pembelian dariku.

“Ada lagi, Kak?” tanyanya lagi sambil menulis.

“Lihat ini, Kak,” pintaku sambil menunjuk sebuah barang. “Bagus ni, Kak,” ujarnya mulai menawarkan lagi sambil mengeluarkan contoh produk untuk dicoba.

“Lihat, Kak. Warnanya natural, semua terpakai, ini bisa dipakai untuk blush on, eyeshadow juga, shading pun bisa nih, Kak. Lihat, Kak! Sekali swipe langsung keluar warnanya. Warnanya pigmented banget, Kak.” Katanya bertubi-tubi menawarkan dagangannya sambil memulas produk di permukaan tangan.

Aku tersenyum. Tidak hanya menyimak perkataannya barusan, tapi juga berbagai istilah dalam dunia kecantikan yang berkeluaran lancar dalam setiap kalimat yang digagasnya. Biasanya, jika sudah seperti ini, perbincangan selanjutnya akan lebih penuh dihiasi oleh beragam istilah terkait dunia kecantikan.

Pada saat membicarakan alas bedak atau foundation saja misalnya, istilah coverage, oxi/oxidize, pore clogging, ashy, cracking dan beragam istilah lainnya akan terdengar saat pembicaraan lanjutan mengenai suatu produk terjadi.

Istilah-istilah dalam dunia kosmetik kebanyakan memang serapan dari bahasa asing. Kata ‘kosmetik’ awalnya berasal dari bahasa Yunani yaitu kosmetikos yang berarti terampil dalam penyusunan. Dalam bahasa Inggris, kata cosmetic pertama digunakan tahun 1638 untuk merujuk makna mempercantik penampilan (Merriam Webster dictionary).

Alas bedak atau foundation yang juga berasal dari kata dalam bahasa Inggris dimaknai sebagai kosmetik yang dipakai sebagai alas atau dasar sebelum merias wajah (KBBI). Cakupan atau coverage adalah istilah dalam dunia kosmetik yang merujuk pada daya tutup produk tersebut saat diaplikasikan ke wajah. Bisa ringan, tipis atau sheer saja. Bisa sedang yang disebut juga ­medium bahkan tebal atau high. Semua disesuaikan dengan kebutuhan pemakainya.

Untuk pemakaian sehari-hari biasanya pengguna kosmetik akan memilih tata rias yang ringan-ringan saja untuk tampilan alami atau natural. Pada tampilan ini bekas-bekas jerawat masih terlihat walaupun tidak jelas. Sedangkan medium dan tebal biasanya untuk acara khusus sehingga bekas jerawat, kulit kemerahan atau warna kulit yang tidak rata menjadi tertutup dan pori-pori tampak sempurna. Itu sebabnya terdapat istilah buildable dalam kosmetik yang merujuk pada makna bahwa kosmetik tersebut dapat dipakai secara berlapis tanpa terlihat tebal atau cakey.

Pada pemilihan alas bedak, beberapa istilah juga menjadi rujukan saat memilih produk ini sesuai kondisi, warna dan jenis kulit. Warna kulit atau complexion menjadi hal pertama yang harus diperhatikan. Selanjutnya, warna kulit ini terbagi lagi menjadi dua, yaitu skintone dan undertone. Skintone adalah tingkat warna kulit yang kasat mata di wajah. Warna ini bisa saja telah mengalami perubahan akibat paparan sinar matahari, pencerah kulit wajah, debu dan polusi. Sebaliknya, undertone adalah warna dasar kulit yang ditentukan oleh gen dan tidak akan berubah, biasanya dilihat dari pergelangan tangan bawah yang terlihat warna urat nadinya. Undertone terdiri atas tiga golongan, yaitu: warm, cool, dan neutral undertone. Secara harfiah diartikan hangat, dingin dan netral.

Pemilihan alas bedak sesuai kondisi skintone dan undertone ini agar pengguna dapat memilih kosmetik yang tepat. Penggunaan foundation sesuai kondisi kulit juga dapat mencegah tampilan tata rias yang terlihat tidak merata. Ashy misalnya, adalah saat bedak tidak rata dengan wajah dan menjadi berwarna keabu-abuan. Biasanya disebabkan karena warna alas bedak atau bedak yang dipilih lebih terang dari warna kulit. Kondisi lain yang mungkin dialami adalah saat alas bedak yang berubah menjadi semakin gelap seiring berjalannya waktu pemakaian karena terpapar udara. Istilah pada situasi ini yaitu produknya mudah teroksidasi atau oxidize yang disingkat oxi dalam dunia kosmetik.

Selain pertimbangan warna kulit, tipe kulit wajah juga harus menjadi pertimbangan saat memilih produk kosmetik. Jenis kulit normal, berminyak, kering, kombinasi dan sensitif harus dipertimbangkan saat memilih produk. Jenis kulit wajah ini ditentukan oleh kandungan air dan minyak yang mempengaruhi kondisi wajah. Biasanya produk-produk yang formula utamanya air atau water-based bertujuan agar kulit dapat terhidrasi dengan baik dan menjaga kelembapannya. Sedangkan produk berbahan dasar minyak atau oily-based sangat baik untuk memperkuat lapisan kulit dan memberikan perlindungan.

Pada kosmetik yang sifatnya memberikan warna di kulit semisal perona pipi, bibir atau mata terdapat istilah pigmented. Pigmented merujuk pada kosmetik yang mempunyai pigmentasi atau zat warna yang pekat dan langsung terlihat jelas atau ‘keluar’ dalam satu usapan atau sapuan. Usapan atau sapuan ini dikenal dengan istilah swipe dalam dunia kosmetik. Shade juga mengacu pada pilihan warna pada kosmetik. Setidaknya minimal ada dua sampai ratusan lebih pilihan warna atau shade pada alas bedak, perona mata atau eye shadow, pewarna bibir atau lipstik serta perona pipi atau blush.

Terdapat dua jenis perona pipi atau blush yaitu cream blush dan powder blush sesuai bentuknya yaitu krim atau gel dan bedak padat. Biasanya blush berwarna varian merah dan jingga dalam berbagai tingkat kepekatan dua warna tersebut, misalnya merah muda, merah ceri, jingga jeruk mandarin, dan lain sebagainya. Di Indonesia, perona pipi sering juga dipanggil dengan nama blush on. Menurut asumsi penulis, bisa jadi hal ini bermula untuk menyebutkan warna blush yang dipakai on point. On point adalah istilah untuk pemakaian kosmetik yang sempurna. Asumsi ini tentu saja memerlukan kajian lanjutan untuk menelusuri kebenarannya.

Pada pengaplikasian perona pipi dan mata yang berbentuk bedak kadang ada yang mudah berjatuhan atau berguguran sehingga pemakaiannya tidak maksimal dan produk lebih cepat habis. Istilah fallout digunakan untuk menggambarkan situasi produk yang berjatuhan atau berguguran ini.

Beragam istilah yang disinggung dalam artikel ini hanyalah contoh istilah-istilah yang ada dalam dunia kosmetik khususnya istilah yang dipakai hanya saat membahas alas bedak dan perona pipi saja. Tentu saja masih terdapat banyak sekali istilah dalam bidang tata rias wajah dan kecantikan ini, bahkan termasuk yang berhubungan hanya dengan dua produk kecantikan di atas. Penerjemahan dengan memadankan istilah-istilah kosmetik dalam bahasa Indonesia tentu saja telah berlangsung. Walaupun dalam praktiknya, adaptasi dan adopsi langsung pemakaian istilah juga sering terjadi dalam masyarakat khususnya pada saat influencer kecantikan membahas tentang suatu produk baru di pasaran. Pemahaman terhadap istilah dalam bidang ini tentu saja akan membantu bagi setiap orang yang ingin mendalami atau memahami lebih jauh tentang tata rias dan kosmetik serta memperkaya khasanah kosakata bahasa Indonesia.***

 

Penulis:

Syarifah Lubna, peneliti Muda Balai Bahasa Kalimantan Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *