Viral Ekspoitasi ABK Indonesia di Kapal Berbendera Tiongkok Kerja 18 jam, dan Dibuang ke Laut Ketika Meninggal

LARUNG - Jenazah salah seorang ABK Indonesia di kapal berbendera Tiongkok hendak dilarung. Foto ini merupakan tangkapan layar rekaman pelarungan yang dimuat di Youtube MBC News.
banner 468x60

PONTIANAK, insidepontianak.com – Media Korea Selatan, Munhwa Broadcasting Corporation (MBC) memberitakan sejumlah Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia yang bekerja 18 jam dan dilarung ketika meninggal di kapal berbendera Tiongkok, 6 Mei 2020 lalu. Pemberitaan ini pun viral dan mulai ditanggapi pemerintah Indonesia.

Dalam laporan mereka, turut ditampilkan video jenazah ABK Indonesia yang dilarung ke laut. Video ini mengungkapkan perbudakan dan eksploitasi terhadap awak WNI di kapal tersebut. Rekaman itu berasal dari awak kapal selamat yang mencari perlindungan kepada pemerintah Korea Selatan dan MBC saat kapal memasuki Pelabuhan Busan.

Pelarungan jenazah ABK WNI terjadi di Samudera Pasifik pada 30 Maret. Videonya dibagikan kanal YouTube MBCNEWS berjudul “[Eksklusif] 18 jam kerja sehari, jika sakit dan meninggal, buang ke laut.” Jenazah yang dilarungkan adalah mayat seorang ABK Indonesia bersama Adi (24). Dia bekerja setahun lebih di kapal itu.

Sebelum mayat dilarung dengan peti mati, terlihat para pelaut Tiongkok mengadakan upacara pemakanan sederhana dengan menyalakan dupa dan menyiramkan alkohol. Bahkan sebelum Ari, ada dua jenazah WNI lain yang dilempar ke laut yakni Alfata berusia 19 tahun dan Sepri berusia 24 tahun.

Berdasarkan perjanjian dan regulasi hukum, pelaut yang meninggal di tengah laut seharusnya dikirim pulang. Namun, rekan Ari yang disebut sebagai Pelaut Indonesia A dalam wawancara dengan MBC, tidak menyangka mayat Ari akan dilarung ke laut.

“Saya tahu saya akan mendekati daratan untuk memulangkan mayat,” katanya.

Beberapa pelaut juga mengaku kondisi kapal yang buruk dan ada eksploitasi di kapal tersebut. Mereka yang meninggal, mengeluh sakit dan menderita sebulan terakhir.

Menurut pengakuan Pelaut Indonesia B, mayoritas pelaut Tiongkok minum air dari botol kemasan yang didapat di darat, tetapi ABK Indonesia meminum air laut yang disaring. Mereka sakit setelah meminum air laut.

“Saya awalnya minum air laut yang tidak disaring. Saya pusing, lalu dahak keluar dari tenggorokan saya,” kata Pelaut Indonesia B, yang juga mengaku bekerja 18 jam sehari.

Pelaut A mengatakan, dia harus berdiri dan bekerja selama 30 jam berturut-turut, dan tidak bisa duduk kecuali untuk makan setiap enam jam sekali. Mereka yang berjumlah lima orang, hanya menerima 140.000 ribu won atau sekitar Rp1,7 juta setelah bekerja selama 13 bulan.

Pengacara Banding Pusat Layanan Publik, Kim Jong-cheol mengatakan ada eksploitasi di kapal tersebut dan korban tidak bisa kabur karena paspor disita apalagi ada dana besar yang dideposit. Kapal nelayan tersebut sebetulnya adalah kapal nelayan tuna, namun terkadang menangkap hiu untuk diambil siripnya.

“Kapal menangkap dua puluh hiu atau lebih per hari. Kabarnya ada 16 kotak sirip hiu dalam kapal. Jika satu kotak beratnya 45 kilogram, maka ada sekitar 800 kilogram,” kata aktivis lingkungan Lee Yong-ki, dalam liputan lain MBC.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri RI akan memanggil Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Xiao Qian untuk meminta penjelasan tentang perlakuan yang diterima para anak buah kapal (ABK) Indonesia yang bekerja di kapal ikan berbendera Tiongkok itu. Kemlu RI juga akan meminta penjelasan mengenai pelarungan jenasah ABK WNI dari kapal Long Xin 629 dan Long Xin 604 untuk memeriksa apakah penanganan itu sudah sesuai dengan ketentuan dari Organisasi Buruh Internasional (ILO).

“Guna meminta penjelasan tambahan mengenai alasan pelarungan jenazah (apakah sudah sesuai dengan ketentuan ILO) dan perlakuan yang diterima ABK WNI lainnya, Kemlu akan memanggil Duta Besar China,” demikian disampaikan dalam keterangan tertulis dari Kementerian Luar Negeri RI yang dikutip dari Antara.

Dalam ketentuan ILO, disebutkan bahwa kapten kapal dapat memutuskan untuk melarungkan jenazah karena beberapa kondisi, antara lain jenazah meninggal karena penyakit menular atau kapal tidak memiliki fasilitas penyimpanan jenazah sehingga dapat berdampak pada kesehatan di atas kapal.

Pada Desember 2019 dan Maret 2020, di kapal Long Xin 629 dan Long Xin 604 terjadi kematian tiga WNI awak kapal saat kapal-kapal tersebut sedang berlayar di Samudera Pasifik. Kapten kapal menjelaskan bahwa keputusan untuk melarungkan jenazah diambil karena kematian disebabkan penyakit menular dan tindakan itu dilakukan berdasarkan persetujuan para awak kapal lainnya.

KBRI Beijing telah menyampaikan nota diplomatik untuk meminta klarifikasi mengenai kasus tersebut. Dalam penjelasannya, pihak Kementerian Luar Negeri Tiongkok menerangkan bahwa pelarungan telah dilakukan sesuai praktik aturan kelautan internasional untuk menjaga kesehatan para awak kapal lainnya.

Sebelumnya, Kemlu RI bersama kementerian dan lembaga terkait juga telah memanggil jasa keagenan awak kapal untuk memastikan pemenuhan hak-hak awak kapal WNI. Kemlu juga telah menginformasikan perkembangan kasus kepada pihak keluarga. Pemerintah Indonesia, melalui perwakilan Indonesia di Selandia Baru, China dan Korea Selatan, mengatakan memberi perhatian serius pada permasalahan yang dihadapi para ABK Indonesia di kapal ikan berbendera China Long Xin 605 dan Tian Yu 8, yang beberapa hari lalu berlabuh di Busan, Korsel.

Kedua kapal tersebut membawa 46 awak kapal WNI, dan 15 di antaranya berasal dari Kapal Long Xin 629. KBRI Seoul berkoordinasi dengan otoritas setempat telah memulangkan 11 awak kapal pada 24 April 2020 sementara 14 awak kapal lainnya akan dipulangkan pada 8 Mei 2020. KBRI Seoul juga sedang mengupayakan pemulangan jenazah awak kapal berinisial E yang meninggal.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *