Literasi Kita Kini

ilustrasi net.
banner 468x60

Istilah “literasi” beberapa tahun terakhir ini menjadi semakin populer, walau saya berharap salah—hal ini mungkin beriringan dengan perasaan inferior kita, terkait nilai literasi yang (berkali-kali diapresiasi) rendah oleh beberapa lembaga survei dunia. Apalagi ditambah dengan seringnya hasil dari uji-uji literasi tersebut—seperti PISA, PIRLS, INAP, CCSU—terus dikutip oleh para peneliti, akademisi, pembicara dan tentunya para awak media.

Menurut UNESCO, literasi adalah rangkaian kemampuan kecakapan membaca, menulis dan berhitung, yang diperoleh dan dikembangkan melalui proses pembelajaran dan penerapan di sekolah, keluarga dan masyarakat. Kemudian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merumuskannya lebih detail, bahwa (a) literasi sebagai suatu rangkaian kecakapan membaca, menulis, dan berbicara, kecakapan berhitung, dan kecakapan dalam mengakses dan menggunakan informasi; (b) literasi sebagai praktik sosial yang penerapannya dipengaruhi oleh konteks, (c) literasi sebagai proses pembelajaran dengan kegiatan membaca dan menulis sebagai medium untuk merenungkan, menyelidik, menanyakan, dan mengkritisi ilmu dan gagasan yang dipelajari; dan (d) literasi sebagai teks yang bervariasi menurut subjek, genre, dan tingkat kompleksitas bahasa. Sedang Education Development Center menyimpulkan literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan kemampuan (skill) yang dimilikinya dalam kehidupan, singkatnya, tujuan literasi adalah untuk menciptakan individu yang mampu menerapkan keahlian yang dimilikinya dalam menjalani hidup.

Bacaan Lainnya

Di samping banyak lagi yang berpendapat, definisi-definisi yang dikemukakan di atas bisa menjadi pertimbangan bagi para penggiat literasi saat ini, bahwa walau seolah-olah sebagai penanda peradaban modern, perkara literasi belum atau tidaklah cukup sampai pada lingkup baca dan tulis saja. Pada Festival Kampung Buku Yogyakarta beberapa waktu lalu, orasi kebudayaan yang disampaikan Kyai Irfan Afifi sangat menarik dan menggedor pemahaman saya atas apa itu literat yang bermartabat. Menggarisbawahi apa yang dikutip Iqbal Aji Daryono dalam tulisannya Menggugat Lagi Makna Literasi (2018), Kyai Irfan Afifi mengatakan bahwa, “…tradisi permenungan berjarak yang membantu penelaahan secara sabar, runtut, mendalam, dan reflektif.”

Saya merasa sepakat jika Iqbal—walau kemudian menggerutu—menekankan kalau literasi itu sikap mental. Literasi kita tidak kemudian otomatis tumbuh dan dinilai tinggi hanya karena kita sekolah dan kuliah, atau karena kita membaca, atau karena kita menulis, tetapi harus pula diikuti dengan daya kritis dan reflektif, yang kemudian diikuti dengan sikap skeptis pada apa saja yang kita “lahap”.

Dimensi literasi paling tidak melingkupi 6 hal, yakni: literasi baca dan tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial dan literasi budaya dan kewarganegaraan. Dimensi-dimensi yang disebut terasa dekat dengan kita, bukan? Namun walaupun dekat, ia tak hanya perlu dikenali, tetapi juga dilekati dan diselami. Intinya bahwa kita sudah dalam tahap harus berlaku literat sebagai yang praksis, jangan sampai hanya bergerak dalam ruang wacana, kita tak bisa lagi sebatas berjumpa membicarakannya dan saling berkata-kata saja.

Sebaik-baiknya aktivitas yang literat adalah aktivitas yang bermanfaat; Lucia Ratih Kusumadewi (2017) menyebutkan bahwa model literasi yang bermanfaat adalah yang dibangun dengan makna yang lebih mendalam dan holistik, menyentuh sisi-sisi kesadaran individual dan kolektif. Diingatkannya pula tentang konsep “conscientisation” yang dikatakan oleh Pablo Freire, bahwa sebaiknya literasi dibangun atas dasar proses belajar yang bertujuan melahirkan “kesadaran kritis” individual atau kelompok yang bersifat otonom, memanusiakan, dan memerdekakan. Artinya bahwa literasi menyangkut pula pada sebuah proses penanaman metode berpikir yang dapat bermanfaat bagi pembangunan manusia.

Yang tak kalah pentingnya adalah perihal minat baca para pembelajar. Minat baca siswa kita terutama, bukan hanya untuk meningkatkan keterampilan memahami bacaan siswa yang terpuruk pada peringkat 64 dari 65 negara yang berpartisipasi dalam tes Programme of International Student Assesment (PISA), tetapi juga agar mereka mencintai pengetahuan dan menjadi siswa sebagai pembelajar sepanjang hayat.

Sungguh tak bisa kita hindari bahwa betapa pentingnya literasi saat ini. John Miller, petinggi World’s Most Literate Nation mengatakan bahwa ilmu pengetahuan selalu terkait dengan perngaruh, kekuasaan, dan kesuksesan ekonomi. Untuk melewati dan menggapai kesemuanya itu diperlukan penguasaan literasi yang mumpuni.

Tantangan Indonesia saat ini, yang juga perlu dapat perhatian lebih adalah membagi dan memecahkan pemberdayaan tradisi lisan (orality) untuk memasuki dan menghikmati ruang tradisi baca tulis (literacy). Kita pahami bersama bahwa saat ini media-media di era informasi telah menciptakan ruang-ruang yang begitu luas terhadap tumbuh kembangnya media tulis, hanya kita yang bias memilih menggunakannya dengan lebih bijaksana atau tidak.

Data dari Association for the Educational Achievment (IAEA) mencatat bahwa Finlandia dan Jepang termasuk dalam negara dengan tingkat membaca tertinggi di dunia. Jepang, negara maju yang betul-betul menjadikan membaca menjadi suatu kebiasaan dan kebutuhan bagi masyarakatnya. Mereka begitu terkenal sebagai negara yang kutubuku. Terungkap fakta bahwa lebih dari 1 miliar buku dicetak di Jepang dalam setahun. Dari mana datangnya kebiasaan menakjubkan ini? Ternyata datang dari sekolah. Para guru mewajibkan siswa-siswanya membaca selama 10 menit sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Program ini sudah berlangsung paling tidak 30 tahun, dan Indonesia baru beberapa tahun terakhir mengadopsinya.

Dalam abad 21 ini, walau sebagian dari kita masih bergelut di dalamnya—tak bosan-bosannya saya tekankan bahwa literasi tak bisa lagi bertolak dari perkara baca tulis saja, seperti yang digarisbawahi oleh Alvin Toffler, literasi masa kini mengajak kita untuk berhadapan dengan pilihan-pilihan; antara yang mau atau tak mau belajar, yang akan terus atau berhenti belajar dan yang mau atau tak mau (memperbaiki kesalahan untuk) berusaha bangkit belajar kembali. Anda bagaimana?***

 

Penulis:

Yeni Yulianti, peneliti Balai Bahasa Kalbar.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *