Damkar Purnama ‘Pemadam Kampung’ yang Mengabdi untuk Kota

PADAMKAN - Salah seorang anggota Damkar Purnama tengah memadamkan api beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

PONTIANAK, insidepontianak.com –Terik panas matahari siang, begitu terasa di sekujur tubuh. Rasa lapar dan haus pun perlahan dirasakan. Tapi, itu semua bukan halangan bagi pemadam kebakaran (Damkar) Purnama untuk tetap bertugas maksimal menakhlukkan si jago merah. Meski mereka tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan, tak sedikit pun kendor semangatnya demi misi kemanusiaan.

“Kami tetap bertugas, meski tengah puasa kami tetap turun, kalau ada kebakaran,” kata Ketua Pemadam Purnama, Awaludin Akbar kepada insidepontianak.com, Minggu (10/5/2020).

Bacaan Lainnya

Damkar Purnama memiliki 28 orang anggota, yang kebetulan saja semuanya beragama agama Islam. Namun mereka tak membedakan agama dan suku apa pun. Damkar ini, berdiri Juni 2010 atas inisiasi Akbar.

Berdirinya Damkar Purnama berawal dari keresahan masyarakat akan musibah kebakaran lahan, yang tiap tahunnya melanda wilayah Purnama.

“Saat itu tengah gencar-gencarnya kebakaran lahan, jadi saya inisiatif bentuk pemadam, karena kampung sendiri kan di Jalan Parit Demang dan Purnama,” terangnya.

Akbar kala itu tak memiliki pengalaman menghadapi si jago merah. Tak sekali pun ia pernah belajar dan mendapatkan pelatihan. Namun demi misi kemanusiaan, naluri pria 42 tahun itu terpanggil. Tak ada motivasi khusus yang membawanya pada tugas mulia yang penuh tantangan itu, selain menolong sesama dan tak bisa melihat orang lain susah.

“Jadi saya beli alat-alat pemadam, mesin, selang. Pokok awal mula habis hampir Rp20 juta,” ceritanya.

Barang-barang itu dibelinya dengan uang pribadi. Sementara rumahnya di Gang Purnama Indah 7 dijadikan posko sementara. Awal berdiri, Damkar Purnama penuh dengan keterbatasan dan hanya memiliki gerobak dorong sebagai armada angkut peralatan pemadaman.

“Awalnya pakai gerobak jak, didorong, sampai-sampai dulu disebut ‘Pemadam Kampung,” ujarnya.

Kala berdiri, menjaga langit biru menjadi satu-satunya fokus Damkar Purnama. Setiap kebakaran lahan terjadi, Akbar hadapi sendiri.

“Sendiri awalnya, diikatlah selang di kayu. Pulang tunggu mesin mati karena habis minyak barulah pulang, kadang pulang sebentar, datang lagi,” ungkap Akbar.

Berjalannya waktu, Akbar akhirnya memiliki beberapa anggota yang punya misi sama. Ia pun mulai memodifikasi motor besar pribadinya agar bisa membawa mesin dan peralatan, sehingga dapat menjangkau lokasi kebakaran dengan cepat.

Lima tahun berselang, tepat di tahun 2015, Damkar Purnama mulai bebenah dari sisi administratif. Tak disangka, ia dan tiga rekannya bertemu seorang notaris ketika sedang berjuang memadamkan lahan di Purnama.

“Dia (Notaris) nanya saya, sudah ada akta kah? Saya bingung juga, akta apa. Terus dijelaskan bahwa pemadam biasanya ada akta dan mau dibuatkan. Akhirnya adalah akta Pemadam Purnama tahun 2015,” lanjutnya.

Di tahun yang sama pula, Damkar Purnama bergabung ke Forum Komunikasi Pemadam Kebakaran Swasta Kota Pontianak di bawah naungan Ateng Tanjaya. Awalnya, Akbar melapor ke Forum Komunikasi Pemadam Kebakaran Swasta usai diarahkan rekannya dari pemadam Pandu Perdana.

“Akhirnya pergilah saya lapor, tak lama direspon dan saya ke tempat Bang Edi,” sambungnya.

Usai resmi terdaftar di bawah naungan FPKS, kerja Damkar Purnama pun betambah. Dia tidak lagi hanya berkutat dengan kebakaran lahan semata. Tapi juga kebakaran bangunan. Bantuan berupa selang pun didapatkan.

Setahun setelahnya, Akbar membeli sebuah oplet bekas dengan uang pribadi. Oplet tersebut disulap jadi pikap dan tiga tahun ini, mereka telah memiliki posko di tepi Jalan Purnama II. Meski tanpa bantuan donatur, pengusaha tenda ini tetap tak patah arang dan bekerja mencukupi kebutuhan keluarga dan operasional damkar.

“Di rumah saya ada usaha tenda dan depot air. Pas ada orang nyewa tenda misalnya Rp300 ribu, kita bagi buat operasional pemadam. Buat perawatan dan buat beli rokok,” ceritanya.

Sejak memutuskan menjadi pemadam, Akbar dan istri bahkan telah berkomitmen menjadikan Pemadam Kebakaran Purnama ladang amal. Ia pun ikhlas mengizinkan semua kendaraannya dipakai.

“Saya dan istri pun sudah sepakat untuk amal. Sambil kami pakai, sambil beramal,” tambahnya.

Di tengah pendemi Covid-19, tugas Damkar Purnama pun bertambah, tak melulu menanggulangi kebakaran bangunan dan lahan. Mereka juga turut berkontribusi melakukan strelisasi di rumah ibadah dan rumah warga dengan cairan disinfektan.

Baginya, ucapan terima kasih sudah syukur didapatkan selama bertugas. Sebab dipandang sebelah mata, dan tidak dihargai, sudah biasa diterima.

“Tapi kami tidak hirau, kami datang, tak pernah ingat dihargai, dipuji dan tak peduli dicaci maki. Judulnya kami semprot balik kanan. Jadi tadak ada istilah nunggu ucapan makasih,” jelas dia.

Tak hanya itu, mendapatkan laporan palsu pun sudah sering diterima. Meski dalam kodisi yang belum sepenuhnya pulih, pasca menjalani operasi otak tahun 2017 lalu, cita-cita membesarkan Damkar Purnama tak pernah hilang dibenak Akbar.

“Saya juga selalu bilang ke adik-adik, saya boleh mati, tapi Pemadam Purnama tak boleh boleh mati,” pesannya.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *