Kepala Puskesmas Gang Sehat: Penanganan Pasien Sesuai SOP Covid-19

JELASKAN - Kepala Puskesmas Gang Sehat, Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Pontianak Selatan, drg Nuzulisa tengah menjelaskan inovasi Puskesmas dalam penilaian reakreditasi tingkat paripurna, atau akreditasi tertinggi bagi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) kepada Wali Kota Pontianak, Rabu (25/9/2019). (PROKOPIM PONTIANAK)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Kepala Puskesmas Gang Sehat, Pontianak, drg Nuzulisa memastikan pelayanan pasien M yang memiliki gejala Covid-19 sudah sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Dia menjelaskan penanganan Covid-19, informasinya satu pintu dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, termasuk urusan diagnosa.

Dia menceritakan, pasien M adalah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) pertama yang datang ke Puskesmas di Gang Sehat. Pasalnya ketika itu, M datang dengan kondisi demam dan memiliki gejala ke arah Covid-19.

Bacaan Lainnya

“Sebenarnya saat itu kami bisa saja menolak, ini sudah curiga ke Covid dan bisa diarahkan ke RS menangani Covid, tapi alasan menolak ini tak kuat karena kami tak memiliki rapid test dan tidak pernah mengetes pasien yang demam dan batuk, karena rapid test untuk itu tidak disediakan,” katanya, Selasa (12/5/2020).

Pihak Puskesmas pun tidak menolak pasien tersebut, karena ada kemungkinan yang bersangkutan hanya sakit biasa. Namun lantaran tengah pandemi, penanganan harus dengan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Puskesmas pun bersiap.

“Pasien tersebut ketika datang tetap dilayani, dan kita anamnesa Covid. Karena tidak ada rapid test, sehingga kita hanya melakukan pemeriksaan darah lengkap. Di situ terlihat memang ada masalah, dan tetap kita berikan obat standar pelayan kesehatan di Puskesmas untuk mengobati batuk, demam, dan diberikan vitamin,” katanya.

Begitu pulang, pasien tersebut menghubunginya. Dalam kesempatan itu, yang bersangkutan juga menyebut dirinya tenaga kesehatan. Dalam hal ini, Kepala Puskesmas merasa semestinya pasien bisa menilai keadaan umum dirinya.

“Awalnya saya pikir ini hanya psikomatis. Namun dia bilang bahwa ini bukan psikosomatis karena sudah lain, sudah beda, meskipun hasil swabnya belum keluar,” katanya.

Lantaran Puskesmas tak memiliki rapid test, drg Nuzulisa pun menyarankan agar mencoba ke salah satu rumah sakit swasta yang memiliki alat tersebut. Namun tentu akan mengeluarkan biaya. Saat itu, menurutnya, alat rapid test di Dinkes Pontianak belum sebanyak sekarang. Di sisi lain, RSUD Kota Pontianak pun bukan rumah sakit rujukan Covid-19.

“Saya sampaikan info agar ke Mitra Medika kalau mau tahu hasilnya (rapid test). Tapi mohon maaf Mitra Medika bukan rumah sakit yang ditunjuk untuk penanganan Covid-19 otomatis berbayar, sekitar Rp200-300. Dia kemudian bilang akan merembukan kepada suami. Ternyata mereka memutuskan ke RS Kota dan kita tahu informasinya esok pagi,” jelasnya.

Karena bukan rumah sakit rujukan Covid-19, RSUD Kota Pontianak pun menyarankan agar langsung ke RSUD Soedarso untuk diisolasi.

“Walau kami belum menerima hasil rapid test-nya kami percaya dan tidak bisa biarkan,” katanya.

Dari suami M, Puskesmas Gang Sehat mendapat informasi keluarga ini tinggal dengan seorang anak. Namun sang anak sudah dititipkan ke rumah orang tua mereka di Kota Baru. Puskesmas pun mendata dan sesuai SOP, dilakukan pemantauan keluarga PDP. Pemantauan paling utama ada di RT/RW.

“Yang dilakukan petugas melakukan pendataan awal guna meminimalisir kontak dengan keluarga PDP. Karena kita tidak memiliki APD standar saat itu. Namun jangan karena tidak ada APD tidak dilakukan pemantauan sama sekali. Sehingga dilakukanlah pemantauan dengan WhatsApp dari petugas kita,” jelasnya.

Puskesmas pun sebenarnya sudah mengajukan usul rapid test pertama ke Dinas Kesehatan untuk keluarga tersebut. Namun memang prosesnya makan waktu. Tak bisa cepat. Hingga akhirnya suami M dan anaknya lebih dulu rapid test secara mandiri.

“Kalau dia mau menunggu beberapa hari kemudian, rapid test juga akan dilakukan. Rapid test akan dikirim ke kita dan kita akan melakukan rapid test kepada keluarganya,” katanya.

“Tapi jangan sampai usaha yang dilakukan menyalahkan pihak Puskesmas dan Dinkes Kota,” sambungnya.

Sejak muncul status tanggap darurat Covid-19, Puskesmas Gang Sehat menangani setidaknya 46 Orang Dalam Pemantauan (ODP). Penanganan pun masih meraba-raba karena baru ada satu kasus positif di Kalbar. Terlebih Pemerintah Pusat saat itu masih menggodok prosedur penanganan.

“Di April kita sudah 100 lebih ODP dan keluarga ODP. Jadi tidak bisa harus dipantau 24 jam. Kalau ada datang, ada rapid test, tapi untuk prioritas sebelum ibu M karena PDP cukup banyak,” katanya.

Selama M diisolasi, dia pun selalu menanyakan kabar dan hasil swab. Dengan menginformasikan lebih cepat, Puskesmas bisa mempersiapkan penanganan selanjutnya. Terlebih jika pasien tersebut positif.

“(Misalnya) begitu pasien M keluar hasil positif, maka Puskesmas bisa di-lockdown. Artinya dia sudah kontak dengan tenaga kesehatan, yang memang tidak dipersiapkan untuk penanganan Covid-19. Puskesmas lebih ke pencegahan Covid-19,” katanya.

Di sisi lain, dia mengucapkan terima kasih karena keluarga pasien peduli dan waspada. Sebab tidak sedikit keluarga pasien PDP yang cuek dan sulit diberitahu.

Sebelumnya diberitakan insidepontianak.com, Provinsi Kalimantan Barat diprediksi tak akan siap menangani ledakan kasus Covid-19. Hal itu dapat dilihat dari lemahnya pelacakan dan lamanya kepastian hasil swab atau Polymerase Chain Reaction (PCR) didapat. Terlebih, jumlah tenaga kesehatan yang terpapar virus Corona pun semakin banyak.

Contoh nyata dialami oleh M (petugas kesehatan) ketika mendapat perawatan di ruang isolasi RSUD Soedarso, Pontianak. Dia dirawat sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di rumah sakit itu sejak 21 April 2020. M dirawat setelah hasil rapid test-nya reaktif dan memiliki penyakit penyerta, seperti asma. Ketika itu, dia juga mengalami demam. Namun hingga 11 Mei, hasil swab yang diambil tanggal 23 dan 24 April masih belum keluar. Dia merasa kondisinya sudah membaik. Asmanya pun jarang kambuh.

Keluarganya diminta isolasi mandiri di rumah dan ditetapkan sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP). Mereka adalah suami, anak, ibu mertua, adik ipar dan ponakan M. Namun mereka tak kunjung ditangani Dinas Kesehatan Pontianak. Seharusnya, keluarga ini menjalani rapid test. Suaminya hanya dihubungi petugas Puskesmas Gang Sehat, Jalan Tani Makmur, Parit Tokaya, Pontianak Selatan, melalui aplikasi WhatsApp untuk menanyakan kondisi terkini. Ketika ditanya, kapan dia dan keluarganya diperiksa, petugas hanya mengatakan menunggu Dinkes Pontianak.

“Akhirnya rapid test secara mandiri, hasilnya nonreaktif, kami juga sehat tanpa gejala apa pun,” kata Andre, suami M kepada insidepontianak.com.

Kabar dari Dinas Kesehatan Pontianak baru muncul tanggal 8 Mei 2020, atau 17 hari sejak dia diminta isolasi mandiri. Petugas itu menghubungi lewat WhatsApp dengan tujuan mendata dan melakukan pelacakan kontak dari keluarga pasien. Ketika ditanya mengapa baru sekarang, petugas beralasan baru menerima data pasien dari Dinas Kesehatan Kalbar, Jumat (8/5/2020) siang.

“Dari kemarin sudah pesimis dengan penanganan seperti ini,” katanya.

Terlebih ketika melihat sejumlah kasus positif lain di Kalbar yang hasil swabnya keluar. Setiap Gubernur Kalbar atau Kepala Dinas Kesehatan Kalbar mengumumkan perkembangan kasus, terutama kasus-kasus negatif, Andre selalu berharap yang keluar adalah hasil tes istrinya.

“Anehnya, di beberapa kasus, hasil swab bisa diketahui lebih cepat,” katanya.

Apalagi ketika kasus yang diumumkan, pengiriman sampelnya berdekatan dengan pengambilan sampel cairan istrinya. Seperti pengumuman dua kasus positif baru 10 Mei 2020 oleh Wali Kota Pontianak, sampel itu dikirim 23 April 2020 ke Balitbangkes Jakarta. Hasilnya baru keluar setelah 19 hari.

Padahal, ketika Laboratorium RS Untan dipastikan bisa memeriksa sampel pasien Covid-19 dengan metode Polymerase Chain Reaction pertengahan April lalu, Gubernur Sutarmidji mengatakan, Kalbar tak perlu lagi kirim sampel swab ke Jakarta. Hasilnya pun bisa diketahui dalam satu hari. Di mana dalam sehari, 30 sampai 70 sampel dapat diuji.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *