Maria Goreti: Senator dari Rahim Jurnalistik

Anggota DPD RI, Maria Goreti. (ISTIMEWA)

Keberadaan Maria sebagai anggota DPD dari 2004 hingga sekarang, bukan muncul begitu saja. Ketika masih kuliah, dia dapat kesempatan berkunjung ke Gedung Senayan. Pada 1998, saat magang di Koran Kompas, Maria berkesempatan masuk di gedung rakyat tersebut untuk tugas peliputan. Ketika berjalan di selasar Gedung DPR RI, dia melihat anggota DPR RI dibawa dengan kursi roda. Orang itu sudah tua. Di kursi roda, anggota dewan tersebut terlelap. Tidur.

Maria tergelitik. Apakah anak muda tak ada lagi? Sehingga orangtua di kursi roda harus tetap jadi anggota dewan? Itu yang menginspirasi. Ada suara yang seolah berbisik padanya, “Kamu kan masih muda. Kalau tujuan murni, peluang itu bisa terbuka.”

Bacaan Lainnya

Ketertarikan terhadap dunia politik, juga dipicu dosen terbang dari Jakarta, (alm) Soedjati Djiwandono. Dia mengkritik situasi politik nasional, dan tingkah oknum politisi Indonesia. Justru hal itu, membawa rasa ingin tahu mendekati ranah tersebut.

Ada kegelisahan muncul. Apalagi melihat berbagai masalah di Kalbar. Ada eksploitasi terhadap sumber daya alam (SDA) dilakukan orang dari Jakarta. Masyarakat lokal tidak menikmati hasil. Ada pembangunan tidak adil. Kalbar tertinggal dari segi sarana dan prasarana.

Apalagi segala keputusan penting diturunkan ke kabupaten/kota dan provinsi, bersumber dari Jakarta. Jadi, Jakarta harus tetap ada orang dari Kalbar, sebagai penjaga gawang NKRI. Harus ada orang berkomitmen membangun manusia. Sehingga masalah itu bisa diselesaikan.

“Rasa-rasanya hanya bisa kita jawab dengan harus ada orang daerah yang di Jakarta,” kata Maria sebagaimana dikutip dari buku ‘Perempuan Kalbar’ yang ditulis Muhlis Suhaeri dan Nurul Hayat tahun 2014.

Jakarta pusat kekuasaan. Harus ada orang daerah yang membantu, melalui keputusan dan peraturan yang dibuat. Sehingga dapat membantu orang daerah. Caranya? Duduk sebagai anggota DPD RI. Lembaga negara yang pada awal pembentukannya, bebas dari partai politik.

Maria ingin menyalurkan hak politiknya. Pernah diberi kartu anggota sebuah partai besar. Tapi dia menyadari. Atasan partai politik itu orang Jakarta.

Maria berpikir, DPD saluran yang tepat. Pimpinan adalah rakyat sebagai pemilih. Ada sesuatu yang egaliter di DPD RI. Masyarakat yang baik biasanya memiliki nilai atau punya prinsip kesetaraan. Egaliter juga wujud perjuangan manusia menghilangkan diskrimasi, menuju masyarakat demokratis.

Maria sadar diri. Dia tak punya uang. Juga bukan dari keluarga dan lingkungan politik. Keinginan itu disimpan. Hingga ada kesempatan mewujudkannya nanti.

DISKUSI – Maria Goreti saat berdiskusi dalam MABIM,PMKRI Santo Thomas Moore Pontianak, 2 November 2013. (FACEBOOK MARIA GORETI)

Menghidupi Cita-cita

Lulus SMA Kandayan, Maria mendaftar universitas. Dia diterima di Jurusan Bahasa Inggris Untan dan Sekolah Penilik Higiene (SPH) milik Depkes RI di Pontianak. Satu kabupaten, hanya satu anak yang lulus di sekolah milik Depkes tersebut. Satu Kalbar hanya terima 30 orang. Sekolah itu langsung diangkat sebagai PNS.

Seluruh guru senang dan mengucapkan selamat. Tapi, Maria tak sanggup meneruskan. Tak ada dana. Daftar ulang di SPH Rp1 juta. Tahun 1991, jumlah itu cukup besar nilainya.

“Keluarga kami tak mampu mengupayakan pembayaran,” kata Maria sedih.

Begitu pun dengan daftar ulang di Untan. Biaya masuk sebesar Rp700 ribu. Dapat dibayar tiga kali. Juga tak ada uang. Akhirnya dia tutup buku. Kecewa. Guru juga sedih. Tak mudah sekolah di kecamatan dapat menembus dua kampus sekaligus.

Maria tak patah semangat. Dia bertekad mencari uang agar bisa melanjutkan studi. Dia menuju Nyarumkop, Kecamatan Tujuh Belas. Sebuah yayasan pendidikan. Ada SD hingga SMA. Maria bekerja sebagai penjaga kantin. Ketika jam istirahat selesai, ia bekerja di perpustakaan sekolah. Gajinya Rp30 ribu sebulan. Pada jam tiga subuh, dia bangun. Menggoreng pisang dan menjualnya ke kantin. Dari jualan itu, dia dapat Rp2.700 setiap hari.

Suatu ketika dia melihat papan pengumuman, penerimaan siswa berprestasi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Boleh juga nih, pikirnya. Dia mengirim lamaran lewat kantor pos. Maria mengirim raport enam semester. Dikirim Desember 1991. Paket tiba di Yogyakarta, Juni 1992. Kantor pos di daerah sulit terjangkau. Padahal proses pendaftaran dan administrasi lamaran beasiswa, harus rampung pada April 1992.

Ibu setengah hati memperbolehkan ia melanjutkan studi keluar daerah. Apalagi Maria baru pertama kali merantau. Abang pertama kuliah di Yogyakarta. Enam tahun tak pernah pulang. Abang pulang setelah selesai kuliah.

Ada hati yang terbelah. Maria anak perempuan satu-satunya. Dia pun bakalan lama pulang. “Mungkin kebayang juga dengan ibu. Saya juga tak akan pulang selama kuliah,” kata Maria.

Malam sebelum berangkat, Maria diberi wejangan sanak keluarga. Ada nasihat tak boleh pulang kalau bawa bayi atau hamil. Apalagi kalau pulang tak bawa ijazah. Saat Maria hendak berangkat, orangtua salah tingkah dan gugup. Ayah terus ke WC. Ibu mandi dan keramas lama sekali. Seolah tak pernah selesai.

Pukul 10.00 WIB, 20 Mei 1992, Maria berangkat ke Yogyakarta. Banyak tetangga mengantar. Mereka bingung dan bertanya. Anak perempuan satu-satunya diperbolehkan berangkat jauh. Apalagi dalam waktu tidak menentu. Merantau jarang dilakukan. Terutama bagi remaja putri.

Maria berangkat dari Kebadu menuju Singkawang, terus menuju Bandara Supadio di Pontianak. Dari Jakarta naik kereta api Senja Utama menuju Yogyakarta. Setiba di Yogyakarta, Maria baru tahu kalau surat lamarannya belum diterima pihak kampus. Dia gagal ikuti seleksi siswa berprestasi.

Akhirnya, dia ikut tes reguler di Atma Jaya Yogyakarta. Dia daftar di Ilmu Komunikasi. Ada dua jurusan. Jurnalistik dan Publik Relation (PR) atau hubungan masyarakat. Jurusan itu baru dibuka. Maria angkatan kedua. Penjurusan tak kaku. Lebih banyak ambil mata kuliah apa yang diminati. Dia lebih banyak ambil mata kuliah jurnalistik. Tak ada yang arahkan. Akhirnya ikut saja.

Kuliah di Yogyakarta adalah masa penyesuaian. Maria tak pernah jauh dari orangtua. Begitu kuliah harus pisah dari keluarga.

“Saya anak kecil baru umur 20 tahun,” kata Maria.

SERAHKAN BERKAS – Maria Goreti saat menyerahkan berkas pencalonan kembali anggota DPD RI periode 2014-2019 di KPUD Kalimantan Barat tahun 2013. (FACEBOOK MARIA GORETI)

Dia harus adaptasi. Ada perbedaan budaya. Ada hal yang boleh dan tak boleh dilakukan karena dianggap kurang sopan. Misalnya, bicara keras apalagi berteriak. Tak boleh meludah di depan orang lain. Duduk harus memiringkan kaki.

Ada yang khas dalam kehidupan masyarakat. Warga selalu bersyukur. “Mereka tak mengeluh jalani kesulitan hidup. Salat selalu rajin,” kata Maria. Meski tak punya modal uang, warga terus berusaha dan bekerja. Tidak lupa berdoa.

Maria belajar kecakapan hidup. Dia bekerja sebagai penjaga wartel. Pernah buka warung, menampung dan menjual koran bekas. Pada bulan puasa, dia bersama teman jualan kolak di bundaran Universitas Gajah Mada (UGM). Pagi membeli bahan kolak di pasar Demangan. Siang membuat kolak. Sorenya dijual. Maria juga membuat parsel dan menjual roti bakar. Tak ada waktu menganggur. Tapi, dia sangat menikmati. Tak ada rasa bosan. Dia betah tinggal di Yogyakarta.

Di kampus Atma Jaya, Maria aktif sebagai Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM). Dia jadi Ketua BPM FISIP Universitas Atma Jaya pertama di fakultasnya. Maria belajar membuat Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART). Mirip dengan pekerjaan legislasi. Dia pernah jadi Sekjen Liturgi, Bidang Ketakwaaan terhadap Tuhan YME. Maria pernah jadi koordinator Kelompok Studi Perempuan Atma Jaya.

Di luar kampus, Maria juga berkiprah di Presidium Intern PMKRI Santo Thomas Aquinas Yogyakarta. Juga jadi anggota Solidaritas Komunitas Pinggiran Kali Opak Terban Yogyakarta. Tugasnya, mengajar anak-anak yang tidak bisa sekolah formal dengan membaca, menulis dan berhitung.

Meski aktif di berbagai kegiatan, kuliahnya tergolong lancar. Tahun ketiga sudah Kuliah Kerja Nyata (KKN). Dari surat yang diterima abangnya dari keluarga, Maria mendengar ibu mulai sakit. Ibu sering melihat ke jalan. Dia memendam rindu.

Akhirnya, orangtua lelaki kirim surat ke abang, agar Maria pulang. Setelah 3,5 tahun, Maria bisa pulang. Pertemuan dengan ibu sungguh mengharukan. Mata ibu berkaca-kaca karena senang. Kerinduan terbalas sudah.

Tak terlalu lama di kampung, Maria balik lagi ke Yogyakarta. Dia bergegas menyelesaikan skripsi. Dia berburu buku di perpustakaan. Tak hanya di kampus Atma Jaya, juga perpustakaan kampus lain. Literatur tentang Kalimantan sedikit.

Dia ingin menulis tentang Kalimantan. Biayanya besar karena penelitian di Kalimantan. Akhirnya, tema skripsi fokusnya yang ada di depan mata saja. Dia ambil bidang penelitian di kampus. Sebenarnya, motivasi ke politik hampir sama dengan menulis. Ada keinginan menambah referensi tentang Kalimantan.

Maria lulus tercepat. Empat setengah tahun selesai. Dia lulus pada 1997. Maria diwisuda bareng kakak kelas. Wisuda perdana. “Bukan karena pintar. Tapi karena ingin cepat pulang,” kata Maria sembari tersenyum.

Tak puas lulus S1, Maria meneruskan S2 di FISIP UGM. Dia lulus pada 2002. Dengan bekal S2, dia amalkan ilmu dengan jadi dosen di STIEA-ABA Pontianak. Maria menjadi dosen sejak 2003.

Belajar dari Menulis

Maria sempat kerja di Yogyakarta dan Jakarta. Ada teman buat buku. Dia diminta bantu edit buku. Bayarannya lumayan. Maria dapat Rp400 ribu hingga Rp2 juta. Jumlah itu lumayan besar, saat itu. Dia juga penulis lepas di beberapa media. Seperti, Media Sadana, Media Kabar Bumi, Majalah Hidup dan Majalah DUTA, yang merupakan majalah Keuskupan Agung Pontianak. Maria senang menulis tentang lingkungan. Tulisannya pernah dimuat di The Jakarta Post.

Ada yang khas pada masyarakat di Kalbar. Ada simbiosis antara masyarakat, tanah, air, nilai luhur, dan penghormatan terhadap yang diyakini sebagai Tuhan. Semakin masuk ke kampung, ada sesuatu yang diyakini sebagai nilai adi luhung.

“Setelah masuk ke masyarakat, saya temukan lagi tempat kuliah di masyarakat Kalimantan,” kata Maria.

SAPA MASYARAKAT – Maria Goreti saat berkunjung ke Nanga Taman, Sekadau tahun 2016. (FACEBOOK MARIA GORETI)

Maria tak balik ke kampung sepenuhnya. Dia tinggal di Pontianak. Maria melamar di Majalah Kalimantan Review (KR). Ini majalah di bawah Institute Dayakologi (ID). Sebuah LSM yang menggeluti isu pemberdayaan masyarakat. Jurnalisnya disebut aktivis. Selama jadi reporter di KR, Maria meliput berbagai isu. Mulai dari adat istiadat, budaya, lingkungan, masyarakat adat, hingga persoalan sosial lainnya.

Majalah KR untuk kalangan sendiri. Sebagai jurnalis, dia selalu mendasarkan sesuatu berdasarkan fakta. Hal itu membuatnya terasah. Hidup lebih berwarna.

Di KR para jurnalis dibentuk menjadi jurnalis yang tidak boleh menerima amplop. Tidak boleh menerima sogokan. Menerima iklan pun harus dari instansi yang tidak bertentangan dengan lingkungan. Hampir dipastikan badan atau instansi yang identik dengan perusakan lingkungan, meski bakal pasang iklan mahal, akan ditolak pihak KR.

“Itulah idealisme yang dihidupkan para jurnalis sekaligus juga aktivisnya,” kata Maria.

Ada banyak pengalaman berkesan selama jadi jurnalis. Tahun 1997, belum ada jalan ke perbatasan di Aruk, Sajingan, Sambas. Orang harus pakai ojek. Ongkos mencapai Rp300 ribu. Kondisi jalan buruk. Dia boncengan seharian. Beberapa kali terjatuh. Dia terpaksa minum air mentah. Karena air yang dibawa tak cukup. Terpaksa air sawah dan parit menjadi pilihan.

“Kita angkat masalah PGRS-PARAKU,” kata Maria.

Dia ketemu perempuan yang tangannya buntung. Ketemu orang yang eksekusi. Warga masih trauma. Mereka khawatir dengan tamu atau orang yang datang. Dari Sambas menyusuri sungai Bantangan. Ada daerah bernama Sasak di Sajingan. Daerah itu lembab. Banyak rumah di atas air. Banyak warga terkena TBC.

Sangking jauhnya, si tukang ojek berkata, “Secantik apa pun orang Sajingan atau Aruk, saya tidak akan mau. Susah ngapelnya,” kata si tukang ojek pada Maria.

Pengalaman lain yang jadi kenangan tersendiri, saat meliput konflik sosial tahun 1999. Ketegangan saat meliput dengan taruhan nyawa. Dia naik motor. Berboncengan dengan Thomas Tion. Rencana liputan empat hari. Waktu liputan molor hingga dua minggu. Jalan putus dan kondisi keamanan di perjalanan kurang memungkinkan, untuk kembali ke Pontianak sesuai rencana.

Dari Pontianak menuju Sambas. Dia datang ke Tapakan Besi, antara Jawai dan Pemangkat. Di Sambas kerusuhan sudah terjadi. Selama liputan, tak ada toko buka. Dua hari tak ada warung buka. Tak ada pengganjal perut. Makanan anak-anak, Doremi, terbuat dari mie instan jadi alternatif. Harganya Rp 100 per bungkus. Tiga bungkus Doremi diberi air secukupnya.

Hari ketiga kerusuhan pulang dari Sambas. Jalanan sepi. Dia berhenti di Singkawang. Ada jatah nasi bungkus bagi tentara. Keduanya dapat bagian. Tengah hari tiba di pasar Samalantan dekat Tugu Perdamaian. Mulai terjadi pembakaran.

Maria turun dari motor. Dia ambil beberapa foto. Ada darah tercecer. Bau amis darah disertai hujan panas, sungguh menyesakkan dada. Tiba-tiba, ada orang muncul sambil bawa senjata tajam. Orang itu kecil tubuhnya. Mata terlihat merah. Juga ujung senjatanya. Dia mendekat. Dalam jarak dua meter, orang itu menciumi bau di sekitarnya.

“Mau apa ini? Mau ngorankan kami, ya?” tanya orang itu, sambil mengacungkan parangnya ke Maria.

“Maaf Bang. Kita ini sama-sama orang Kalimantan. Saya hanya bertugas mencari berita,” kata Maria, sembari berusaha tenang dan mundur.

Setelah itu, Maria pergi ke Rumah Sakit Serukam. Dia melihat para korban. Ada yang meninggal. Namanya, Martinus Amat. Maria sempat mendatangi makamnya. Makam itu baru saja ditutup. Ada taburan bunga.

Sorenya, Maria melihat pria kecil yang ketemu pada siang hari. Pria itu dibawa ke rumah sakit. Punggungnya ada luka memanjang. Perlu jahitan. Malam hari, keduanya menginap di rumah seorang guru di Kecamatan Tujuhbelas, Singkawang. Besoknya pulang dan melewati jalan Samalantan. Sudah aman. Tapi banyak rumah yang rata dengan tanah.

Perjalanan pulang ke Pontianak begitu berbeda. Hujan terus terjadi. Hujan seakan ingin mendinginkan hati manusia. Yang ketika itu diliputi suasana panas dan pertikaian.

“Yetie, tolong boncengin. Ngantuk,” kata Thomas Tion.

Maria ambil alih. Dia bawa motor dari Bengkayang hingga ke Pontianak. Dia tak berani injak rem. Takut motor mendadak mati. Padahal, tinggal pegang koplingnya saja, agar mesin motor tak mati. Maria heran. Dalam kondisi normal, dia tak bakalan sanggup mengendarai motor besar itu. Apalagi dengan jarak tempuh lumayan jauh. Dari Singkawang, Bengkayang, Sungai Pinyuh hingga ke Pontianak.

Berada dalam situasi konflik, serasa dalam kotak besi. Sumpek. “Kalau bisa, itu adalah konflik terakhir. Moga-moga tidak pernah terjadi konflik serupa di Bumi Kalbar yang kita cintai ini,” tutur Maria. Kalimat yang dia ucapkan, lebih bernada seperti doa.

Meski terjadi konflik, solidaritas di masyarakat tetap terjalin. Karenanya, dia menganggap hal tersebut bukan konflik horisontal. Konflik membuat semua warga susah. Apalagi dengan akibat yang ditimbulkan. Manusia harus cinta damai. Permasalahan pribadi atau perorangan tidak harus membuat kemarahan kolektif. Ketika terjadi masalah, seharusnya yang bertikai dipanggil.

“Kalau ada yang berperan sebagai ibu, peristiwa itu tidak akan terjadi,” kata Maria dengan nada serius. Meski begitu, dia tak ada rasa trauma. Perlu upaya dan antisipasi, agar peristiwa itu tidak terjadi lagi. Sebagai generasi muda, kita harus merekatkan kebersamaan, kata Maria.

Orangtua perempuan Maria datang ke kantor KR. Menemui Pemimpin Redaksi Majalah KR, Edi Petebang. Djanis berkata kepada Edi Petebang, “Itu anak saya perempuan satu-satunya. Kalau ada apa-apa gimana?”

Tugas sebagai jurnalis membuat antusias. Peran jurnalis penting dan terdepan. Memberitakan apa yang terjadi di masyarakat. Sehingga lebih banyak orang yang tahu. Memberi picu dan percikan. Dia cinta dan kagum dengan tugas jurnalis. Segala sesuatu harus berdasarkan fakta. Semua data dan fakta diolah untuk jadi kebijakan.

Media hanya memberitakan, bukan pengambil kebijakan. Itu yang membuatnya tak puas. Rasanya ingin bawa aspirasi itu langsung ke DPR. Apalagi KR majalah bulanan. Tidak semua berita dapat masuk. Majalah punya ideologi sendiri.

Semasa jadi jurnalis, Maria banyak lihat ketidakadilan. Banyak kayu Kalimantan dibawa orang Jakarta, tanpa warga dapat menikmati hasilnya. Banyak orang miskin karena kehidupan tak sehat. Sumber daya alam banyak, tapi penduduknya miskin.

Dia ingin berkarya di tempat lebih besar. Jadi wakil rakyat Kalbar di Jakarta. Ada kegelisahan. Yang rasanya hanya mungkin bisa dijawab dengan sebuah peraturan. Di mana membuatnya? Di Gedung DPR/MPR RI di Senayan, Jakarta. Namun, dia sadar. Tak ada uang.

Maria meneguhkan diri. Maju sebagai calon anggota DPD RI. Dia cari dukungan sebanyak 2.000 foto copy KTP. Dia malu-malu mengerjakannya. Bahkan, ada teman mengolok, “Siap-siap kalah ya.” Bahkan, atasannya berkata, dia harus berani memilih antara profesi sebagai jurnalis, atau mencalonkan diri sebagai DPD.

Maria pernah ditanya orang, “Kamu kan perempuan dan anak kemarin sore. Apa mungkin bisa mewakili?”

Maria tak mau menjawab. Dalam hati dia hanya berkata, “Cobalah beri saya kesempatan untuk melakukan itu.”

Dalam pemilihan umum 2004, Maria terpilih sebagai anggota DPD RI periode 2004-2009. Dia terpilih sebagai DPD RI pertama bersama 128 lainnya. Dia dapat 138.901 suara. Peringkat kedua dalam perolehan suara. Maria terpilih sebagai anggota DPD RI perempuan termuda. Dia berharap, perempuan semakin banyak di bidang politik. Perempuan dapat berkarya dan menginspirasi.

Anggota DPD RI harus punya sensitivitas. Melihat berbagai persoalan di masyarakat. Dia tak akan di DPD, kalau tak punya kepedulian. Pengalaman di jurnalistik, sensitivitas itu semakin tajam terasah. Dia lihat berbagai persoalan di masyarakat.

“Sensitivitas jadi lebih tajam, kalau kita keluar dari kotak dan sekat sosial,” kata Maria.

Dia melihat, pembangunan manusia masih bersifat tidak mendasar. Lebih kepada atribut atau simbol. Khusus di Kalbar, pembangunan harus lebih tertuju pada pembangunan sumber daya manusia (SDM). Sebab, indeks prestasi manusia (IPM) Kalbar, termasuk paling rendah se Indonesia. Setiap tahun, selalu urutan 27 atau 28 dari 33 provinsi di Indonesia. Angka kemiskinan masih tinggi. Padahal, Kalbar provinsi terluas keempat di Indonesia.

Buruknya penanganan kesehatan, berakibat pada warga. Orangtua perempuan, meninggal karena pendarahan bekas KB spiral yang sudah lama tak diganti. Pelayanan kesehatan sangat minim. Padahal, orang pakai spiral tak boleh lebih dari lima tahun. Masyarakat hanya diberi program, tapi tak didampingi. Karena itu, banyak ibu-ibu di Indonesia meninggal di usia muda.

“Penindasan struktural terjadi di Kalbar. Walaupun kadang orang tak menyadari hal itu,” kata Maria. Negara melakukan pembiaran terhadap warga. Hak mendapatkan kemakmuran dan pemerataan pembangunan, tidak dilakukan pemerintah pusat. Itulah bentuk penindasan struktural terhadap warga.

Yang menarik di DPD, berteman dengan orang di seluruh Indonesia. Simbol pluralisme ada di DPD RI. Potret kemajemukan. Di DPD dikondisikan cinta Indonesia. Sekarang ini, keutuhan RI sangat terasa. Merekat kebersamaan dalam bingkai RI. Maria pernah jadi Ketua Panitia Peluncuran Rancangan UU Anti Diskriminasi dan Etnis.

Dalam menangani suatu masalah, harus diberikan fakta-fakta baru. Misalnya, kasus konflik lahan di Mesuji. Fakta itu disodorkan dan ada konteks. Sehingga penanganan tepat. Suka atau tidak, di daerah dalam membuat Perda, UU, harus dapat melihat fakta yang ada. Jadi anggota legislatif bukan sembarangan. Orang harus mau bertanya dan mendalami.

“Saya rasa begitulah prasyarat legislatif. Mesti mau bertanya dan mendalami persoalan. Barulah kemudian merumuskan kebijakan,” kata Maria.

Tak heran bila Maria, pernah dapat berbagai penghargaan. Pada 2009, Maria dapat Kartini Award dari Majalah Kartini, untuk kategori politik. Maria menyisihkan tokoh nasional lainnya. Diantaranya, Khofifah Indar Parawansa, Rieke Dyah Pitaloka, Nurul Arifin, Marwah Daud Ibrahim, Eva Kusuma Sundari, Ida Fauziah, Ida Ayu Agung Mas, Latifah Iskandar dan Nursanita Nasution.

Maria gemar membaca sedari kecil. Dia mendapat banyak pengetahuan dari buku. Dia berpendapat, kuliah yang paling baik ada tiga. Yaitu, masyarakat, sekolah dan pengalaman orang yang dituangkan dalam buku. Buku itu menginspirasi. “Buku membuat manusia terbentuk secara optimal. Buku itu luar biasa,” kata Maria.

Salah satu yang membuat Maria suka dengan ilmu biologi, karena membaca buku mengenai dokter perempuan bernama Rachel. Buku itu tentang pengalaman anak yang dilarang orangtuanya, tapi akhirnya menemukan obat. Rachel orang biasa yang kemudian jadi penemu. Maria membaca buku itu berkali-kali.

Buku tentang Louis Braille juga jadi bacaan inspiratif. Braille menemukan huruf bagi tuna netra. Keterbatasan tidak menghalangi orang menemukan atau mencipta sesuatu. Tak heran bila, Maria hingga saat ini, tetap konsisten kirim buku ke pedalaman.

Maria belajar dari buku, masyarakat atau keluarga. Keluarga membentuk kepribadiannya. Dari keluarga, Maria belajar demokrasi. Keseriusan mengerjakan sesuatu, ada sejak anak-anak. Keluarga berperan penting dalam pembentukan karakter.

Keluarga mengajarkan banyak nilai-nilai. Tak boleh mencuri. Tak boleh bohong. Orangtua membentuk nilai dan konsepsi hidup pada sang anak. Lingkungan keluarga, lingkungan sekitar dan lingkungan hidup, semua berjasa.

Maria sadar diri bahwa, jabatan bisa saja mempermudah orang melakukan tindakan korupsi. Proses memperkaya diri tidak akan terjadi, kalau orang-orang sadar. Bahwa, ketika mereka meninggal, tak akan ada yang dibawa ke liang lahat. Ada etika, UU dan berbagai peraturan yang harus dijaga.

“Saya mencintai politik. Politik adalah pilihan dan jalan hidup. Berbagi dengan sesama untuk kemuliaan Tuhan,” kata Maria. Di tempat yang tidak terkotak-kotak. Bagaimana kesejahteraan bersama bisa tercapai di lembaga mana pun.

Ketika rehat dari kerja, dia isi waktu luang dengan buat kliping koran. Dia ingin buat jurnal. Dia senang berkebun. Maria paling senang melihat mawar merah di samping jendela kamarnya. Setelah seminggu terbuka kuncupnya. Mawar menyajikan harum semerbak ke sekitarnya. Lalu, pelan-pelan kelopaknya jatuh. Gugur. Manusia harus berperan dengan memotong ujungnya. Setelah bagian ujung dipotong, tumbuh pucuk baru. Mawar siap berbunga lagi. Ada kehidupan baru.

“Hidup ini misteri. Dan, campur tangan manusia itu harus ada, dengan tidak mengesampingkan peran Sang Ilahi,” kata Maria.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *