Bahasa dalam Forum Resmi

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Karim saat berpidato beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

Tersentak. Kaget, saat anggota DPR RI Komisi X, Ledia Hanifa anggota Fraksi PKS mengingatkan Mendikbud yang beberapa kali menggunakan bahasa Inggris dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR RI, Selasa, tanggal 28 Januari 2020. “Mengingatkan saja, karena ini adalah rapat yang tercatat dalam UU MD3, bahwa ini adalah rapat resmi. Maka penggunaan bahasa Indonesia digunakan dalam presentasi adalah hal yang penting dijadikan teladan bagi Mendikbud,” kata Ledia saat raker.

Penggunaan kata-kata asing/ Inggris yang sudah ada padanannya saat paparan Mendikbud seperti champion, spirit, combine, push, dan lainnya dalam forum  resmi sebaiknya dihindari. Kecuali belum ada padanannya atau untuk mempertegas suatu makna yang diserap dari bahasa asing.

Bacaan Lainnya

Kita akui di Indonesia ada tiga kelompok bahasa: bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing. Bahasa daerah bisa dipakai oleh masyarakat untuk berkomunikasi antarsesama warga suatu daerah  pada saat tidak resmi. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan tentunya harus kita gunakan dalam forum resmi atau saat komunikasi antarpenduduk yang berlainan bahasa daerahnya. Sementara bahasa asing bisa kita gunakan sebagai penyerapan ilmu pengetahuan dari luar negeri.

Penggunaan beragam bahasa dalam forum-forum resmi, bisa mengurangi pemartabatan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara. Hal ini sebagaimana diamanahkan dalam UU Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambar Negera, serta Lagu Kebangsaan. Sepuluh tahun berikut, tepatnya 2019, Presiden RI juga telah menetapkan regulasi penguatan tentang penggunaan bahasa Indonesia dalam Pepres RI Nomor 63 Tahun 2019.

Tahun 2019 Balai Bahasa Kalimantan Barat melakukan pemantuan dan penilaian penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik, media massa elektronik pemerintah sebagai tindak lanjut Surat Edaran Gubernur Kalimantan Barat tentang Pengutamaan Bahasa Negara. Objek  pemantauan dilakukan terhadap penggunaaan bahasa Indonesia pada nama-nama gedung, jalan, fasilitas umum, spanduk, serta media elektronik yang dipublikasikan oleh pemerintah. Dari  hasil pemantauan dan penilaian di kabupaten/ kota se-Kalimantan Barat masih banyak ditemukan penggunaan bahasa Indonesia yang belum sesuai dengan kaidah serta masih banyaknya penggunaan bahasa daerah dan asing yang kurang tepat.

Secara berkesinambungan dari tahun ke tahun Balai Bahasa Kalimantar Barat selalu mengimbau semua komponen masyarakat untuk mengutamakan bahasa Indonesia. Kecintaan, ketaatan, dan kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia idealnya harus menjadi kebiasaan kita dalam berkomunikasi sebagai komponen anak bangsa dalam forum-forum resmi di Kalimatan Barat.

Kepribadian suatu bangsa bisa tercermin dari pemakaian bahasanya. Penggunaan bahasa yang baik, bahasa yang sopan dan bahasa yang terstruktur  tentu akan menjadi nilai positif suatu bangsa. Sebagai bangsa yang besar tentunya kita sangat membutuhkan bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Disamping itu kita juga dituntut untuk tetap berupaya melestarikan bahasa daerah di Kalimantan Barat sebagai kekayaan budaya bangsa.

Tidak berlebihan bila semua pejabat negara selalu mengutamakan bahasa negara dalam forum-forum resmi, insyaallah bahasa Indonesia akan menjadi teladan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Ayo, kita martabatkan bahasa Indoneisa sebagai bahasa persatuan kita, perekat bangsa dan tentunya sebagai jati diri bangsa di Kalimantan Barat.

 

Penulis:

Kepala Balai Bahasa Kalbar, Aminulatif.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *