Karolin Margret Natasa: Bukan Sekadar Nama Besar Ayah

Bupati Landak, Karolin Margret Natasa. (PROKOPIM LANDAK)

Nama Karolin Margret Natasa tentu tak asing di telinga warga Kalbar. Jadi anggota DPR RI periode 2009-2014 dan 2014-2019, dia pun sempat maju pencalonan Gubernur Kalbar dalam Pilkada 2018. Selain sepak terjang di dunia politik, satu yang tak mungkin diabaikan orang, Bupati Landak periode 2017-2022 itu, anak mantan Gubernur Kalbar, Cornelis.

Kehadiran Karol–sapaan akrabnya–di dunia politik, setidaknya memunculkan anggapan munculnya dinasti politik dalam suatu partai. Ayahnya, Cornelis, mantan Gubernur Kalbar, juga sempat jadi Ketua DPD PDI Perjuangan Kalbar.

Bacaan Lainnya

Ia tak menampik pendapat itu. “Banyak tudingan ke saya. Kehadiran saya di politik seolah dipaksakan,” kata Karol.

Kehadiran seseorang di dunia politik tak dapat dipaksakan. Harus ada keinginan dan kemauan. Orangtua sekadar mendukung. Keputusan dikembalikan lagi kepada anak.

Dua sampai tiga tahun awal terjun ke politik praktis, jadi masa menyesuaikan diri.

“Pembuktian diri merupakan tahun-tahun yang tidak gampang,” kata Karol.

Kalau orang dapat percaya dengan ayahnya, orang harus dapat percaya dengan dirinya. Kepercayaan orang tumbuh karena dirinya. Bukan karena orangtuanya. Tapi, bukan berarti ia melangkahi orangtua.

“Kontribusi beliau sangat besar. Itu pasti. Tapi bahwa saya bisa mengemban amanat, itu juga harus dibuktikan,” kata Karol dalam buku ‘Perempuan Kalbar’ yang ditulis Muhlis Suhaeri dan Nurul Hayat tahun 2013.

Karol yakin waktu akan membuktikan. Kalau ia sanggup bertahan dan dapat membuktikan, stigma bisa dikurangi. Tak dapat hilang 100 persen. Semua tergantung kerja-kerja politiknya.

Latar belakang keluarga membuat orang mengikuti jalur profesi orangtua. Ada jalur yang sudah terbentuk. Hal itu tak bisa dipungkiri. Ada pada semua profesi. Polisi akan menempatkan anak jadi polisi. Anak artis jadi artis. Anak dokter jadi dokter.

“Tapi karena ini ranah politik, tentu gaungnya lebih besar,” kata Karol.

PERIKSA – Karolin Margret Natasa memeriksa warga dalam rangkaian Pilgub Kalbar tahun 2018. (FANSPAGE KAROLIN MARGRET NATASA)

Menyemai Pemikiran

Karol lahir pada 12 Maret 1982, dari pasangan Cornelis dan Frederika. Ia nomor dua dari tiga bersaudara. Abangnya, John Travolta Nang Niam Sidi Edo meninggal saat belia. Sebagai dua bersaudara, ia selalu kompak dengan adiknya, Angeline Fremalco.

Orangtua sangat peduli dengan pendidikan. Bagi orangtua, pendidikan modal utama. Itu yang harus diberikan. “Selebihnya tergantung pada anak sendiri,” kata Karol.

Ayahnya, pernah menjabat sebagai camat di Menjalin pada 1989-1995. Tahun 1995-1999, menjabat camat di Menyuke. Saat itu, Menjalin dan Menyuke termasuk Kabupaten Pontianak. Ketika Kabupaten Pontianak dimekarkan pada 1999, Menjalin dan Menyuke termasuk Kabupaten Landak.

Cornelis menjabat Bupati Landak dua periode. Periode pertama, 2001-2006. Periode kedua, 2006-2011. Pada periode kedua, ia mencalonkan diri sebagai gubernur. Ia terpilih dan menjadi Gubernur Kalbar, periode 2008-2013. Selanjutnya, pada pemilihan gubernur berikutnya, ia terpilih sebagai Gubernur Kalbar pada periode 2013-2018. Kini, ia wakil rakyat Kalbar di Senayan.

Orangtua ingin Karol sekolah di Pontianak. Tak sekadar sekolah. Harus sekolah bermutu. Syarat masuk SMP dan SMA menggunakan Nilai Ebtanas Murni (NEM). Karol harus mendapat NEM yang baik. Supaya bisa masuk sekolah terbaik.

Ketika SD, Karol pindah sekolah tiga kali. Kelas 1-2 SD, ia sekolah di SD Mempawah. Kelas 2-5 SD, sekolah di SD 1 Menjalin. Orangtua berpendapat, Karol tak akan sanggup bersaing kalau sekolah di kecamatan. Kelas 6 SD, ia pindah ke SD Amkur (Amal dan Kurban) Kesusteran Sambas.

Karol harus berpisah dengan kedua orangtua, demi mendapat pendidikan lebih baik. Ia dititipkan bersama adiknya. Kesusteran tidak menerima anak SD. Tapi, ayahnya bersikeras. Akhirnya diperbolehkan. Namun, adiknya tidak betah. Tiga bulan berselang, Angel pulang dan sekolah di Menjalin.

Melepas anak sekolah di Sambas, bukan sesuatu yang mudah. Kepentingan pendidikan membuat orangtua merelakan anak sekolah di Sambas.

Pisah dengan orangtua di usia dini tak gampang. Semua harus dikerjakan sendiri. Mandiri. Dari awal, Karol harus mengatur keuangan sendiri. Belajar berdasar kemauan sendiri. Ia mendapatkan nilai kemandirian di asrama.

Terkadang seminggu, dua minggu atau sebulan sekali, ayahnya datang ke asrama. Bukan perkara gampang menjenguk Karol. Menjalin dan Sambas cukup jauh. Apalagi di tengah kesibukan tugas sebagai camat.

Setiap libur sekolah, ia tidak boleh ke mana-mana. Harus pulang ke rumah dan tempat tugas ayahnya. Istilahnya, periuk nasinya di sana. Mereka tinggal di rumah dinas camat. Karol melihat ayahnya bekerja. Orangtua memberi pelajaran, bagaimana bekerja dan perjuangan menyekolahkan anak.

Karol merasa beruntung. Ia menyaksikan berbagai permasalahan di masyarakat. Mulai dari pagi hingga tengah malam, orangtua menyelesaikan berbagai persoalan. Mulai dari persoalan kecil, pertanahan, keamanan, kerusuhan hingga urusan rumah tangga. Semua menjadi urusan camat.

Pernah suatu pagi, Karol baru saja bangun. Sinar matahari belum berpendar. Ia beranjak ke ruang tamu. Sudah ada dua orang. Mereka berantem di ruang tamu. Pukul-pukulan. Ayahnya jadi penengah.

Melayani masyarakat bukan perkara gampang. Butuh waktu dan tenaga. Apa pun masalahnya, orangtua selalu turun langsung. Tak ada pendelegasian. Meski terkadang masalah tak terselesaikan, tapi bertatap langsung dan mengemukakan masalah dengan pemimpin, efeknya cukup besar. Orang merasa sebagian masalah sudah terselesaikan. Sebab ada yang mendengarkan.

INDONESIA RAYA – Presiden Jokowi, Cornelis dan Karolin Margret Natasa tengah menyanyikan Indonesia Raya di salah satu acara di tahun 2019. (FANSPAGE KAROLIN MARGRET NATASA)

Karol lulus SD dengan nilai baik. Selepas SD, ia mendaftar di SMP Gembala Baik di Kota Pontianak. Ia tinggal di rumah tantenya, Margaretha. Rumah itu ibarat penitipan. Tapi dalam lingkup lebih kecil bersifat keluarga. Angel, adik Karol dan sepupu tinggal di sana juga. Margaretha punya satu anak.

“Tinggal bersama harus belajar kerja sama,” kata Karol. Harus punya toleransi, tanggung jawab dan berbagi tugas. Tak bisa seenaknya. Intinya, mesti mengerjakan sesuatu secara bersama.

Tantenya punya usaha katering. Menjelang Hari Raya Idulfitri, banyak pesanan kue kering, basah dan kue lapis. Meski tante tidak mengharap bantuan, ia selalu membantu. Itu bagian dari kegiatan di rumah. Walaupun tak bisa membuat kue sendiri, ia paham tahapan dan proses pembuatan kue.

Lulus SMP Gembala Baik, ia melanjutkan sekolah di SMA 1 Pontianak. Saat penjurusan, ia ingin masuk IPS, ilmu sosial. Alasannya, ilmu IPS masih bisa diperdebatkan. Ibaratnya, satu ditambah satu tidak harus dua. Selain itu, ia suka berdiskusi dan menggali ilmu. Tapi ayahnya memberi saran, ia masuk IPA, ilmu pasti. Alasannya, lulusan IPA bisa masuk jurusan IPA dan IPS kalau melanjutkan kuliah. Lulusan IPS tidak bisa masuk jurusan IPA.

Karol memberontak. Ia tak terima dan kecewa. Kondisi itu berlangsung hingga setahun. Setelah itu, ia bisa menjalani dan menerima.

Lulus SMA, Karol disarankan masuk kedokteran. Alasannya? Masih sedikit orang Dayak jadi dokter. Selain itu, dokter profesi mandiri. Orangtua melihat dan merasakan, ada realitas di pedalaman kekurangan fasilitas dan petugas kesehatan di lapangan. Padahal, kalau boleh memilih, ia sebenarnya ingin jadi pengusaha. Tapi, bakat, minat dan jalur ke arah itu tak ada.

“Ayah selalu berkata, kalau suatu kaum ingin maju, harus dimulai dari kaum itu sendiri,” kata Karol. Kalimat itu merupakan firman Allah SWT dalam Alquran, Ar-Rad, ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mau mengubah diri mereka sendiri.”

Karol kuliah di Fakultas Kedokteran, Universitas Atma Jaya, Jakarta. Orangtua menjual tanah dan mobil. Orangtua tak memberi target terlalu banyak. Awal kuliah masa-masa sulit. Ayahnya dipindah tugas sebagai Camat Menyuke ke Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalbar. Tak ada jabatan. “Ayah dianggap terlibat pembakaran Gedung DPRD Kabupaten Pontianak,” kata Karol.

Di Jakarta, Karol tinggal di asrama Kesusteran Santa Ursula, dekat Katedral Jakarta. Ia tinggal dua tahun di asrama. Di asrama lebih murah dari pada kost sendiri. Untuk membeli buku pelajaran, butuh waktu satu hingga dua bulan, baru bisa terbeli. Ia harus naik angkutan umum ke tempat kuliah. “Sempat shock dan kaget. Bayar kurang sedikit saja, kondektur marah-marah,” kata Karol.

Selama kuliah, Karol aktif di organisasi. Ia pernah menjadi Presidium Pengembangan Organisasi di Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Jakarta Pusat, 2005-2006. Bahkan, ia pernah menjadi juara lomba debat antarfakultas di Universitas Atma Jaya. Karol bisa selesaikan kuliah tepat waktu. Baginya, pendidikan dokter merupakan anugerah. Ia bersyukur.

Lulus kuliah, Karol sempat menjadi dokter di Landak. Menjelang Pemilu Legislatif 2009, ayahnya mendorong masuk partai. Ia mencalonkan diri. Karol mendapat suara terbanyak nomor tiga secara nasional. Ia memperoleh 202.021 suara, di bawah perolehan suara Edy Baskoro Yudhoyono dan Puan Maharani.

Karol berpendapat, satu dokter mungkin tidak bisa mengubah keadaan. Namun, bila satu dokter menjadi politisi, ada kebijakan bisa diperbaiki. “Kalau ingin ada percepatan yang bisa dilakukan, pemegang kebijakan harus kita pegang,” kata Karol.

Diminta masuk IPA semasa SMA, kuliah di kedokteran, lalu masuk partai. Apakah Karol merasa terus diintervensi? “Ya,” jawab Karol. Tapi, ia berusaha konsisten. Ketika itu sudah dibicarakan, dan ia tidak bisa mengemukakan pendapat lebih baik, dalam arti kalah berargumentasi, ia harus menjalankan.

Intervensi pada awal saja. Selanjutnya, harus komitmen dan konsisten pada keputusan yang dibuat. Ia berpikir, kalau tidak diintervensi, apakah bisa seperti sekarang?

“Orangtua selalu mengajarkan konsistensi dan kerja keras,” kata Karol. Mengerjakan sesuatu mesti dengan niat. Pelaksanaannya, harus menggunakan segala sumber daya.

DEKAP – Karolin Marget Natasa memeluk salah seorang suster. ((FANSPAGE KAROLIN MARGRET NATASA)

Jalan Panjang Politisi

Memperoleh pendidikan dokter, merupakan keuntungan tersendiri. Pendidikan dokter dibiasakan berpikir runtut dan sistematis. Ada sebab dan akibat. Membiasakan diri berbicara berdasarkan evidence based atau bukti. Pendidikan dokter merupakan personal empowerment. Dokter dididik agar sanggup bekerja sendiri dan mandiri. Secara kemampuan dibekali sejak kuliah.

Hal itu dipraktikkan di dunia politik. Tidak ada keputusan politik dibuat, tanpa rapat, analisa dan kunjungan di lapangan. Semua harus ada dasar.

Lalu, apa tanggapan suami saat minta izin terjun ke dunia politik?

“Haruskah?” tanya dr Adhy Nugroho, ketika itu.

Izin pertama tidak sulit. Kebetulan, saat izin pertama, suami sedang menempuh pendidikan spesialis dokter, S2 di Jakarta. Itu yang membuat izin lebih mudah. Sebab, kalau nanti menjadi anggota DPR RI, Karol juga berkantor di Jakarta. Setelah jadi anggota DPR RI dan mulai beraktivitas, mulai muncul protes. Kesulitan itu dihadapi hingga sekarang.

“Kesulitan utama membagi waktu dengan keluarga,” kata Karol.

Itu proses tak mudah. Ia terus menyesuaikan. Belajar kompromi dengan waktu. Harus ada kompensasi. Tak mudah terjun di dunia politik. Semuanya boros. Boros waktu, uang dan sumber daya. Itu harus dikompromikan.

Aktivitas politik tidak seperti jam kantor. Masuk pukul 07.00 WIB, pulang pukul 15.00 WIB. Kadang hari libur ada acara partai. Atau, kunjungan ke dalam dan luar negeri. Itu hal sulit karena harus berpisah dengan anak, Jorrel Sandhyka.

Karenanya, kalau ada kesempatan dan waktu luang, biasanya bercengkrama dengan anak. Atau, pulang ke rumah orangtua di Pontianak. Melihat aktivitas orangtua, biasanya muncul semangat baru. Karol membandingkan usia ayahnya, 59 tahun, masih beraktivitas dari pagi hingga subuh. Dengan usia setengah dari usia orangtuanya, tentu ia malu melihat itu.

Pulang ke rumah orangtua bisa jadi penyemangat. Keluarga punya kebiasaan berbincang di meja makan hingga berjam-jam. “Ayah tidak punya kebiasaan menggurui. Cuma, dari diskusi di meja makan, terselip banyak petuah,” kata Karol.

Yang selalu jadi perhatiannya, meski dalam titik terendah sekali pun, tidak mempengaruhi bagaimana orangtua bekerja. Tetap pada standar yang ditetapkan sebelumnya. Secara fisik dan mental, tetap bekerja dengan semangat. Karol selalu terinspirasi dengan hal itu.

Karol diminta melihat, mendengar dan melaksanakan. Bagaimana ayahnya mengelola dan menggunakan kekuatan partai. Berhadapan dengan orang yang datang untuk menjadi tim sukses, dan lainnya. Tak ada sesi khusus menasihati. Kalau hanya dinasihati, mungkin tidak kena di hati dan tidak dilaksanakan. Mungkin saja ada banyak pertanyaan. Tapi kalau sudah dikerjakan, tak ada pertanyaan lagi. Tinggal melaksanakan saja.

“Proses itu memang lama,” kata Karol.

Sejak kecil ia selalu melihat, bagaimana orangtua melakukan kegiatan. Itu pendidikan nonformal yang penting dan sudah dijalani. Tanpa sengaja ada ketertarikan di bidang politik. Semua mengalir apa adanya. Sebab, ada dua macam pendidikan, formal dan nonformal. Pendidikan formal melalui sekolah. Nonformal melalui keluarga, lingkungan, dan lainnya.

Dunia politik, pendidikan nonformal lebih kental dan sangat menentukan sifatnya. Orang bisa saja dari latar belakang pendidikan formal beragam. “Saya mendapat pendidikan nonformal secara luar biasa dari ayah,” kata Karol.

Sejak kecil, Karol menyaksikan berbagai kegiatan politik, pemerintahan, kepemimpinan dari aktivitas orangtua yang bertugas sebagai camat, bupati hingga gubernur, dan ketua partai politik. Itu proses yang panjang.

Ia kagum saat ayahnya pidato. Berbicara dengan orang kampung, ayahnya dapat menyampaikan sesuatu dengan bahasa sederhana dan mudah diterima. Begitu juga saat bicara dengan PNS. Tahu materi pidato apa yang mesti disampaikan.

“Yang pasti harus menarik cara menyampaikan,” kata Karol.

Dalam teori leadership atau kepemimpinan, ada dua jenis kepemimpinan. Seorang pemimpin dilahirkan atau dibentuk. Kepemimpinan yang dibentuk akan lebih baik, kalau ada dasar-dasarnya.

“Anda merasa sebagai leadership yang dibentuk atau dilahirkan?” tanya saya.

“Saya tidak tahu. Apakah saya sudah termasuk ke dalam dua kategori itu,” jawab Karol.

Ia berpendapat, kalau melihat bagaimana cara orangtua mendidik, bisa saja ia termasuk kategori yang dididik. Begitu pun pemimpin yang dilahirkan. Dalam ilmu genetika, ada hal harus dimiliki, saat berada di dunia politik. Harus kuat secara fisik dan mental. Harus berani berspekulasi. Sebab, tak ada yang pasti di dunia politik. Tak ada pertemanan abadi. Yang ada hanya kepentingan abadi.

Begitu pun manajemen risiko di politik. Sangat besar. Sulit dikurangi risikonya. Apalagi risiko tak terduga. Cara mengurangi? Harus bekerja keras.

Untuk sukses di bidang politik, terutama di wilayah Kalbar yang begitu luas, politikus harus mau mendengarkan. Bertemu dengan konstituen. Berpolitik tentu berbicara mengenai kebijakan dalam ukuran makro dan mikro. Bicara mengenai kebijakan, tentu harus sesuai kondisi di masyarakat. Ketika ingin mendapat fakta, tentu harus berhadapan langsung dengan masyarakat. Melihat realitas yang dihadapi masyarakat dalam keseharian.

Selama menjalani kegiatan politik dan menjadi anggota DPR RI, ada beberapa pengalaman lucu dan unik. Suatu ketika, Yusak, Kepala Desa Mungguk Gelombang, Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang, mengancam akan mengibarkan bendera Malaysia, pada peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2011. Alasannya, pemerintah tidak memperhatikan pembangunan di daerah sepanjang perbatasan.

Karol ada suatu kegiatan di Kalbar. Ia tak ada rencana ke perbatasan. Media memberitakan secara terus menerus. Ia kesal melihat Bupati Sintang, Milton Crosby bicara terus mengenai hal itu di koran. Karol ingin membuktikan, apakah benar masyarakat tak mau menjadi warga negara RI lagi. Di tengah perjalanan, ia mengubah jadwal. Ingin melihat langsung protes warga Mungguk Gelombang.

Pemberitaan di media gencar sekali. Seolah situasi sedang gawat. Ketika hendak ke sana, teman melarang karena situasi dianggap sedang panas. Apalagi akan ada persiapan pengiriman pasukan Brimob ke perbatasan. Karol menelepon ayahnya.

“Pak, bagaimana kalau saya pergi ke perbatasan?” tanya Karol.

“Ya, pergilah,” jawab ayahnya dengan santai.

Rencana mendadak. Karol kehabisan uang. Ia mampir ke rumah teman. Pinjam uang. Perjalanan dari Sintang ke Mungguk Gelombang bukan perkara gampang. Jarak 200-an km dengan kondisi jalan tanah, berdebu dan lumpur tebal. Harus pakai mobil double gardan.

Begitu ketemu kepala desa, Karol langsung melontarkan pertanyaan, “Kau katanya ingin mengibarkan bendera Malaysia. Mau merdeka?” kata Karol.

“Bu, saya itu bendera Malaysia saja tak punya. Bagaimana mau mengibarkan bendera?” jawab kepala desa dengan lugunya.

Ada perasaan dongkol. Datang jauh-jauh dengan medan berat, ternyata tidak seheboh seperti digambarkan di televisi, atau pemberitaan di koran.

HADIAH – Bupati Landak, Karolin Margret Natasa memberikan hadiah kepada para anak. (PRIKOPIM LANDAK)

Sebagai politisi perempuan, Karol kagum perempuan berjuluk Iron Lady atau Perempuan Besi, Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher. Dalam kancah politik yang didominasi lelaki, Thatcher bisa berdiri tegak. Ada satu perkataannya yang cukup terkenal dan menginspirasi:

“Man stand up to speech, every body lesson. Women stand up to speech, if every body like their say and they will reason. If not they will not.”

Thatcher punya prinsip. Ia tahu ada standar ganda bagi perempuan terjun di dunia politik. Tapi itu tak menghalangi dalam berkarir. Ketika jadi perdana menteri, Thatcher tak takut menjalankan keputusan yang sudah dibuat. Demi menyelamatkan negeri. Bukan karir politiknya.

Thatcher berani melakukan tindakan tidak populis atau merakyat. Tapi hal itu demi kebaikan bangsa dan negara. Misalnya, ia tak setuju Inggris masuk Eropa Bersatu. Sekarang ini, Eropa Bersatu terguncang krisis. Krisis di Yunani tak juga berakhir. Semua negara Eropa Bersatu terkena imbas. Inggris aman saja.

Thatcher menjabat perdana menteri Inggris terlama pada abad 20. Ia menjabat dari 1979-1990. Kisah hidupnya telah difilmkan dengan sangat apik dalam film berjudul Iron Lady. Pemerannya, bintang peraih 16 nominasi Academy Awards, Meryl Streep. Sutradaranya Phllyda Llyod. Penulis naskah, Abi Morgan. Semua perempuan.

Megawati Soekarnoputri juga tokoh yang dikagumi. Kurang lebih sama. Perempuan tangguh dan punya prinsip.

Sebagai politisi, Karol selalu mengasah kemampuan. Caranya? Membaca, melihat dan merasakan. Ia selalu membaca buku dan bahan rapat, sebelum pertemuan dengan mitra kerja di departemen. Membaca suatu reakreasi. Berbagai buku dibaca. Mulai dari buku autobiografi, psikologi, ilmu pengetahuan, sastra, fiksi dan nonfiksi.

Tentu juga membaca buku yang berhubungan dengan pekerjaan yang dijalani. Buku yang berhubungan dengan pekerjaan, tentu menambah wawasan. Agak lucu tentu, kalau dalam suatu pekerjaan, tak tahu tentang sistem dan peraturannya.

“Dari membaca buku sastra dan fiksi, saya mendapat nilai kehidupan,” kata Karol.

Karol senang membaca novel karya Eike Yoshikawa berjudul Taiko, Musashi dan Heiko Story. Dari karya itu, gambaran mengenai budaya, karakter, strategi, seni kepemimpinan, dan sejarah kontemporer Jepang tergambar dengan baik.

Karol juga menyenangi novel sejarah berjudul Imperium dan Conspirata karya Robert Harris. Novel itu berkisah tentang Markus Tullius Cicero. Seorang senator, orator, konsul dan Bapak Republik Romawi abad pertama sebelum masehi. Cicero politisi yang berangkat dari bawah, hingga menjabat tempat tertinggi di pemerintahan Romawi.

Kunjungan kerja, reses, dan aktivitas di lapangan, membuat Karol melihat dan tahu kondisi sebenarnya masyarakat. Kalau mendengar laporan saja, tidak akan tahu. Kunjungan ke lapangan bisa merasakan apa yang dirasakan masyarakat.

“Semua itu bisa memberikan jiwa dalam pekerjaan ini,” kata Karol.

Karol telah menjalani banyak proses dalam berkarir. Hidup di Jakarta, dimulai dengan tinggal di asrama. Bayar kamar kost. Sewa rumah. Hingga punya rumah sendiri. Mulai dari naik angkutan umum. Naik taksi. Punya mobil sendiri. Hingga punya supir untuk aktivitasnya.

“Tapi kan grafiknya naik terus?” kata saya sembari bercanda.

“Iya. Tapi kan saya mulai dari nol sekali,” jawab Karol dengan serius.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *