Karolin Margret Natasa: Bukan Sekadar Nama Besar Ayah

Bupati Landak, Karolin Margret Natasa. (PROKOPIM LANDAK)

Nama Karolin Margret Natasa tentu tak asing di telinga warga Kalbar. Jadi anggota DPR RI periode 2009-2014 dan 2014-2019, dia pun sempat maju pencalonan Gubernur Kalbar dalam Pilkada 2018. Selain sepak terjang di dunia politik, satu yang tak mungkin diabaikan orang, Bupati Landak periode 2017-2022 itu, anak mantan Gubernur Kalbar, Cornelis.

Kehadiran Karol–sapaan akrabnya–di dunia politik, setidaknya memunculkan anggapan munculnya dinasti politik dalam suatu partai. Ayahnya, Cornelis, mantan Gubernur Kalbar, juga sempat jadi Ketua DPD PDI Perjuangan Kalbar.

Bacaan Lainnya

Ia tak menampik pendapat itu. “Banyak tudingan ke saya. Kehadiran saya di politik seolah dipaksakan,” kata Karol.

Kehadiran seseorang di dunia politik tak dapat dipaksakan. Harus ada keinginan dan kemauan. Orangtua sekadar mendukung. Keputusan dikembalikan lagi kepada anak.

Dua sampai tiga tahun awal terjun ke politik praktis, jadi masa menyesuaikan diri.

“Pembuktian diri merupakan tahun-tahun yang tidak gampang,” kata Karol.

Kalau orang dapat percaya dengan ayahnya, orang harus dapat percaya dengan dirinya. Kepercayaan orang tumbuh karena dirinya. Bukan karena orangtuanya. Tapi, bukan berarti ia melangkahi orangtua.

“Kontribusi beliau sangat besar. Itu pasti. Tapi bahwa saya bisa mengemban amanat, itu juga harus dibuktikan,” kata Karol dalam buku ‘Perempuan Kalbar’ yang ditulis Muhlis Suhaeri dan Nurul Hayat tahun 2013.

Karol yakin waktu akan membuktikan. Kalau ia sanggup bertahan dan dapat membuktikan, stigma bisa dikurangi. Tak dapat hilang 100 persen. Semua tergantung kerja-kerja politiknya.

Latar belakang keluarga membuat orang mengikuti jalur profesi orangtua. Ada jalur yang sudah terbentuk. Hal itu tak bisa dipungkiri. Ada pada semua profesi. Polisi akan menempatkan anak jadi polisi. Anak artis jadi artis. Anak dokter jadi dokter.

“Tapi karena ini ranah politik, tentu gaungnya lebih besar,” kata Karol.

PERIKSA – Karolin Margret Natasa memeriksa warga dalam rangkaian Pilgub Kalbar tahun 2018. (FANSPAGE KAROLIN MARGRET NATASA)

Menyemai Pemikiran

Karol lahir pada 12 Maret 1982, dari pasangan Cornelis dan Frederika. Ia nomor dua dari tiga bersaudara. Abangnya, John Travolta Nang Niam Sidi Edo meninggal saat belia. Sebagai dua bersaudara, ia selalu kompak dengan adiknya, Angeline Fremalco.

Orangtua sangat peduli dengan pendidikan. Bagi orangtua, pendidikan modal utama. Itu yang harus diberikan. “Selebihnya tergantung pada anak sendiri,” kata Karol.

Ayahnya, pernah menjabat sebagai camat di Menjalin pada 1989-1995. Tahun 1995-1999, menjabat camat di Menyuke. Saat itu, Menjalin dan Menyuke termasuk Kabupaten Pontianak. Ketika Kabupaten Pontianak dimekarkan pada 1999, Menjalin dan Menyuke termasuk Kabupaten Landak.

Cornelis menjabat Bupati Landak dua periode. Periode pertama, 2001-2006. Periode kedua, 2006-2011. Pada periode kedua, ia mencalonkan diri sebagai gubernur. Ia terpilih dan menjadi Gubernur Kalbar, periode 2008-2013. Selanjutnya, pada pemilihan gubernur berikutnya, ia terpilih sebagai Gubernur Kalbar pada periode 2013-2018. Kini, ia wakil rakyat Kalbar di Senayan.

Orangtua ingin Karol sekolah di Pontianak. Tak sekadar sekolah. Harus sekolah bermutu. Syarat masuk SMP dan SMA menggunakan Nilai Ebtanas Murni (NEM). Karol harus mendapat NEM yang baik. Supaya bisa masuk sekolah terbaik.

Ketika SD, Karol pindah sekolah tiga kali. Kelas 1-2 SD, ia sekolah di SD Mempawah. Kelas 2-5 SD, sekolah di SD 1 Menjalin. Orangtua berpendapat, Karol tak akan sanggup bersaing kalau sekolah di kecamatan. Kelas 6 SD, ia pindah ke SD Amkur (Amal dan Kurban) Kesusteran Sambas.

Karol harus berpisah dengan kedua orangtua, demi mendapat pendidikan lebih baik. Ia dititipkan bersama adiknya. Kesusteran tidak menerima anak SD. Tapi, ayahnya bersikeras. Akhirnya diperbolehkan. Namun, adiknya tidak betah. Tiga bulan berselang, Angel pulang dan sekolah di Menjalin.

Melepas anak sekolah di Sambas, bukan sesuatu yang mudah. Kepentingan pendidikan membuat orangtua merelakan anak sekolah di Sambas.

Pisah dengan orangtua di usia dini tak gampang. Semua harus dikerjakan sendiri. Mandiri. Dari awal, Karol harus mengatur keuangan sendiri. Belajar berdasar kemauan sendiri. Ia mendapatkan nilai kemandirian di asrama.

Terkadang seminggu, dua minggu atau sebulan sekali, ayahnya datang ke asrama. Bukan perkara gampang menjenguk Karol. Menjalin dan Sambas cukup jauh. Apalagi di tengah kesibukan tugas sebagai camat.

Setiap libur sekolah, ia tidak boleh ke mana-mana. Harus pulang ke rumah dan tempat tugas ayahnya. Istilahnya, periuk nasinya di sana. Mereka tinggal di rumah dinas camat. Karol melihat ayahnya bekerja. Orangtua memberi pelajaran, bagaimana bekerja dan perjuangan menyekolahkan anak.

Karol merasa beruntung. Ia menyaksikan berbagai permasalahan di masyarakat. Mulai dari pagi hingga tengah malam, orangtua menyelesaikan berbagai persoalan. Mulai dari persoalan kecil, pertanahan, keamanan, kerusuhan hingga urusan rumah tangga. Semua menjadi urusan camat.

Pernah suatu pagi, Karol baru saja bangun. Sinar matahari belum berpendar. Ia beranjak ke ruang tamu. Sudah ada dua orang. Mereka berantem di ruang tamu. Pukul-pukulan. Ayahnya jadi penengah.

Melayani masyarakat bukan perkara gampang. Butuh waktu dan tenaga. Apa pun masalahnya, orangtua selalu turun langsung. Tak ada pendelegasian. Meski terkadang masalah tak terselesaikan, tapi bertatap langsung dan mengemukakan masalah dengan pemimpin, efeknya cukup besar. Orang merasa sebagian masalah sudah terselesaikan. Sebab ada yang mendengarkan.

INDONESIA RAYA – Presiden Jokowi, Cornelis dan Karolin Margret Natasa tengah menyanyikan Indonesia Raya di salah satu acara di tahun 2019. (FANSPAGE KAROLIN MARGRET NATASA)
Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *