Bantah Polda Kalbar, Dinsos Pastikan Tujuh Pekerja Migran Tak Melarikan Diri

Kabid Pelayanan dan Rehabilitasi, Jalil Muhammad. (Andi/Insidepontianak.com)

PONTIANAK, insidepontianak.com –Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Kalimantan Barat, Jalil Muhammad membantah pernyataan Polda Kalbar soal adanya tujuh Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang kabur dari Dinsos.

Ia memastikan tujuh PMI tersebut keluar dari Dinsos dengan persetujuan.

Bacaan Lainnya

“Terhadap kasus tujuh PMI yang keluar dari Dinsos dan dijemput lagi oleh pihak Polda telah memenuhi persyaratan di Permensos 30, dan seizin kami ada surat pernyataan yang mereka berikan kita izinkan dijemput keluarga dan tidak ada masalah di sana,” ungkapnya saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (3/6/2020).

Untuk itulah, Jalil memastikan tudingan ke tujuh PMI tersebut melarikan diri tidaklah benar, karena mereka semuanya keluar secara resmi.

“Mereka keluar secara resmi, bukan melarikan diri, bukan kabur dan bukan hanya mereka saja, terdapat 42 orang yang keluar,” ujar dia.

Jalil megatakan, sesuai dengan Peraturan Menteri Sosial No. 30 Tahun 2017 pemulangan PMI dapat dilakukan secara mandiri atau pun dijemput keluarga atau saudara.

Selain itu, mereka yang dipulangkan juga telah memenuhi standar, mulai dari membuat surat pernyataan, meninggalkan KTP dan siap bertanggung jawab.

Tak hanya itu, sebelum dipulangkan PMI juga telah mengikuti protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dengan melakukan tes cepat atau rapid test dan hasilnya pun non reaktif.

“Selain itu, kita juga melakukan assesment, pembinaan, dan membuat pernyataan penjemputan dan karantina secara mandiri jika keluar dari shelter secara mandiri,” terangnya.

Jalil mengatakan, tujuh PMI tersebut masih berada di shalter Dinsos karena dititipkan Polda Kalbar. “Mereka dijemput dan dikembalikan kesini sebagai titipan bingung juga saya,” jelasnya.

Terkait koordinasi dengan Polda Kalbar, Jalil pun menyerahkan kepada pimpinan Dinsos, dan pihaknya masih menunggu kebijakan pimpinan.

“Sebagai Kabid kami menunggu untuk mengeksekusi kebijakan pimpinan,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Direktorat Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kalimantan Barat tengah melakukan penyelidikan terkait kaburnya tujuh orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dideportasi dari Malaysia, Minggu (30/5/2020).

Tujuh PMI tersebut diduga melarikan diri tanpa proses karantina di Kantor Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Barat.

“Tujuh orang ini kabur menggunakan mobil Terios, dibantu supir dan dua orang pengurus kemudian mereka kita amankan dan kemarin sudah dikembalikan di Dinsos Kalbar, untuk dilakukan karantina,” kata Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Kalbar AKPB Yudi Wiyono, kepada insidepontianak.com, Selasa (2/6/2020).

Yudi mengatakan, tujuh PMI tersebut kini masih dilakukan pendalaman apakah memang ada kerja sama antara Dinas Sosial (Dinsos), hingga tujuh PMI tersebut dilepaskan.

“Itu pendalamannya di situ, kalau ada pungli dan sebagainya maka kita serahkan ke Tim Siber Pungli,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga tidak menemukan dokumen yang tidak sah yang dibawa ketujuh PMI.

“Jadi sementara tindak pidana secara umum belum kita temukan,” tegasnya.

Dirinya pun memastikan, kaburnya tujuh PMI tersebut juga tidak dilaporkan Dinsos ke aparat kepolisian. Terungkapnya kasus ini, berawal dari kecurigaan petugas Subdit IV Ditreskrimum Polda Kalbar, adanya proses pengambilan beberapa orang kepada tujuh PMI.

“Kita berpikir jangan-jangan ini adalah penampungnya saat mereka berangkat ke Malaysia. Sehingga kita amankan mereka dan dilakukan interogasi, dan hasil penyelidikan mereka mengaku hanya disuruh untuk menjemput,” terangnya.

Kendati demikian, Subdit IV terus melakukan pendalaman dan tengah berkordinasi Dinsos Kalbar guna penyelidikan lebih lanjut. Berkaitan dengan protokol kesehatan pihaknya juga telah berkordinasi gugus tugas Covid-19 Kalbar, dan Dinas Kesehatan.

Sebelumnya Dinas Sosial Provinsi Kalbar kembali menerima 73 PMI yang dideportasi dan repatriasi dari Negeri Malaysia. 73 PMI tersebut terdiri 62 orang laki-laki dan 11 orang perempuan. (andi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *