Di Tepi Rawi Dan Dasi di Tengah Bidang Dinding

Judul: Di Tepi Rawi

Penulis: Lutfi Mardiansyah

Penerbit: Kentja Press

Cetakan: 2020

vi + 72 hlm. 12 x 18 cm

 

Sebuah ruangan biasanya diisi oleh benda-benda yang memiliki nilai fungsi. Lampu untuk menghadirkan penerangan. Ventilasi untuk sirkulasi udara. Jendela untuk sirkulasi cahaya dan udara yang lebih banyak –sekaligus penghubung pandang dengan dunia luar. Meja dan bangku untuk meletakkan kopi dan pantat.

Kita mungkin pernah menginap di sebuah hotel. Tiba di kamar, segera lepas alas kaki, melompat ke kasur, lalu tidur. Kita melakukannya karena kita yakin “ini adalah kamar hotel, diperuntukkan bagi tamu menginap selama apa pun sejauh dia sanggup membayar sewanya. Keyakinan kita ditopang fakta bahwa benda-benda yang berada di dalam kamar hotel tersebut memang benda-benda kamar hotel. Tidak ada keraguan bahwa itu kamar hotel, bukan kamar cuci foto atau kamar mayat.

Bayangkan seandainya tiba-tiba ada sebuah dasi nemplok di dinding, tepat di hadapan kita di kamar hotel itu. Dasi yang biasanya untuk dipakai di baju, tiba-tiba saja ada di dinding.

Sekiranya benda yang menempel di dinding itu itu sebuah lukisan dan bukan dasi, maka kita bisa berasumsi bahwa lukisan tersebut berfungsi untuk mempercantik interior ruangan. Tetapi, benda itu adalah dasi! Terpampang begitu saja di salah satu bagian dinding. Tanpa ada padanan lain di sekitarnya, misalnya kemeja dan celana panjang katun. Dasi tok.

Karena yang ada di sana, di dinding itu, adalah dasi, benda yang tidak wajar untuk sebuah kamar hotel, logika berpikir kita lantas diuji. Kita menjadi tidak bisa menerima keseluruhan konsep ruang hotel sebagai ruangan untuk menginap belaka. Boleh jadi kita akan bertanya, “untuk apa itu?”, “konsep kamar hotel ini bagaimana sih?”, “itu dasi bisa dipakai ndak?”, “ada orang lain di sini?”, “benarkah benda itu ada?” atau bahkan, “jangan-jangan ada hantu di sini”. Lalu kita lupa untuk beristriahat karena adanya benda tersebut.

Karena dasi itu, kesadaran kita terhadap sebuah ruangan menjadi lebih terbangkitkan.  

Seperti itulah kiranya kumpulan puisi Di Tepi Rawi karya Lutfi Mardiansyah. Hadir bagai sebuah dasi di ruang yang selama ini telah kita yakini sebagai sebuah konsep diri kita.

Kumpulan puisi yang terdiri dari 50 puisi ini sebagian besar merupakan puisi intertekstual: karya yang membutuhkan pembacaan terhadap karya lain lagi. Misalnya, pada puisi Es –adegan untuk Jose Arcadio Buendia. Tertulis di dua bait terakhir,

………

 

“Aku tahu ini,” gumamnya,

“metafora bagi trah Buendia.”

 

Manakala menyebut benda

yang menjeramah dingin itu

sebagai ‘penemuan terbesar

zaman ini,’ sebenarnya ia

hendak berkata, “Aku telah

menemukan sunyi.”

(hal 49)

 

Tak susah menebaknya bahwa puisi itu bereferensikan novel One Hundred Years of Solitude karya Gabriel Marquez. Sebuah novel masterpiece yang menjadi bacaan wajib pecinta sastra. Adegan kaum gipsy membawa sebongkah es untuk dipertontonkan ke khalayak ramai merupakan salah satu adegan penting di dalam novel ini.

Selain di adegan tersebut, kata “Es” juga berada di kalimat pembuka novel: “Bertahun-tahun kemudian, saat ia menghadapi sederet regu tembak, Kolonel Aureliano Buendia teringat sore yang jauh itu ketika ayahnya membawa dia untuk melihat es.”

Karena puisi Es ini muncul pertanyaan-pertanyaan di dalam benak saya. Buat apa Lutfi menuangkannya ke dalam puisi? Apakah Lutfi sedang berusaha menawarkan interpretasi baru tentang novel tersebut? Buat apa ia melakukannya sementara analisis terhadap novel itu sudah sangat buuaanyak? Bukankah sebaiknya ia menulis puisi untuk karya-karya yang belum dikenal khalayak, sehingga setidaknya puisinya punya manfaat sebagai penghubung ke karya lain yang belum dikenal itu?

Sejauh yang bisa saya terka, Lutfi berusaha mereka ulang “Es” di dalam One Hundred Years of Solitude ke dalam puisinya. “Es” bisa dimaknai sebagai sebuah simbol kemajuan zaman, penemuan besar, sekaligus lambang kesunyian.

Tetapi saya tidak yakin terkaan saya adalah barang baru. Barangkali sudah ada yang menginterpretasikannya demikian. Novel itu adalah novel yang terbit tahun 1967 dan sebuah masterpiece! Sudah barang pasti tidak luput dari kajian-kajian kesusastraan secara ilmiah ataupun tidak.

Puisi-puisi yang lain Di Tepi Rawi juga merujuk pada karya-karya (bukan hanya karya sastra) yang sudah ada. Antara lain, “Di Via Cappelo: kepada Shakespeare”, “Kucing Hitam : kepada Edgar Allan Poe”, “Kepada Ibnu Shakir”, “Di Terrace Café : kepada Vincent van Gogh”, “Don Quixote : kepada Cervantes”.

Maka, semakin saya bertanya-tanya. Maksudnya apa sih si Lutfi ini? Apa mau pamer bacaan?

Saya lantas berusaha membuat analisis lagi. Di Tepi Rawi tampaknya “memuisikan” karya-karya yang mengandung nilai-nilai tertentu sehingga punya relevansi dengan nilai-nilai yang ada saat ini dan nilai-nilai itu mestilah bersifat universal. Pilihan karya rujukan Lutfi tidak terbatas pada satu wilayah. Ada Shakespeare dari Eropa, Gabriel Marquez dari Amerika Latin, atau Ibnu Syakir dari Mesir. Seluruh penjuru dunia sepertinya ia coba jamah.

Tapi jujur saja, saya tidak yakin dengan analisis saya.

Beruntung, Di Tepi Rawi juga memuat karya-karya yang tidak membebani pembaca dengan rujukan bacaan lain. Lewat puisi-puisi model semacam itu, saya, kurang lebih mendapat sedikit pencerahan. Puisi terakhir di Di Tepi Rawi bisa dianggap sebagai lubang kunci. Judul puisinya, Di Atas Sebuah Puisi. Saya tulis tiga baris terakhir puisi tersebut:

….

Biarkan bahasaku

biarkan senyap

di atas gramatikal

yang kekal.

 

Jemari-jiwaku yang kalis

biarkan tersirap

 

di atas puisi yang mati

dalam bahasa yang senyap.

(Hal 66)

 

Kata “Mati”, “Senyap”, “Puisi”, “Bahasa”, “Tersirap”, diterakan sebanyak tiga kali dalam puisi tersebut, seolah memang diperhitungkan sedemikian rupa. Jelas, kata-kata tersebut memiliki kaitan satu sama lain, yang bukan sekadar menjalin larik puisi, namun juga makna. Makna apa yang kira-kira bisa didapat dari adanya kata-kata itu?

Makna yang anda bayangkan dan saya bayangkan mungkin berbeda. Yang jelas, Di Tepi Rawi tidak sedang bermaksud hanya memaksa kita untuk bernostalgia dengan buku-buku seperti One Hundred Years of Solitude atau Don Quixote. Terlalu dangkal jika Di Tepi Rawi bertujuan demikian semata.

Di Atas Sebuah Puisi menyiratkan sesuatu: setiap puisi Di Tepi Rawi, apakah puisi tersebut “merujuk” atau “tidak merujuk” suatu karya atau seseorang, berpagut antara satu sama lain. Melebur. “Jemari-jiwaku yang kalis/biarkan tersirap” ke dalam “puisi yang mati/dalam bahasa yang senyap”.

“Puisi yang mati dalam bahasa yang senyap”, saya duga, inilah titik temu semua puisi dalam Di Tepi Rawi. Ia bagai sebuah dasi di dinding kamar hotel yang diam dan senyap, namun bagaimanapun, ia ada dan hadir.

Barangkali akan berguna bila kita mengambilnya, lalu melilitkannya di kerah kemeja. Atau diperhatikan sambil mengira-ngira, apakah benda itu memiliki nilai kecocokan seni dengan konsep interior ruangan atau tidak. Atau justru diabaikan saja menggantung di dinding, anggap tak ada. Pilihan ada pada diri masing-masing.

 

Penulis:

Abroorza A. Yusra, seorang penulis, penggiat literasi, dan pendukung konservasi lingkungan. Kelahiran 1987. Bermukim di Singkawang, Kalimantan Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *