Bantah Pernyataan Hendropriyono, Syarif Abdullah: Sultan Hamid II Punya Jasa Besar

  • Bagikan
Anggota DPR RI dapil Kalbar, Syarif Abdullah Alkadrie.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Anggota DPR RI, Syarif Abdullah Alkadrie menyayangkan pernyataan mantan kepala Badan Intelejen Negera (BIN), AM Hendropriyono yang menyebut Sultan Hamid II sebagai penghianat bangsa.  Abdullah, menilai pernyataan itu tidak etis diucapkan, terlebih Sultan Hamid II punya jasa besar bagi Bangsa Indonesia yang tak bisa dibantahkan.

“Proses yang terjadi waktu itu tidak bisa beliau dicap sebagai penghianat bangsa. Kita bisa lihat bagaimana keterlibatan beliau dalam kemerdekaan, merancang lambang negara, yang kita pakai sekarang ini. Ini tentu suatu karya yang tidak bisa dibantahkan,” ungkap Syarif Abdullah Alkadrie, kemarin.

Sebagai tokoh bangsa yang memiliki banyak pengalaman, harusnya pernyataan Hendropriyono tak diucapkan. Apalagi kata Abdullah, hanya berkaitan dengan perbedaan pandang sebelum kemerdekaan Republik Indonesia terjadi. Beberapa tokoh nasional pun mengalami hal serupa.

“Yamin pernah berbeda pandang dengan Bung Karno, Tan Malaka, termasuk juga Buya Hamka. Artinya wajar adanya perbedaan pandang, dan proses waktu itu tak bisa dicap sebagai penghianat bangsa,” terang Syarif Abdullah.

Begitu juga tudahan Sultan Hamid II berpikiran federalis. Menurutnya hal tersebut merupakan suatu yang wajar pada masa tansisi pemikiran kala itu. Bahkan Hatta pun demikian.

Kendati demikian, faktanya Sultan Hamid II tidak terbukti menghianati negara dan mengubah negara. Walaupun di persidangan berkaitan dengan Westerling, Sultan sempat merasa kecewa.

“Ada niat, tapi itu tak dia lakukan karena kecintaannya kepada bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Justru faktanya, Sultan Hamid II telah berkontribusi besar kepada bangsa Indonesia lewat karyanya merancang lambang negara yang kini digunakan. Hingga kini, karya maha sempurna itu terus dipakai dan mendapatkan pengakuan seluruh masyarakat dan  Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Ini sudah fakta yuridis yang tidak bisa kita bantah. Dulu sampai saya kuliah semester III dan ikut penataran P4 masih mengatakan itu ciptaan Yamin. Tapi sekarang sudah tidak bisa terbantahkan dan sudah mendapat pengakuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahwa itu cagar budaya dan Sultan Hamid II sebagai perancang,” pungkasnya.

Sebelumnya beredar video berdurasi 06.13 menit yang menampilkan Hendropriyono berbicara tentang Sultan Hamid II. Video tersebut diunggah oleh Agama Akal TV dengan judul “Pengkhianat, kok diangkat jadi pahlawan? Part 1 AM Hendropriyono”.

Dalam video tersebut Hendropriyono menyebutkan alasan mengapa Sultan Hamid II tidak layak dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Dia menyebut Sultan Hamid II bukan pejuang tapi penghianat bangsa.

“Tiap tahun kan ada pengusulan untuk menjadi pahlawan nasional, pada peringatan 17 Agustus, hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Akhir-akhir ini kan gencar sekali saya menerima WhatsApp, saya kira ini viral ya di media sosial tentang pengusulan Sultan Hamid II dari Pontianak sebagai pahlawan nasional,” kata Hendropriyono.

“Saya ingatkan kepada generasi penerus bangsa, para kaum muda, jangan sampai tersesat dengan suatu usaha politisasi sejarah bangsa kita. Karena Sultan Hamid II Alkadrie ini bukannya pejuang bangsa Indonesia,” jelas Hendropriyono.

Hendropriyono menjelaskan, definisi pahlawan nasional adalah orang yang merebut dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sementara Sultan Hamid II dinilainya tidak masuk kategori tersebut.

“Dia sama sekali bukan itu, dia justru adalah tentara KNIL (tentara Belanda di Indonesia) yang pro ke Belanda. Jadi tidak pro ke Indonesia. Dia bahkan pernah ditugaskan untuk memerangi kita (Indonesia),” papar Hendropriyono.

“Dia dulu tahun 1949 ketika Indonesia berdasarkan KMB menjadi negara Republik Indonesia Serikat. Pada tahun 1950 rakyat menginginkan Indonesia menjadi negara kesatuan, dia tidak happy. Dia tidak senang. Dia tetap ingin menjadi federalis, dia ingin tetap menjadi Sultan Pontianak,” ungkapnya.

Selain itu, Hendropriyono menyebut Sultan Hamid II pun telah berkompot dengan Westerling.

“Nah dia ketika ada petualangan seorang bekas kapten KNIL yang bernama Reymon Westerling dia berkomplot sama Westerling dan sering ketemu di Hotel Des Indes. Itu tempat bertemunya Sultan Hamid II berkali-kali dengan Kapten Westerling Belanda,” tutupnya.

Pernyataan mantan kepala BIN ini tentu saja menyulut emosi dari sejumlah keturunan dan Yayasan Sultan Hamid II. Sabtu (13/6/2020) Pangeran Sri Negara Kesultanan Pontianak, Kalimantan Barat, Syarif Mahmud, melaporkan Hendropriyono ke Mapolda Kalbar. Sementara Yayasan Sultan Hamid II yang terus berjuang mengajukan nama Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional juga melakukan bantahan kepada media, Minggu (14/6/2020). Mereka menilai pernyataan Hendropriyono sangat menyinggung perasaan masyarakat Kalbar.

“Kami kira, stamen atau opini yang dikeluarkan oleh Hendropriyono sangat tidak bijak dan tidak tepat,” kata Ketua Yayasan Sultan Hamid II, Anshari Dimyati.

Ansari menegaskan, Sultan Hamid II tidak terbukti melakukan makar. Meski, akhirinya dia dipenjara 10 tahun atas tuduhan berkomplot melakukan penyerangan bersama Angkatan Perang Ratu Adil yang digawangi Westerling di masa Revolusi Nasional Indonesia.

Hal itu didasari dari putusan dalam dakwaan primer, atas keterlibatan Sultan Hamid II terkait dengan penyerangan Angkatan Perang Ratu Adil itu.

Angkatan Perang Ratu Adil sendiri merupakan milisi dan tentara swasta pro-Belanda yang didirikan pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

“Putusannya itu tidak terbukti. Jadi tidak ada body contact. Tidak ada tempur. Tidak ada tembak menembak. Tidak ada kejadian peristiwa pidana apa pun,” katanya.

Namun, peristiwa itu kemudian terus dipolitisasi. Sutan Hamid II yang dituduh berkomplot dengan Westerling kemudian digiring ke peradilan politik.

“Tetapi, dakwaan terhadap tuntuan peristiwa tersebut, telah dianulir secara hukum dan secara ilmiah. Dalam tesis saya, saya sudah membuktikan dan menganulir Sultan Hamid II tidak terbukti makar dan tidak terlibat Westerling,” tambahnya.

Justru fakta sebenarnya, Sultan Hamid II dinilai sangat berjasa terhadap bangsa ini. Karyanya sebagai pencipta lambang negara telah menjadi legasi. Akan terus dipakai sepanjang masa.

“Finalisasi itu juga dibuktikan oleh tesis Turiman Faturrahman, bahwa Sultan Hamid II adalah perancang lambang negara. Itu fakta,” katanya.

Tesis itu kata Anshari telah melewati basis ujian yang teruji dari para guru besar di Universitas Indonesia. (andi)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: