Sejarah Panjang Arboretum Sylva, dari Semak Belukar hingga Hutan Kota

  • Bagikan
EDUKASI - Sekelompok anak SD berwisata dan menjadikan Arborethum Sylva Untan sebagai sarana edukasi, untuk mengenal berbagai jenis tumbuhan di Kalimantan Barat khususnya, dan Indonesia pada umumnya. (Muhlis Suhaeri/Insidepontianak)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Civitas Akademika Fakultas Kehutanan Untan, tegas menolak rencana pembuatan kolam ikan dan kandang ayam oleh Fakultas Pertanian, yang berpotensi merambah area Arboretum sylva.

Dekan Fakultas Kehutanan, Gusti Hardiansyah mengatakan, sudah menyurati pihak rektorat agar rencana pembangunan kolam ikan dan kandang ayam tersebut tidak mengorbankan area Arboretum.

“Dalam surat itu, saya menceritakan bagaimana sejarah Arboretum. Itu, dari semak belukar. Orang dulu nanam jagung, padang rumput, sekarang jadilah hutan kota. Prosesnya 34 tahun itu,” katanya.

Selain berfungsi sebagai Ruang Terbuka Hijau, Arboretum kini juga menjadi tempat penelitian bagi mahasiswa kehutanan. Di dalam Arboretum itu, terdapat jenis kayu langka. Seperti kayu Ulin, Meranti hingga kayu Belian ada di dalamnya.

“Keanekaragaman hayatinya tertinggi kalau ukuran hutan di kota. Wali kota saat itu pak Sutarmidji, bahkan sampai diberi nama taman Arboretum Sylva untan. Itu kan kuat. Itu yang mau diganggu,” jelasnya.

Gusti menjelaskan, kawasan Arboretum awalnya seluas tujuh hektare. Namun, karena proses membuat hutan tak mudah, maka yang bisa dijadikan Ruang Terbuka Hijau, hanya 3,4 hektare.

Dalam aturan, setiap kota wajib memiliki RTH sebesar 30 persen. Sedangkan RTH di Kota Pontianak yang ada sekarang belum mencapai ketentuan itu.

“Masih belasan persen. Karena itu, ada kegiatan yang merambah  atau menebang pohon di RTH, ingat ada peraturan wali kota, bisa di-tipiring bila tidak ada izin,” katanya.

Gusti menyebutkan, rencana Fakultas Pertanian membangun kolam ikan dan kandang ayam memang di batas area Arboretum.  “Mereka minta disusun batasnya. Silahkan saja. Tapi tolong, jangan ada nebang pohon,” pesannya.

Selain itu, Fakultas Pertanian juga berencana mau membangun tembok pembatas memanjang. Tembok itu, dihawatirkan merambah paling tidak satu hektare wilayah Arboretum itu.

Hal-hal itu lah yang kemudian memantik mahasiswa dan alumni Kehutanan membuat petisi menolak rencana kegiatan pembangunan tersebut.

“Ini bukan soal menolak Prodi baru. Kita tidak ada urusan itu. Ini saya luruskan. Petisi yang muncul itu adalah sikap mahasiswa dan alumni mencintai Arboretum itu,” jelasnya.

Terkait polemik itu, Gusti mengaku sudah berkomunikasi juga dengan Wali Kota Pontianak. Sebab, Arboretum merupakan RTH milik Pemerintah Kota Pontianak.

“Pak Edi juga tidak setuju. Karena pembangunan Kota Pontianak itu, bukannya menyamping, tapi meninggi,” katanya.

Gusti menyarankan, Fakultas Pertanian membangun kolam ikan dan kandang ayam di lahan yang lain. Dia juga meminta Rektor Untan membuka masterplan rencana pengembangan pembangunan di Untan.

“Karena saya yakin, masterplan itu tidak akan merambah Arboretum itu. Karena Arboretum itu, sudah dikerjasamakan dengan pemerintah provinsi dan kota,” ucapnya.

Gusti mengaku kecewa terhadap hasil mediasi yang difasilitasi oleh pihak Rektorat belum lama ini. Sebab, tidak ada solusi yang konkret yang didapati.

“Kalau mau cari win-win solution lihat dulu sejarah. Hutan hanya 3,4 hektare mau rambah. Tapi intinya, saya ingin mendinginkan suasana. Atas nama Civitas Akademika Fakultas Kehutanan. Tolong lihat sejarah Arboretum itu,” tutupnya. (abdul)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: