Jarot Winarno: Dari Jakarta Mengabdi ke Pedalaman hingga Jadi Bupati

Bupati Sintang, Jarot Winarno. PROKOPIM SINTANG

Jarot Winarno percaya demokrasi di Kalbar, perlahan tumbuh baik. Ia sendiri telah membuktikan. Bisa terpilih menjadi Bupati Kabupaten Sintang. Padahal bukan putra asli Bumi Senentang. Kunci dari semua itu adalah, pelayanan yang tidak membedakan semua orang. Pengalaman itu dimilikinya dari sejarah panjang sebagai dokter di pedalaman Kalbar.

Fakta itu menjadi jawaban. Isu politik identitas tak melulu ampuh menjegal.

Bacaan Lainnya

Pekan lalu, kami berkesempatan bertemu dengan Bupati Sintang kelahiran Klaten, 22 Januari 1960, di sebuah kedai kopi dan warung makan di Jalan Purnama, Pontianak Selatan. Bupati Jarot datang lebih dulu. Memilih duduk di meja bundar, paling besar.

“Pertanyaan pertama,” kata Jarot berseloroh ketika kami sampai.

Karena pandemi Covid-19 belum berakhir, kami tak salaman. Duduk pun berjauhan.

Jarot, pemimpin berkarakter sederhana. Apa adanya. Gandrung diskusi di warung kopi. Atau, di ruang-ruang publik yang terbuka. Senang berkumpul dengan anak muda.

Bupati lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) itu rendah hati. Jenaka. Rock and roll. Pencinta olahraga. Khususnya bola. Fans fanatik Manchester United. Sebuah klub papan atas Liga Inggris berjuluk Setan Merah.

Bupati Jarot Winarno saat menonton langsung Manchester United di Stadion Old Trafford, Manchester, tahun 2019 lalu. INSTAGRAM WINARNOJAROT

Jarot terpilih sebagai Bupati Sintang hasil Pilkada 2015. Wakilnya Askiman, dari kalangan birokrat. Mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sintang di masa kepemimpinan Milton Crosby.

Jarot-Askiman memenangi Pilkada 2015 dengan perolehan 93.778 suara atau 41,70 persen. Mengalahkan pasangan Agrianus-Muhammad Chomain Wahab dengan raihan suara 67.320 atau 29,93 persen, dan pasangan Ignasius Juan-Senen Maryono, yang mendapat 63.811 suara atau 28,37 persen.

Sebelum jadi Bupati, Jarot pun pernah jadi wakil Bupati Sintang mendampingi Milton Crosby periode 2005-2010.

“Saya Wakil Bupati dulu. Terpilih jadi Wakil Bupati, ketika era Pilkada yang elektoral. Yang kedua, saya ikut pemilihan bupati, lalu terpilih juga. Itu yang orang heran. Kenapa saya bisa terpilih. Padahal saya bukan putra daerah,” katanya.

Fakta itu, menjadi catatan penting dalam perjalanan demokrasi di Kalbar. Setidaknya, bisa menjadi motivasi. Bahwa semua orang punya kesempatan yang sama, menjadi pemimpin di mana pun. Yang penting, kuncinya niat membangun dan melayani masyarakat dengan tulus. Tanpa membedakan agama, ras, dan golongan. Kepercayaan masyarakat akan tumbuh dengan sendirinya.

View this post on Instagram

Jarot Winarno percaya demokrasi di Kalbar, perlahan tumbuh baik. Ia sendiri telah membuktikan. Bisa terpilih jadi Bupati Sintang. Padahal bukan putra asli Bumi Senentang. Fakta itu menjadi jawaban. Isu politik identitas tak melulu ampuh menjegal. Pekan lalu, kami berkesempatan bertemu dengan Bupati Sintang kelahiran Klaten, 22 Januari 1960 itu, di sebuah warung makan di Jalan Purnama, Pontianak Selatan. Bupati Jarot datang lebih dulu. Memilih duduk di meja bundar, paling besar. Bupati lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu rendah hati. Jenaka. Rock and roll. Pencinta olahraga. Khususnya bola. Fans fanatik Manchester United. Baca selengkapnya di insidepontianak.com atau klik tautan di bio @insidepontianakcom. #insidepontianak #pontianak #kalbar #beritapontianak #beritakalbar

A post shared by insidepontianakcom (@insidepontianakcom) on

“Anda mesti melihat. Mesti menghargai masyarakat Kalbar secara keseluruhan. Kenapa saya menang Pilkada di Sintang? Karena masyarakat menggandrungi demokrasi yang lebih baik. Mereka tidak sektarian,” sebutnya.

Labelisasi kekuatan finansial memang masih diyakini ampuh memenangi pertarungan Pilkada. Siapa yang punya modal tebal, dia yang akan menang. Namun, Jarot mematahkan stigma itu. Ia mengklaim, tak punya uang banyak saat Pemilu 2015. Modal pas-pasan untuk akomodasi-transportasi menemui masyarakat di masa kampanye.

“Saya dengan Pak Wakil itu termasuk peserta Pilkada dengan dana minimalis. Tapi bisa jadi, dengan pemilih 200 ribu lebih,” katanya.

Karena itu, Jarot meyakini, masyarakat sudah semakin cerdas berdemokrasi. Semakin dewasa. Tak mudah terprovokasi politik identitas. Ia pun berpandangan, negara bisa maju bila demokrasinya berkualitas.

“Kita harus memberi kesempatan setiap orang untuk bisa mengartikulasikan hidup mereka,” katanya.

Demokrasi yang baik, menurutnya, partisipasi publiknya tinggi dan tulus. Terakomodir. Selain itu, masyarakatnya terlibat langsung sebagai subjek pembangunan.

“Itu kunci mau tidaknya daerah itu maju,” katanya.

Bagi Jarot, konsep open goverment menjadi penting dalam membangun peradaban demokrasi. Transparansi dan akuntabilitas, menjadi kunci dalam membangun kepercayaan publik.

Trust (kepercayaan) dulu modalnya. Baru ke depan nanti dapatlah demokrasi yang berkualitas dengan partisipasi publik yang bagus,” ujarnya.

PERIKSA – Jarot Winarno tengah memeriksa pasien saat masih bertugas di Puskesmas padalaman Sintang. INSTAGRAM WINARNOJAROT

Tugas di Pedalaman

Jarot terpilih jadi Bupati Sintang tidak secara instan. Ada proses panjang. Ia bisa dipercaya masyarakat, karena pengabdiannya di pedalaman sangat panjang.

Tahun 1986, Jarot lulus sebagai sarjana kedokteran di UI. Setelah lulus, ia langsung dapat penempatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soedarso di Kota Pontianak.

“Kadang-kadang bantu sedikit di Rumah Sakit Antonius,” ungkapnya.

Tak lama bertugas di RSUD Soedarso sebagai dokter umum, pada tahun yang sama, ia ditugaskan menjadi dokter di Puskesmas pedalaman Sintang.

“SK saya itu di Nanga Ketungau. Ketungau Hilir, Sintang. Daerah perbatasan,” katanya.

Tahun 1987, ia kembali dimutasi ke Nanga Pinoh (kini Melawi). Di masa itu, Nanga Pinoh masih menjadi wilayah Kabupaten Sintang, yang pada akhirnya pun memisahkan diri menjadi kabupaten sendiri.

Selama bertugas di pedalaman Sintang melayani kesehatan masyarakat, tak sedikit kenangan yang tak bisa dilupakannya. Karakter masyarakat tradisional di pedalaman, menjadi tantangan tersendiri baginya yang datang dari kota.

“Kalau di pedalaman itu, masyarakat belum disuntik, dianggap belum berobat,” ujarnya.

Bertahun-tahun gerilya di kampung, Jarot sampai fasih berlogat Dayak khas Sintang. Pun sampai sekarang. Nyaris tak menandakan kalau ia adalah orang yang besar di ibu kota negara.

“Kalau pasien di pedalaman nanya tu selalu begitu. Bapai sepucuk? Sepucuk itu satu kali suntik. Tiga ribu kita bilang. Kalau belum suntik belum berobat,” katanya lagi.

Menurutnya, masyarakat pedalaman pemikirannya sangat sederhana. Mereka yang tak punya uang, menawarkan barter barang untuk biaya berobat.

“Dia bayar pakai manuk (ayam) kita terima,” katanya.

Meski begitu, masyarakat pedalaman tetap menghitung harga barang yang dibarter untuk biaya berobat. Bila barang barter nilanya tinggi, tetap ditagih kembaliannya.

“Misal satu pucuk suntik Rp 3 ribu. Dua pucuk suntik berarti Rp 6 ribu. Manuknya itu harganya Rp 7.500. Kita ditanya, mana kembalinya,” kenang Jarot.

Dalam kepalanya, makhluk ekonomi yang tinggal di desa atau pun di kota, karakternya tetap sama. Semua punya sifat tidak mau rugi.

“Di pedalaman, ada hitungan bisnis juga. Tapi, kita banyak juga membantu masyarakat berobat secara ikhlas,” sebutnya.

Hingga 1997, fasilitas kesehatan di pedalaman kurang bagus. Dokter langka. Bahkan, satu dokter bisa rangkap tugas di tiga Puskesmas.

Apalagi di tanah Pinoh. Orang pergi berobat ke Puskesmas saja harus pakai sampan. Belum ada jalan darat ketika itu. Masyarakat mesti berjuang melewati arus jeram untuk dapat pengobatan.

“Satu sampan yang berobat bisa lima sampai enam orang,” katanya.

Sebagai dokter, tentu setiap pasien yang datang berobat dilayani dengan baik. Pasien yang datang berobat penyakitnya macam-macam.

“Ada yang sakit maag, saya kasih obat maag. Sakit tulang, saya suntik kasih obat penghilang nyeri. Malaria saya kasih obat malaria,” katanya.

Begitu pun orang yang sakit karena kurang darah, diberi vitamin tambah darah berwarna merah. Nama vitaminnya Sulfas Ferosus.

Suatu waktu, kata Jarot, ada peristiwa lucu. Sejumlah pasien yang sudah berobat, tak mau pulang. Mereka justru kumpul di lanting Puskesmas. Yang di atasnya, tepat berdiri pohon kapuk. Padahal masing-masing sudah selesai diperiksa dan diberi obat.

TINJAU – Bupati Jarot Winarno saat meninjau pembangunan di Nanga Serawai tahun 2017. INSTAGRAM WINARNOJAROT

“Apai lagi belum balek ni?” tanya Jarot.

Rupanya, mereka merasa tidak adil diperlakukan. Sebab, tak diberi pil merah penambah darah. Sementara ada satu pasien diberi vitamin tambah darah itu.

“Lalu, obat itu dibagi rata oleh mereka. Ajaibnya mereka sembuh semua. Padahal ndak semua mereka itu kurang darah,” kenang Jarot sembari tertawa.

Pengalaman bertahun di pedalaman, mengajarkan bahwa sebenarnya, keterbatasan petugas medis dapat membuka ruang kerja sama antarpelayanan moderen dan tradisional.

“Kalau orang digigit ular, saya kasih obat anti bisa ular. Saya obati secara medis. Tapi mereka juga percaya dengan rapal doa. Dikasih tapal-tapal,” ungkapnya.

Prinsip Jarot, pengobatan tradisional boleh saja dilakukan masyarakat. Sepanjang tidak ada racikan obat yang diminumkan. Begitupun rapal doa, mantra, tidak dilarang bagi yang meyakini.

“Kita harus kasih tempat lah,” ujarnya.

Selama tiga tahun menjalani profesi dokter di pedalaman, Jarot pernah rangkap kerja di dua Puskesmas yakni di Ketungau Hilir dan Nanga Pinoh. Jarak antar dua puskesmas itu sangat jauh. Belum lagi wilayah cakupan kerja. Ada satu kampung butuh waktu enam jam jarak tempuh.

Rangkap kerja di dua Puskesmas tersebut menunjukkan saking minimnya tenaga medis ketika itu. Kondisi itu membuat peranan dukun patah tulang di pedalaman masih besar. Begitu pun jasa melahirkan dukun beranak. Pengobatan tradisional masih menjadi rujukan masyarakat.

“Kita sama-sama lah dengan mereka. Kita kolaborasi. Karena kita tidak bisa kerja sendiri. Tapi ada batasan dukun beranak boleh melayani. Dia wajib lapor kepada kita. Atau kita dampingi,” terangnya.

Generasi Baby Boomers

Bagi Jarot, bertugas melayani kesehatan masyarakat di pedalaman bukan keterpaksaan. Tugas di pedalaman merupakan pilihannya sendiri. Ia memang punya hobi petualang.

“Jadi saya anggota Mapala UI. Nomor anggota 174. Saya kan generasi baby boomers. Generasi ini ciri-cirinya satu: dia tu maunya jadi frontier. Paling depan. Paling duluan. Paling jauh. Suka demo. Cita-cita ‘mati muda’. Idealismenya begitu,” sebutnya.

Selain aktivis kampus, Jarot juga pencinta seni. Pernah menjadi Ketua Badan Film Mahasiswa UI. Pernah menggarap projek kesenian bareng sutradara beken, Teguh Karya.

“Dewi Yul kalau datang masih pakai bajaj,” sebutnya.

Pengalaman sewaktu kuliah itulah yang membentuk karakter Jarot menjadi orang yang suka tantangan. Hingga mengantarkannya bertugas ke pedalaman Sintang di tahun 1986 sampai sekarang menjadi Bupati.

“Jadi saya kalau pergi tidak ada challenges-nya tidak mau. Pinoh itu dikenal sebagai Kota Seribu Riam. Itu tantangan bagi saya. Tahun lalu, saya coba lagi tuh,” katanya.

DISKUSI – Jarot Winarno dikenal sebagai sosok yang suka diskusi di warung kopi. Dia tahan duduk berjam membahas hal krusial, dari pembangunan sampai sepakbola. INSTAGRAM WINARNOJAROT

Di Kalbar, Jarot sebatang kara. Tiga saudaranya perantau. Sama sepertinya. Ada yang tinggal di Medan, ada di Singapura, ada di Kuala Lumpur, Malaysia. Sedangkan istrinya, Dr Hj Fauziah Zaenal Ehsan dan satu anak perempuannya juga menetap di Kuala Lumpur, Malaysia. Istri Jarot merupakan kaki tangan kerajaan Jiran, sekaligus dosen di Universitas Internasional Malaysia.

Jarot sendiri merupakan anak seorang tentara. Didikan disiplin dan mandiri sejak kecil diajarkan. Sang ayah selalu menamamkan nilai-nilai perjuangan.

“Ayah saya tentara. Pesannya ke anak laki-laki, jangan diam di Jakarta. Sehingga saudara saya yang laki-laki semua merantau,” katanya.

Menjadi dokter, memang dorongan keluarga. Tapi sebenarnya, Jarot punya cita-cita ingin menjadi sarjana Metalurgi, di Fakultas Teknik Metalurgi UI.

“Saya ini awalnya mau jadi sarjana Metalurgi. Yang olah besi itu. Jadi orang tua bilang: lo, daftar di kedokteran aja. Belum tentu diterima di Fakultas Teknik Metalurgi. Akhirnya, ya sudah. Tahu-tahu keterima di kedokteran. Ya jadi dokter lah,” katanya.

Motivasi Menjadi Bupati

Pengalaman Jarot bergerilya di pedalaman Sintang menjadi seorang dokter, telah membuat matanya terbuka lebar. Banyak persoalan masyarakat yang disaksikannya langsung. Mulai dari infrastruktur yang buruk, pelayanan kesehatan yang minim, sekolah tak layak, tidak ada listrik, kemiskinan tinggi, dan masih banyak masalah sosial lain.

Sebagai orang yang besar di Jakarta, Jarot terbiasa melihat infrastruktur yang bagus. Sekolah modern. Listrik 24 jam. Namun, saat ia masuk di pedalaman, kondisi itu terbalik 180 derajat.

“Di pedalaman, listrik hanya 12 jam. Listrik hidup hanya dari jam enam sore sampai jam enam pagi. Infrastruktur dasar buruk. Angka kemiskinan tinggi. Ketahanan pangan dan gizi tidak tersedia,” sebutnya.

Tahun 1992, ia pun diberi tanggung jawab menjadi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang. Saat itu, usianya masih 30 tahun. Masih bujangan.

Diberi kesempatan menjadi Kadiskes, Jarot berusaha maksimal membantu kepala daerah menyelesaakan sengkarut pelayanan kesehatan se kabupaten. Namun, menjadi Kepala Dinas Kesehatan rupanya tak cukup cepat melakukan perubahan. Apalagi persoalan yang dihadapi sangat kompleks.

“Itulah yang mendorong saya maju di Pilkada langsung tahun 2005, mendampingi Pak Milton,” ujarnya.

Sebagai pendatang, lalu jadi calon wakil bupati, praktis Jarot mendapat penolakan dari sebagian kelompok masyarakat. Isu ras dan agama menjadi jualan politik kala itu.

“Dibantai kiri kanan sudah biasa. Mobilisasi politik menggunakan isu suku ras, kita disikat habis. Tapi itu biasalah dalam politik,” katanya.

Perjuangan panjang itu pun berhasil mengantarkan Jarot, duduk sebagai orang nomor dua di Kabupaten Sintang periode 2005-2010, melalui Pemilu langsung pertama kali.

“Menjadi Wakil Bupati 2005 itu barang kali bisa mengubah keadaan masyarakat,” katanya.

Namun, posisi wakil tak terlalu strategis untuk menentukan arah pembangunan yang fokus. Sebab kewenangan wakil kepala daerah terbatas. Seluruh kebijakan strategis di tangan kepala daerah.

Akhirnya, Pilkada serentak pertama kali di tahun 2015, Jarot gandeng Askiman sebagai calon kepala daerah. Pengabdiannya melayani kesehatan masyarakat di pedalaman menjadi modal dipercaya masyarakat. Ia pun terpilih.

Jadi Bupati, Jarot tak punya visi misi yang muluk-muluk. Baginya, visi dan misi hanyalah awang-awang antara langit dengan cakrawala.

“Visi-misi boleh didengerin. Tapi sebenarnya banyak juga yang tak cocok dengan kebutuhan rakyat. Jadi sebenarnya pemimpin yang pandai, dia mesti memeras visi misinya ini menjadi play mover,” katanya.

Misi Jarot menjadi Bupati Sintang utamanya menyelesaikan kegawatdaruratan persoalan infrastruktur dasar. Dana fleksibel mesti tersedia. Pemerintah harus ada 24 jam memantau kebutuhan rakyat. Jalan putus segera harus dibereskan. Puskesmas roboh harus segera dibangun. Pembangunan sekolah harus menjadi prioritas untuk pembangunan sumber daya manusia.

JEMBATAN – Bupati Jarot saat akan meresmikan Jembatan Gantung Nanga Ungai, Maret 2020. Jembatan jadi salah satu infrastruktur dasar masyarakat dalam membangun wilayah dari pinggir. PROKOPIM SINTANG

“Membangun daerah, mesti dari pinggiran. Saya sudah buktikan. Jalan di Tanjung Miru perbatasan Sintang-Malaysia sekarang sudah tembus,” katanya.

Tak hanya itu, Jalan Kepala Jungai di Hulu Sungai Melawi, yang sebelumnya tak pernah diimpikan masyarakat, sekarang proses pengerjaannya sudah berjalan. Begitu pun listrik yang didambakan masyarakat di pedalaman. Pelan-pelan sudah terealisasi. Meski pun belum sepenuhnya merata.

“Listrik masuk desa dipercepat. Modelnya kita perluas. Gak bisa standing dari jaringan PLN yang mahalnya luar biasa, kita pakai PLTMH, PLTS dan sebagainya,” ujarnya.

Dari segi pelayanan, reformasi birokrasi terus dilakukan. Pemekaran desa dibentuk sebanyak-banyaknya. Untuk percepatan pembangunan dari pinggir. Pembangunan ekonomi harus sejalan. Di Sintang, setidaknya tiga komoditas unggulan jadi penopang ekonomi masyarakat. Yaitu, karet, sawit, dan lada. Namun, masyarakat tak boleh hanya bertumpu pada penjualan mentah tiga komoditas tersebut. Perlu inovasi. Supaya bisa menjadi nilai tambah yang besar.

“Sehingga pemerintah harus melakukan hilirisasi produk. Jangan sampai petani sawit hanya jual TBS (Tandan Buah Segar). Jual lah minyaknya,” sebutnya.

Jarot menyebutkan, saat ini, setidaknya sudah ada enam kelompok BUMDes di Sintang yang telah mendapat bantuan mesin pabrik mini CPO.

“Saya kasih mesin kilang mini. Saya minta dari Kementerian Desa. Saya kasih jalannya. Suatu saat nanti, kalau sudah jalan, masyarakat di desa sudah bisa jual CPO sendiri,” harapnya.

Sedangkan karet, Pemerintah Kabupaten Sintang menggandeng World Wildlife Fund for Nature (WWF) melakukan pendampingan ke petani. Tujuannya, karet bisa dijual dengan kualitas baik, sehingga harganya mahal.

Saat ini, pabrik tengkawang di Sintang tengah dikembangkan. Pabriknya sudah diresmikan. Ke depan, pohon tengkawang tidak lagi ditebang. Buahnya bisa diolah menjadi produk yang punya nilai ekonomis untuk masyarakat.

“Produk buah tengkawang, bisa dijual dalam bentuk margarin tengkawang, minyak tengkawang,” jelasnya.

Jarot meyakini, Kabupaten Sintang kini sudah jauh lebih maju. Pelayanan publiknya pun sudah masuk empat besar terbaik se Kalbar.

“Frekuensi masyarakat di pedalaman Sintang mengeluh soal jalan, sudah berkurang. Sayangnya, saat ini kita dapat cobaan Corona. Sehingga ada beberapa kegiatan yang terpaksa ditunda,” katanya.

Misalnya pembangunan jembatan Ketungau yang tinggal penyelesaian. Gara-gara anggaran dialihkan untuk penanganan Corona, pekerjaannya terpaksa ditunda. Selain itu, ada beberapa pembangunan koneksi infrastruktur jalan penyambung desa di pedalaman, juga terdampak Corona.

HORMAT – Bupati Jarot dan Wakil Bupati Askiman saat upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2019 lalu. PROKOPIM SINTANG

Corona Dulu, Baru Pilkada

Masa kepemimpinan Jarot-Askiman sebagai kepala daerah hampir sampai di penghujung. Tahapan Pilkada akan kembali di mulai September nanti, pascaditunda karena Corona.

Jarot belum ambil keputusan. Apakah mau kembali ikut bertarung di bursa pemilihan atau tidak. Alasanya, dia masih harus fokus menangani Covid-19 sebagai Kepala Gugus Tugas.

“Kita tidak akan pernah membicarakan masalah Pilkada, sebelum Corona reda,” tegasnya.

Ia pun mengisyarakan, akan menentukan sikap di detik-detik akhir tahapan pendaftaran bakal calon di Komisi Pemilihan Umum nanti.

“Kalau kira-kira Pilkada daftarnya di bulan September, biarlah saya menentukan di bulan Agustus mau maju lagi atau tidak. Kalau saya yakini Juni ini Corana landai, barulah saya bicara soal Pilkada,” tegasnya.

“Saya seorang muslim. Bagi saya hidup ini tujuannya hanya satu. Mencari ridho Tuhan, dan bisa bermanfaat untuk banyak orang,” kata Jarot.

Dua penggal kalimat itulah yang menjadi kiatnya menjalani dan mengabdikan diri ke masyarakat. Kepada generasi muda, Jarot berpesan agar tak takut mengambil kesempatan. Keberanian dengan perhitungan adalah kunci kesuksesan.

“Anak muda, gantunglah cita-cita setinggi bintang. Kalau jatuh masih di langit juga,” tutupnya. (Abdul Halikurrahman)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *