Pembalakan Hutan Untan, Berawal dari Klaim Sepihak Oknum Masyarakat

Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Prof Gusti Hardiansyah (kanan) dan Komandan Korem (Danrem) 121 ABW, Brigadir Jenderal TNI Ronny (kiri).

PONTIANAK, insidepontianak.com – Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Prof Gusti Hardiansyah mengungkapkan, kasus pembalakan liar di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) di Desa Parit Bugis, Kecamatan Segedong, Kabupaten Mempawah berawal dari klaim sepihak pria berinial EK, seorang oknum masyarakat. EK bahkan berencana menghibahkan lahan seluas 60 hektare tersebut kepada Kodam XII Tanjungpura.

“Kita terkejut saat Covid-19 dapat kabar ada 30 orang jajaran Kodam XII Tanjungpura survei masuk areal tersebut tanpa izin kami yang punya lahan,” kata Prof Gusti Hardiansyah, kepada awak media saat menggelar konferensi pers di Arboretum Sylva Untan, Kamis (25/6/2020).

Bacaan Lainnya

Pihaknya pun mendalami dan didapati kabar bahwa lahan seluas 60 hektare tersebut akan dihibahkan EK kepada Kodam XII Tanjungpura dengan modal SHM dan Surat Adat. Kendati demikian, sebelum peninjauan itu, Kodam telah menulis surat ke Balai Pemantauan Kawasan Hutan (BPKH) untuk dilakukan pengecekan.

“Makanya saat itu mereka turun,” terangnya.

Dari hasil pengecekan BPKH, diketahuilah bahwa lahan tersebut milik Untan dengan dasar SK Menteri Kehutanan. Namun, sejak itulah, terjadi penebangan pohon-pohon di areal yang selama ini dijadikan tempat pendidikan dan pelatihan.

Laporan pembalakan itu diketahui kampus dengan beredarnya foto-foto yang disampaikan masyarakat dan KPH Mempawah yang selalu melakukan patroli.

Selaku Dekan, dia tak tinggal diam. Namun, dia menyadari permasalahan tersebut tak semata berhubungan dengan masyarakat tetapi diduga melibatkan aparat. Untuk itulah, Dekan melibatkan aparat dalam tindaklanjut.

“Saya juga buat surat, tembusannya ke Menteri ke Kasad (Kepala Staf Angkatan Darat),” katanya.

Fakultas Kehutanan Untan akhirnya duduk bersama dengan Komandan Korem (Danrem) 121 Alambhana Wanawai, Brigadir Jenderal TNI Ronny membahas masalah tersebut.

“Pak Danrem saat itu minta penjelasan. Saya jelaskan,” ceritanya.

Pascapertemuan, Brigjen Ronny mendorong agar hal tersebut dirapatkan dengan Dinas Kehutanan dan instansi terkait. Selanjutnya dibuatlah operasi gabungan, dan menghasilkan sejumlah orang yang telah diamankan.

Dia pun mengucapkan terima kasih kepada stake holder terkait yang telah berkomitmen memberantas masalah tersebut sampai ke akarnya. Dia menyerahkan tahapan demi tahapan kepada instansi terkait sesuai prosedur yang berlaku.

“Kalau yang sipil akan diserahkan ke Polres dan Polda termasuk Gakum. Untuk aparat tentu akan diserahkan ke peradilan militer, karena
masing-masing susah memiliki tufoksi sehingga kita harus menghormati,” tuturnya.

Dirinya pun berharap hal tersebut ke depan tak kembali terjadi. Apalagi KHDTK merupakan wadah pelatihan.

“Bagaimana mengatasi kebakaran hutan, bagaimana membuat madu kelulut, bagiamana menyiapkan energi, menghitung karbon, dan mengobservasi orang utan,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) milik Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak di Desa Parit Bugis, Kecamatan Segedong, Kabupaten Mempawah menjadi sasaran pembalakan liar. Ratusan batang kayu ilegal berhasil diamankan tim gabungan dalam operasi penertiban yang digelar Rabu (24/6/2020) lalu.

Selain kayu, petugas turut mengamankan 10 pekerja yang tengah beraktivitas. Hasil penyelidikan sementara, lahan KHDTK tersebut diduga telah diklaim dimiliki salah warga berinisial EK. Kini kasus ini masih didalami karena terindikasi keterlibatan oknum TNI. (andi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *