PPDB Online Tuai Polemik, Puluhan Wali Murid Geruduk Disdikbud Kalbar

DATANGI - Sejumlah wali murid mendatangi Disdikbud Kalbar mengeluhkan PPDB online SMA yang dinilai tak transparan, Selasa (30/6/2020).
banner 468x60

PONTIANAK, insidepontianak.com – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMA daring dengan sistem zonasi kembali berpolemik. Prosesnya dituding tidak transparan.

Akibatnya, sejumlah orang tua siswa kembali menggeruduk Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalbar, Selasa (30/6/2020) sore. Lima hari lalu, atau tepatnya, 25 Juni 2020, hal sama juga terjadi.

Bacaan Lainnya

Mereka protes lantaran anak-anaknya tidak lolos daftar PPDB di sekolah negeri sesuai zona yang telah ditentukan. Sedangkan, aplikasi pendaftaran PPDB online yang disediakan Dinas, kini sudah tak bisa dibuka.

“Sekarang tak bisa login. Sejak lima hari lalu,” kata Mery, salah satu orang tua siswa yang ikut protes ke Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalbar.

Anaknya sendiri sebelumnya sudah mendaftar di tiga sekolah neger yang dianggapnya dekat dengan tempat tinggalnya. Sudah sesuai zona yang telah ditetapkan. Namun, satu sekolah pun tak ada yang menerima.

“Kemarin pilihannya, SMAN 6, SMAN 9 dan SMAN 3. Kita kan hitung radius. Saya pilih jalur zonasi. Dari tiga sekolah yang dipilih itu, tidak ada satupun yang masuk,” bebernya.

Karena itu, dia merasa bingung dengan pola sistem PPBD online zonasi tersebut. Sebab, jika seleksinya berdasarkan zona, dia meyakini anaknya diterima di salah satu sekolah yang telah didaftarkan.

Begitupun kalau seandainya seleksinya berdasarkan nilai. Justru kata Mery, ada anak yang lebih rendah dari nilai anaknya tetapi bisa diterima.

“Ada anak nilainya lebih rendah dari anak saya, diterima. Anak saya tidak diterima, kok bisa?” ucapnya heran.

Lalu hal yang paling aneh menurutnya dalam penjelasan pengumuman secara statistik di aplikasi yang disediakan oleh dinas itu, anaknya yang semula dinyatakan tidak lulus di SMA yang didaftarkan, tetapi disebutkan akan terseleksi untuk memenuhi kuota.

“Tapi, saya cari di daftar pagu, tak ada. Masuk ke mana?” tanyanya.

Dari kejanggalan itu, Mery dan sejumlah orang tua murid lainnya telah melayangkan surat tanda protes PPDB daring zonasi tersebut ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalbar.

“Kami minta anak kami masuk (SMA) negeri. Karena musim gini masuk swasta mana duitnya,” tutupnya. (abdul)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *