Syarif Amin: Anak NU di Kandang NasDem

Wakil Ketua DPRD Kalbar, Syarif Amin. ISTIMEWA

Syarif Amin Muhammad sempat dua kali gagal duduk di parlemen. Namun mantan sales obat ini tak patah arang. Ketertarikannya di politik terus diasah. Kini siapa sangka, dia adalah Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalbar.

Syarif Amin jadi wakil rakyat sejak tahun 2014. Namanya pun makin dikenal masyarakat. Pria yang karib disapa Bang Amin ini, ramah dan santun. Postur badannya tinggi tegap seperti aparat keamanan. Rupanya hal tersebut mewakili cita-cita semasa kecil; menjadi tentara.

Bacaan Lainnya

Namun cita-cita itu diurungkan, sebab sang ibu tak merestui langkahnya. Ibunya khawatir, Amin dikirim ke Timor-timor.

“Awalnya saya pengen jadi tentara, karena ibu gak setuju takut dikirim ke Timor-timor jadi saya gak ikut tes,” cerita Syarif Amin Muhammad kepada insidepontianak.com, Rabu (17/6/2020).

Semasa kuliah, Amin tertarik dengan dunia politik. Amin lulusan DIII Akuntansi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pontianak tahun 1999. Namun tekadnya kuat, walau tak berlatar belakang pendidikan politik, dia ambil bagian. Baginya, politik terbuka untuk siapa saja.

TEMUI DEMONSTRAN – Wakil Ketua DPRD Kalbar, Syarif Amin saat menemui Aliansi Mahasiswa Kalbar yang melakukan aksi demo di Kantor DPRD Kalbar, Selasa (30/6/2020). ANDI RIDWANSYAH

Apalagi iklim demokrasi hangat-hangatnya pascareformasi. Kepribadian yang mudah bergaul membuatnya dekat dengan sejumlah politisi Kalbar. Padahal, keluarganya tak punya darah politik. Ayahnya, Syarif Muhammad, seorang pedagang dan tokoh Nahdatul Ulama yang dihormati masyarakat Ujung Pandang, Pontianak. Begitu juga ibunya, Robiah, hanya ibu rumah tangga.

Namun dunia politik seakan begitu dekat dengannya. Apalagi, jelang pesta demokrasi, banyak politisi  yang bertamu demi restu dan dukungan sang ayah. Dari sana, dia belajar politik praktis.

Sampai akhirnya tahun 2000, Amin terjun ke politik.

“Saya berpikir kenapa hanya jadi pendorong mobil, tapi tidak bisa menjadi pengawal, dan saya merasa punya pendidikan meski hanya DIII Akutansi,” kata pria kelahiran Tambelangan, 16 Desember 1975 ini.

Awal Karier

Perjalanan Syarif Amin dimulai dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pilihan itu tak sembarang. Sejak kecil, anak keenam dari delapan bersaudara ini memang dididik dalam keluarga agamis dari kalangan NU. Kondisi itu juga membentuk sikap Amin, baik dalam pergaulan maupun politik.

Di PKB, Amin dipercaya memegang sejumlah jabatan. Mulai dari anggota Dewan Syuro PKB Kabupaten Pontianak (sekarang Mempawah), hingga Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Kubu Raya.

Empat tahun berkader di PKB, Amin semakin matang. Sampai di usia 29 tahun, dia memutuskan maju pemilihan legislatif (Pileg) tahun 2004 di Kabupaten Pontianak. Majunya Amin bukan karena haus kekuasaan, namun ingin jadi bagian perjuangan masyarakat. Ada ketidakpuasan terhadap kinerja wakil rakyat yang saat itu bertugas.

Sebagai tokoh muda, langkahnya mendapatkan dorongan masyarakat. Meski Pileg 2004 menjadi pengalaman pertama, capaiannya sangat luar biasa. Amin jadi caleg dengan suara terbanyak dengan 3.800 suara.

Namun, tak selalu cerita sukses dalam hidup. Dapat suara tertinggi, Amin terpaksa menelan pil pahit. Harapannya duduk di parlemen gagal karena PKB hanya punya jatah satu wakil yang diambil berdasarkan nomor urut.

“Suara saya 3.800, terbanyak seluruh Kabupaten Pontianak. Cuma saya nomor urut dua, dan masih pakai sistem nomor urut. Sementara PKB hanya dapat satu kursi, jadi saya tak dapat,” ceritanya.

AGAMIS – Syarif Amin berasal dari keluarga Nahdatul Ulama. Kegiatan-kegiatan keagamaan pun lekat dalam kehidupannya. FACEBOOK SYARIF AMIN

Walau gagal, Amin tak  patah arang. Jalannya masih panjang. Memang sempat kecewa, namun langkahnya kembali di tahun 2009. Pencalonan kedua yang penuh rintangan. Dia tak lagi memiliki partai politik. Gonjang-ganjing internal PKB akibat perselisihan Gusdur dan Muhaimin Iskandar, membuatnya tereliminasi dari kursi Ketua DPC Kubu Raya.

Dia lantas bergabung dengan partai Islam lain, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI). Partai yang dibentuk tahun 2003 ini jadi pengusungnya. Hasilnya, 1.857 suara didapat. Namun tak cukup mengantarkannya jadi wakil rakyat.

“Saya calon dari dapil Kecamatan Kakap dengan suara terbanyak untuk pribadi, namun karena partainya partai kecil, akhirnya saya tidak duduk,” ceritanya.

NasDem Penyelamat

Dua kali gagal Pileg, Syarif Amin sempat menjauh dari politik. Kegagalan dirasa sebagai pertanda. Dia pun berusaha menikmati beragam pekerjaannya, mulai dari sales obat di Kimia Farma hingga jadi pengusaha properti.

Akan tetapi jelang Pileg 2014, sosoknya dilirik Partai Nasional Demokrat (NasDem). Partai yang berdiri 26 Juli 2011 itu mencari kandidat calon anggota dewan. Syarif Amin masuk radar.

Adalah Syarif Abdullah Alkadrie, seniornya sewaktu berkarier di PKB yang mengajaknya. Amin memang memiliki kedekatan dengan Syarif Abdullah, yang kini mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) NasDem Kalbar dan Wakil Ketua Komisi V DPR RI. Tapi, ajakan itu tak langsung diamini. Dia trauma, sekaligus tengah merasa senang dengan apa yang dijalani.

“Merajok bahasanya. Dua kali suara terbanyak, tapi gak duduk,” katanya tertawa.

Namun dorongan sahabat terus berdatangan. Selain Syarif Abdullah, Darwis rekannya yang kini menjabat Wakil DPRD Kabupaten Mempawah juga memotivasi. Diminta mencoba, sekali lagi.

Akhirnya Amin luluh. Dia mantap bergabung dan mencalonkan diri sebagai caleg provinsi dari daerah pemilihan Kalbar II, meliputi Kabupaten Kubu Raya dan Mempawah. Tak disangka lewat NasDem keinginannya menjadi wakil rakyat terwujud.

“Alhamdulillah saya suara terbanyak saat itu untuk Partai Nasdem Provinsi dari dapil II dan saya duduk,” ungkapnya.

KAMPANYE – Sebagai kader partai, Syarif Amin aktif turun ke masyarakat untuk menyampanyekan partai atau sosok kepala daerah yang diusung dan didukung NasDem. FACEBOOK SYARIF AMIN

Perjuangkan Aspirasi Masyarakat

Mengemban amanah sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Syarif Amin menyadari beban yang dipikulnya kian berat. Apalagi harus menjalankan tugas di tengah opini liar, bahwa politik sesuatu yang jahat.

“Sebagian masyarakat berpikir politik itu jahat. Saya yakin seyakin-yakinnya pemikiran itu salah. Tergantung oknumnya, tergantung orangnya,” tegasnya.

Sebagai wakil rakyat, Amin berkomitmen memperjuangkan aspirasi masyarakat. Keterbatasan yang dimiliki akan dipakai hingga batas paling akhir, walau tak bisa memuaskan semua orang.

“Tapi secara pribadi saya berusaha, semaksimal mungkin, semampu saya memperjuangkan aspirasi masyarakat,” ujar Ketua DPC NasDem Kubu Raya ini.

Baginya politik adalah wadah perjuangan. Lahir dari keluarga agamis membuatnya berprinsip jelas, apa yang boleh, dan apa yang tidak. Pesan mendiang ayahnya selalu diingat; bekerja maksimal  untuk masyarakat.

Pesan itu dijabarkan dalam tiga hal. Pertama, jika sebagai anggota DPRD dia diam, maka akan berdampak buruk pada masyarakat dan berdosa pada Allah. Kedua, sebagai anggota DPRD, berjuang untuk masyarakat sesuai kemampuan, jika tak dapat dukungan, hingga namanya tidak baik di masyarakat, di mata Allah insyaallah tak berdosa.

Terakhir, berbuat dan berhasil memperjuangkan aspirasi masyarakat, di mata Allah tak berdosa dan dapat pahala. Tapi di mata masyarakat belum tentu juga maksimal. Sebab tak semua menilai baik yang dilakukan, meskipun ada yang menerima dengan baik.

“Intinya almarhum Abah saya menyampaikan, setidaknya kita nomor dua. Kita perjuangkan tapi tak berhasil namun kita sudah berusaha. Kalau bisa, bahkan nomor tiga, memperjuangkan kepentingan masyarakat, meskipun sebagian masyarakat ada yang merasa tak puas,” terangnya.

PELANTIKAN – Pelantikan unsur pimpinan DRPD Kalbar periode 2019-2024, Rabu (13/11/2019). FACEBOOK SYARIF AMIN

Pemimpin Muda

Syarif Amin baru berusia 45 tahun ketika menjabat Wakil Ketua DPRD Kalbar. Dia masih bercita-cita jadi kepala daerah. Karier tertinggi dalam politik lokal.

Di DPRD Kalbar 2019-2024, Amin mendampingi Ketua DPRD M. Kebing, Wakil Ketua I Prabasa Anantatur, dan Wakil Ketua III Suriansyah. Ketiganya berusia di atas Amin. Satu yang mencolok, ruangannya kerap jadi lokasi kumpul diskusi wakil rakyat lain.

“Karena saya unsur pimpinan yang paling muda mungkin jadi mereka merasa nyaman. Di ruangan ini tempat berkumpulnya kawan-kawan,” ceritanya.

Dalam tindak tanduknya, Amin juga terbilang vokal menyuarakan aspirasi masyarakat, maupun tampil di media mengritisi kebijakan pemerintah dan permasalah sosial. Amin berpandangan, dunia politik saat ini adalah masanya anak muda. Anak muda harus melek politik dan berkontribusi untuk Kalbar agar lebih baik.

“Kita sama-sama berjuang bagaimana Kalbar lebih baik ke depan. Kita sudah jenuh zaman Orde Baru kekayaan kita habis,” kata Ketua PSSI Kubu Raya ini.

Salah satu hal lain yang masih jadi pekerjaan rumah di Kalbar adalah perkara keberagaman. Sekat perbedaan SARA kerap jadi ‘mainan’ dalam pesta demokrasi. Dia sendiri enggan jadi bagian culas tersebut.

“Saya akan rahmatan lil alamin. Sebagai pemimpin saya akan mengayomi semua suku dan agama,” terangnya.

Lahir dan besar dari kalangan Nahdatul Ulama membuatnya terbiasa menghargai perbedaan. Nilai-nilai tersebut semakin mantap kala Syarif Amin bergabung di NasDem. Dia bercerita, NU dan NasDem yang nasionalis dan religious sejalan. Bahkan kini, banyak orang NU yang bergabung ke partai tersebut.

“Semua suku dan agama ada. Kami di NasDem sangat plural,” katanya.

View this post on Instagram

Syarif Amin jadi wakil rakyat sejak tahun 2014. Namanya pun makin dikenal masyarakat. Pria yang karib disapa Bang Amin ini, ramah dan santun. Postur badannya tinggi tegap seperti aparat keamanan. Rupanya hal tersebut mewakili cita-cita semasa kecil; menjadi tentara. Namun cita-cita itu diurungkan, sebab sang ibu tak merestui langkahnya. Ibunya khawatir, Amin dikirim ke Timor-timor. Semasa kuliah, Amin tertarik dengan dunia politik. Amin lulusan DIII Akuntansi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pontianak tahun 1999. Namun tekadnya kuat, walau tak berlatar belakang pendidikan politik, dia ambil bagian. Baginya, politik terbuka untuk siapa saja. Namun dunia politik seakan begitu dekat dengannya. Apalagi, jelang pesta demokrasi, banyak politisi  yang bertamu demi restu dan dukungan sang ayah. Dari sana, dia belajar politik praktis. Sampai akhirnya tahun 2000, Amin terjun ke politik. Baca selengkapnya di insidepontianak.com atau klik tautan di bio @insidepontianakcom. #insidepontianak #pontianak #kalbar #beritapontianak #beritakalbar

A post shared by insidepontianakcom (@insidepontianakcom) on

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *