Mengenal Manurung, Pegawai Puskesmas Sungai Pinyuh yang Piawai Bermain Alat Musik Batak

TIUP - Manurung saat memainkan serunai, alat musik khas Batak di rumahnya di Sungai Pinyuh, Mempawah, Sabtu (4/7/2020).

MEMPAWAH, insidepontianak.com – Bermain alat musik bisa dibilang susah-susah gampang. Sebab kalau tidak ada bakat alam dan niat mau belajar, tidak akan bisa.

Begitulah yang dikatakan Marlen Antonius Manurung. Pria kelahiran Desa Porsea, Tapanuli Utara yang berdomisili di Kecamatan Sungai Pinyuh, Mempawah.

Manurung, sapaan akrabnya, adalah seorang penghobi alat musik khas suku Batak, yakni hasapi, atau yang biasa disebut dalam bahasa Indonesia kecapi.

“Ini bahasa bataknya hasapi, kalau Indonesia kecapi, tapi ini beda, senarnya cuma dua, cara mainnya mirip tapi tidak sama dengan kecapi,” jelasnya sambil menunjukkan hasapi yang baru saja dimainkan.

Manurung terlihat piawai bermain hasapi. Sejak tahun 2002 alat musik ini dia mainkan. Bahkan, dia pernah bermain dalam satu grup musik.

“Dulu tahun 2002 saya punya grup musik, sekarang sudah bubar. Kalau saya menganggap diri saya ini hanya pegiat atau penghobi saja, bukan seorang profesional. Sebab masih banyak yang lebih piawai bermain alat musik ini,” katanya.

Selain piawai memetik senar hasapi, Manurung yang lahir tahun 1963 itu juga cakap bermain alat musik tiup khas Batak yakni sarunai, atau dalam bahasa Indonesia serunai.

“Sarunai ini ada dua, sarunai bolon yang besar dan sarunai etek yang kecil. Barangnya serupa tapi tak sama, beda lagi dengan hasapi yang biasa dipadukan dengan seruling, kalau sarunai ini dipadukan dengan gendang atau gong,” paparnya.

Saat ini, seniman yang bermain alat musik tradisional Batak jarang dijumpai di Kabupaten Mempawah, khususnya di Sungai Pinyuh. Manurung menglaim hanya dia dan satu temannya bermarga Nainggolan yang bisa memainkannya.

“Saya juga membuat sendiri hasapi di rumah, saya juga pernah membuat satu set gendang. Semua itu saya buat hanya untuk memenuhi pesanan orang saja, kadang ada teman dari luar yang minta tolong buatkan,” katanya.

Manurung berharap, alat musik tradisional akan terus eksis dan menjadi harta kekayaan berupa benda yang bisa menjadi bukti sejarah bagi anak cucu kelak.

“Oleh karenanya saya akan berusaha melestarikan alat-alat musik ini di Kabupaten Mempawah, kalau di Medan sana banyak yang punya tapi di sini jarang,” tutupnya. (yak)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *