Jembatan Penyeberangan Upaya Pontianak Jadi Kota Ramah Pejalan Kaki

MELINTAS - Sejumlah kendaraan melintas di bawah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di dekat SMKN 5 Jalan A Yani, Pontianak, Senin (6/7/2020). JPO tersebut merupakan upaya Pemkot Pontianak menjadikan kota ini ramah pejalan kaki.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Akademisi Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura Pontianak, Rudi Suyono mengatakan fasilitas pejalan kaki seperti trotoar, zebra cross, pelican crossing termasuk jembatan penyeberangan orang (JPO) memang harus disediakan pemerintah sebagai wujud kota layak huni dan ramah pejalan kaki.

“JPO sangat penting dalam upaya meningkatkan keselamatan pergerakan pejalan kaki dan untuk meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas pejalan kaki,” katanya Senin (6/7/2020).

Bacaan Lainnya

Dia menjelaskan, selama ini kerap terjadi kesalahan persepsi. Orang merasa tak perlu dibangun fasilitas pedestarian lantaran pejalan kaki dan pengguna angkutan umum sedikit. Padahal, kemungkinan 50 persen warga Pontianak merupakan pengguna potensial.

“Ini salah besar. Mungkin hampir 50 persen dari warga Pontianak adalah demand potensial angkutan umum dan pejalan kaki. Jika fasilitas disiapkan,” katanya.

Menurutnya, sudah kewajiban Pemkot Pontianak menyediakan JPO di jalan-jalan utama dengan tingkat pergerakan lalu lintas dan kecepatan tinggi.

“Kita tentu tidak ingin ada kecelakaan akibat orang menyeberang jalan,” katanya.

Namun yang perlu diperhatikan, JPO harus dibangun sesuai kebutuhan. Dapat diakses siapapun termasuk difabel. Misalnya pembangunan JPO dengan eskalator atau lift sudah jadi keniscayaan.

“Di beberapa kota seperti Surabaya, Jakarta dan Bandung sudah mulai mengubah dengan pola ini,” katanya.

Selain itu JPO yang dibangun dan didesain baik, akan menjadi landmark kota. Hal ini penting untuk menarik wisatawan. Akan tetapi JPO tak akan berguna tanpa dibarengi law enforcement yang ketat bagi pelanggarnya.

“Bahkan pembatasan fisik harus dilakukan agar bisa memaksa orang untuk menggunakan JPO. Jangan sampai pembangunan menjadi mubazir,” katanya.

Di sisi lain, kebutuhan akan JPO sudah mendesak. Terutama untuk jalan-jalan yang volume arusnya tinggi. Seperti di Jalan A Yani di dekat bundaran Untan, di Jalan Tanjungpura di dekat Ramayana, Jalan KH. Ahmad Dahlan dekat komplek sekolah Bawamai, dekat Transmart, Jalan M. Yamin dekat Pasar Kemuning dan di Sungai Jawi.

Untuk mewujudkan itu, segala skema pembangunan bisa saja dilakukan. Misalnya konsep seperti sekarang yang melibatkan swasta. Malah hal ini menguntungkan Pemkot yang tak harus keluar biaya.

“Jadi dengan cara sekarang, masih bisa dikembangkan bahkan bisa juga dikembangkan skema lain seperti Build Operating Transfer, seperti pola di jalan tol,” katanya.

Terpisah, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan Pemkot akan terus membangun fasilitas bagi pejalan kaki. Fasilitas itu di antaranya trotoar dan sejumlah taman. Saat ini sebuah JPO di dekat SMKN 5 Jalan A Yani juga hampir selesai.

Dia menjelaskan untuk JPO, memang merupakan sumbangan pihak ketiga. Pemkot tak keluar dana sedikit pun. Sebagai kompensasinya, diberikan ruang untuk iklan.

“Itu memang sumbangan pihak ketiga, kompensasinya bilboard, itu hal wajar. Soal keindahan nanti kita lihat,” katanya.

Hingga kini Pontianak memiliki tiga buah JPO. Posisinya berada di depan Pasar Tengah Jalan Tanjungpura, depan A Yani Mega Mal dan depan SMKN 5 Jalan A Yani.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *