Keluarga Saling Bacok di Kepulauan Karimata, Wakil Bupati Angkat Bicara

HADIR - Wakil Bupati Kayong Utara, Effendi Ahmad hadir dalam rilis pers kasus saling bacok antarkeluarga di Polres Kayong Utara, Senin (6/7/2020).

KAYONG UTARA, insidepontianak.com – Wakil Bupati Kayong Utara, Effendi Ahmad angkat bicara perihal kasus saling bacok antarkeluarga di Kepulauan Karimata yang menyebabkan satu orang tewas.

Menyikapi kasus itu, dia berharap ada jalur khusus untuk anak-anak di daerah kepulauan menjadi anggota polisi. Tujuannya, setelah selesai mengenyam pendidikan, anak-anak ini bisa kembali ke daerah asal untuk mengabdikan diri.

Bacaan Lainnya

Bahkan diakui mantan Anggota DPRD Kayong Utara ini, pemerintah siap membiayai putra daerah menjadi polisi, asal diperbolehkan di dalam aturan.

“Kasus di Tanjung Ru ini bukti bahwa sesungguhnya kita membutuhkan polisi di Kecamatan Kepulauan Karimata. Kemarin kita sudah melakukan pembicaraan, baik sama Kapolres yang lama dan yang baru, agar kita meminta prioritas, dan ini regulasinya lagi dipelajari. Apakah ada perlakuan khusus untuk anak-anak di kepulauan ini,” terang Effendi Ahmad.

Sebelumnya, Polres Kayong Utara menggelar rilis pers kasus pembunuhan antarsaudara di Pulau Tanjung Ru, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara di halaman Polres Kayong Utara, Senin (6/7/2020) pagi.

Dua tersangka, CL (45) dan BH (45) adalah pelaku pengeroyokan yang menyebabkan UM (49) yang juga ipar dari kedua tersangka tewas dengan luka menganga di bagian kepala.

CL sempat mendapat luka di bagian kaki sebelah kiri saat berkelahi dengan korban karena terkena tebasan parang UM.

Dari kronologis yang dijelaskan Kapolres Kayong Utara, AKBP Bambang Sukmo Wibowo, kedua tersangka diduga sudah memiliki masalah sebelumnya. Namun puncaknya korban UM merusak pohon cengkeh milik pelaku. Pelaku dan korban cekcok sehingga terjadi pengeroyokan yang menyebabkan UM tewas.

“Si korban ini merusakan kebun cengkeh, kalau dihitung-hitung ada 70 pohon cengkeh yang dirusak milik pelaku. Hal ini membuat pelaku tersinggung dan ini bukan hanya dilakukan sekali,” katanya

Tiga tahun lalu, juga pernah terjadi selisih antara keluarga ini. Ternyata bara itu masih berlanjut sampai terjadinya pengeroyokan yang menyebabkan korban meninggal.

Akibat perbuatan itu, kedua pelaku sementara dikenakan pasal 170 ayat 2 angka 3 dengan ancaman maksimal 12 tahun kurungan.

Selain itu, AKBP Bambang Sukmo Wibowo mengungkapkan keterbatasan personel dan transportasi laut menjadi kendala dalam penanganan kasus di daerah kepulauan. Namun pihaknya tetap bekerja secara maksimal.

“Yang terpenting adalah, kami polisi kepulauan yang lebih banyak memerlukan kapal atau speed daripada bangunan fisik. Untuk Karimata yang sangat dibutuhkan bukan bangunan fisik polseknya tapi kapal atau speed-nya,” tuturnya. (fauzi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *