Sultan Hamid II: Sosok Nasionalis, Berjiwa Lokal dan Berwawasan Global

sumber foto asli: Nationaal Archief | ilustasi: Dea Dewi P

Pengantar

Mulai hari ini dan seterusnya akan disajikan tulisan tentang Sultan Ahmad Hamid II Alqadrie berkaitan dengan kisah, karya, peristiwa dan tragedi berupa penyingkiran serta fitnah yang ditimpakan kepada beliau sebagai pengkhianat. Tulisan ini akan disajikan dalam 5 (lima) artikel bersambung.

Bacaan Lainnya

Tulisan ini dimaksud sebagai jawaban (response) terhadap tuduhan tersebut dan masukan lainnya sebagai bahan dalam seminar/diskusi virtual pada 21 Juni 2010 yang digagas oleh Yayasan Sultan Hamid II. Semoga bermanfaat bagi pembaca.

Peringatan 107 tahun usia dan 42 tahun wafat Sultan Hamid II Al-Qadrie

Syarif Ahmad Hamid Al-Qadrie, nama lengkapnya. Lahir di Pontianak, 12 Juli 1913 dari seorang ayah, Sultan Syayyid Muhammad Al-Qadrie, keturunan Melayu-Dayak-Banjar-Bugis-Arab Alawwiyyin, dan ibu keturunan Turki. Ia wafat 30 Maret 1978 di Jakarta pukul 18.15, setelah melaksanakan salat Magrib.

Tulisan ini seharusnya diluncurkan ke publik baik pada 12 Juli 2020 mendatang pada saat Almarhum Sultan Achmad Hamid II Al-Qadrie (SHIIA) berulang tahun ke-107 tahun [kalau beliau masih hidup] maupun 3 Maret 2021 ketika keluarga besar Istana Al-Qadriyah memperingati peristiwa wafatnya beliau ke-42 tahun. Namun, saya meluncurkan tulisan ini mulai malam ini (20 Juni 2020 pukul 23.00).

Artikel bersambung tentang SHIIA ini bertujuan bukan hanya untuk mengingat jasa dan karya besar beliau sehingga dapat dibaca dan dipahami oleh generasi muda bangsa ini pada umumnya dan KalBar pada khususnya. Namun, tulisan tentang SHIIA, yang peluncurannya dipercepat ini, juga untuk menjadi sumber masukan bagi para peserta pertemuan virtual untuk menyeminarkan ‘penghinaan’ yang dilakukan oleh Hendro Priyono terhadap seorang tokoh yang sangat dicintai oleh rakyat Kalbar, SHIIA.

Upaya mengungkap kisah seorang tokoh yang pernah punya andil besar pada tingkat lokal, nasional, regional dan global, tidak pernah mubazir. Begitu juga kisah yang sering terlupakan dalam sejarah. Walau sejarah sering menjadi produk politik penguasa.

Produk semacam itu telah menampilkan sejumlah ‘tokoh’ yang tidak pernah melakukan peran riil apa pun dalam sejarah. Mereka ditampilkan dari atas tidak lain hanya untuk kepentingan baik politik etnis, politik kepartaian, maupun ekonomi politik dan status quo penguasa. Sebaliknya, tokoh yang karya besarnya sudah diakui menjadi Benda Cagar Budaya Nasional (BCBN), tidak diterima usulan kepahlawanannya karena anggapan ‘penghianat’.

Kekeliruan dalam Politik Masa

Upaya mempercepat peluncuran artikel ini tidak dilandasi motif apa pun, selain ingin mengungkapkan fakta riil obyektif dan realitas sosial mengenai hubungan sejarah dan politik: ‘sejarah adalah politik masa lampau dan politik ialah sejarah masa kini.’

Ini berarti, kalaupun ketokohan seorang putra Indonesia keturunan Arab Alawwiyyin, kelahiran Kalbar ini ‘terlempar’ dari sejarah, itu berarti ada sesuatu yang keliru dalam politik masa lalu. Ini juga mengingatkan kita bahwa kebijakan yang tidak tepat semacam itu jangan perah terulang kembali, karena ia akan menjadi sejarah kelam bangsa ini.

Artikel ini juga bermaksud tidak saja mengingatkan kita semua dan pemerintah sekaligus agar kebijakan keliru tidak lagi mengisi sejarah–politik masa lalu. Namun, isi tulisan ini juga lebih dimaknai oleh rekan-rekan dan sahabat saya sebagai perwujudan baik dari kondisi ketidakhadiran keadilan (the absence of justice) sehingga menimbulkan, baik panceklik hadirnya para pemimpin besar di Indonesia selama sekitar 50 tahun sejak Orde Baru maupun krisis kepercayaan rakyat terhadap para pemimpin.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *