Suriansyah: Perancah dan Penjaga Koridor Dewan

Wakil Ketua DPRD Kalbar, Suriansyah.

Sarjana yang keluar masuk hutan itu akhirnya jadi wakil rakyat. Lama di perusahaan membuatnya bertemu banyak orang, menjumpai banyak keadaan. Meski tak benar-benar lancar, kini dua periode dia mengawal pembangunan.

Dia adalah Suriansyah, Wakil Ketua Dewan Pimpinan Rakyat Daerah (DPRD) Kalbar periode 2019-2024. Sejak 2014 lalu, posisinya tak tergantikan. Padahal di Pemilu Legislatif 2004 dan 2009 dia gigit jari.

Bacaan Lainnya

Mantan Ketua DPD Gerindra Kalbar ini dikenal vokal. Kritiknya kerap menghiasi media massa. Menjembatani aspirasi masyarakat desa.

Karakter yang terbentuk sejak mahasiswa. Pernah jadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Faktultas Pertanian Untan tahun 1985 dan 1986. Ditempa berpikir kritis, terbiasa angkat suara.

Namun, pascaselesai S-1 Kehutanan, politik bukan pilihan. Disiplin ilmunya dibawa ke dunia kerja. Betah di dua perusahaan kayu selama 16 tahun, sejak Januari 1989 sampai tahun 2004. Keduanya Group PT. Kayu Lapis Indonesia dan Group PT.  Benua Indah.

Selama bekerja, sebagian besar waktunya habis di hutan. Berpindah tempat sudah biasa. Tahun pertama, dia  bertugas di Kecamatan Belimbing, Kabupaten Sintang (sekarang Kabupaten Melawi). Sempat pula pindah Sekadau, Sumatra Utara, hingga Papua selama 3,5 tahun.

Jabatan Manager Camp dan hingga Pengawas Camp di Group PT. Benua Indah dirasakan.

DEKAT – Pengalaman keluar masuk desa dan hutan membuat Suriansyah dekat dengan masyarakat. Dia mudah bergaul dan dikenal orang lain.

“Akhirnya saya berhenti dari group PT. Kayu Lapis Indonesia, masuk ke group PT. Benua Indah.  Saya masih bertugas di lapangan sejak tahun 1998 sampai 2002.  Kemudian tahun 2002 sampai 2004 saya bertugas di kantor akhirnya sampai berhenti,” ceritanya.

Pensiun, dia meneruskan usahanya di bidang pengadaan bibit dan reboisasi. Sampai akhirnya, pengalamannya bertemu dan bergaul dengan banyak orang, mendorongnya terjun ke dunia politik tahun 2002. Motivasinya memperjuangkan kepentingan masyarakat dan lingkungan hidup. Enam belas tahun di hutan, membuatnya banyak belajar arti kehidupan.

“Selama di hutan saya bergaul dengan masyarakat di pedesaan, sehingga menjadi tanggung jawab sosial untuk berperan dalam sosial politik guna memperjuangkan kepentingan masyarakat yang pernah bertemu dengan saya dan lingkungan hidup,” terangnya.

Terbiasa Menyesuaikan Diri

Suriansyah lahir di Pemangkat, Kabupaten Sambas, 13 April 1964.  Dia anak  nomor dua dari tujuh bersaudara. Sejak kecil karakternya dibentuk untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Ayahnya Aminuddin Firdaus, Pengawai Negeri Sipil (PNS) Kantor Departemen Perdagangan, dan ibunya Hj Hamdiah, seorang ibu rumah tangga.  Sebagai PNS, ayahnya selalu berpindah tugas. Pernah di Kota Singkawang, Kabupaten Sanggau, hingga Kota Pontianak.

“Jadi kita dikondisikan untuk bisa mengikuti orang tua ke mana-mana dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan,” ceritanya.

DITERIMA – Terbiasa pindah sekolah, membuat Suriansyah sigap dalam menyesuaikan diri. Tua, muda, semua dirasa keluarga.

Suriansyah kecil, menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Kota Singkawang. Namun, tak satu tempat. Di kelas III, dia pindah ke SDN 4 Sanggau mengikuti orang tuanya. Hal serupa terjadi di SMP dan SMA. Berputar di Singkawang, Sanggau, hingga berakhir di SMAN 1 Pontianak dan melanjutkan pendidkan di Fakultas Pertanian, Jurusan Kehutanan Untan dan lulus tahun 1988 .

“Kadang dari tempat pendidkan yang  lebih tinggi, agak sulit, begitu juga yang rendah. Namun karena orang tua PNS yang dipindahkan ke berbagai daerah harus menyesuaikan diri,” cerita Suriansyah.

Namun, dia bersyukur. Pengalaman tersebut menempanya jadi orang yang kuat, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan. Bekal itu yang dibawanya sampai ke dunia pekerjaan. Tiga setengah tahun bekerja di Papua pun dilakukan dengan baik, walau ada kesan rasialisme.

“Kuncinya bagaimana kita membawa diri dan menyesuaikan diri, agar keberadaan kita tidak dianggap menggangu masyarakat sekitar dan kita bisa menjadi teman,” pesan Suriansyah.

Melangkah ke Politik

Suriansyah belajar politik praktis dari Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK). Partai nasionalis yang  berdiri tanggal 27 Juli 2002. Dia menjabat bendahara umum.

Dua tahun berkader, Suriansyah mantap terjun dalam pemilihan legislatif (Pileg) tahun 2004 dari dapil Kabupaten Sambas. Namun, nasib belum perpihak. Begitu juga di Pileg 2009.

“Saya ikut Pileg 2004 tetapi gagal. Kemudian mencoba lagi di partai yang sama tahun 2009  dan saya gagal lagi,” ceritanya.

Kegagalan tersebut  tak lepas dari perolehan suara Suriansyah. Berada di partai kecil, suaranya hanya mencukupi satu kursi di parlemen. Meski kecewa, dia tak terpuruk. Politik baginya, selalu punya konsekuensi.

“Bagi saya setiap perjuangan ada gagal dan berhasil. Dua kali gagal tidak membuat saya jera, justru memotivasi berjuang sampai berhasil. Walaupun kegagalan itu membuat banyak pengorbanan. Namun merurut saya jika berhenti di tengah jalan kita akan rugi sendiri,” jelasnya.

Baginya, kehidupan tidak melulu berisi kisah sukses, ada cerita gagal yang jadi motivasi.

LOYALIS – Suriansyah jadi kader loyal bagi Gerindra. Setiap acara partai, dia dipastikan hadir.

 

Dibantu Prabowo

Dua kali gagal di partai yang sama, Suriansyah pindah perahu. Dia berlabuh ke partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) tahun 2011. Langkahnya tak lepas dari dorongan teman. Waktu itu, belum ada calon kuat Gerindra untuk  DPRD Kalbar dari Kabupaten Sambas. Sosok Suriansyah, dianggap figur potensial.

Walau partai baru, Suriansyah merasa memiliki kecocokan dengan misi Gerindra. Sejak awal, dia memprediksi Gerindra akan besar. Figur Prabowo Subianto, sang Ketua Umum sangat karismatik. Bagi Suriansyah, tokoh bangsa yang punya pengalaman militer dan politik, mampu bawa garuda terbang tinggi.

Benar saja, lewat Gerindra mimpi Suriansyah tercapai. Dia berhasil meraup 8.700 suara pada Pileg 2014 dari dapil Kalbar 4, Kabupaten Sambas. Bahkan dia juga didapuk menjadi Wakil Ketua DPRD mendapingi Ketua DPRD M. Kebing dari Fraksi Partai PDI Perjuangan, Wakil Ketua I DPRD Provinsi Kalbar Suma Jeny dari Fraksi Partai Golkar, dan Wakil Ketua II DPRD Provinsi Kalbar Ermin Elviani dari Partai Demokrat.

Bukan sekali, 30 September 2019, Suriansyah kembali dilantik periode kedua sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi periode  2019-2024. Peningkatan suara didapat, dia maju dengan 14.000 suara dari dapil yang sama.

Karier politik Suriansyah terbilang gemilang. Selain dua periode menjabat Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalbar, dia juga pernah duduk sebagai Ketua Dewan Pimpinanan Daerah (DPD) Gerindra tahun 2017, menggantikan Abang Tambul Husein.

Sejak memimpin partai berlambang kepala garuda, Suriansyah membawa Gerindra jadi partai  besar. Pada Pileg 2019, Gerindra berada pada posisi keempat dengan perolehan suara 264.506. Tak hanya itu, Gerindra juga menang dalam beberapa Pilkada Serentak di Kalbar.

SAMBUT – Suriansyah menyambut Sandiaga Uno, cawapres yang berpasangan dengan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019 lalu.

Namun 26 Februari 2020, sosoknya diganti Yuliansyah. Pergantian itu tertuang dalam surat keputusan DPP Partai Gerindra Nomor 02-0016/Kpts/DPP-Gerindra/2020. Suriansyah tak kecewa, dan justru mendukung Yuliansyah.

“Saya menyadari setiap organisasi tentu ada pertimbangan-pertimbangan. Mungkin  sekarang diperlukan figur yang muda dan lebih enerjik. Tentu kita harus berjiwa besar menerima pergantian,” ungkapnya.

Pilkada 2020

Selama 18 tahun di politik, dia merasa puas. Jabatan Wakil Ketua DPRD dirasa cukup. Kendati demikian, menjadi kepala daerah, merupakan salah satu mimpinya. Hal tersebut tak mengherankan, Suriansyah memiliki semuanya. Namanya pun sempat  digadang-gadang maju dalam Pilkada Sambas 2020.

Namun dalam politik, pria 56 tahun ini selalu rasional dan realistis. Dia tak mau maju hanya dengan ambisi semata. Meski memiliki modal yang cukup, dia menilai banyak yang lebih berpeluang.

“Apalagi tahun 2020 kepala daerah yang terpilih hanya punya masa jabatan tiga tahun, sampai 2023. Ini yang buat saya kurang bergairah,” terangnya.

Di sisi lain, dia menyadari keputusannya terjun ke politik agak terlambat. Terlalu lama berkiprah di bidang perkayuan dan baru usia 45 tahun terjun ke politik. Usia dan kesehatan tentu jadi hambatan. Namun segala kemungkinan masih terbuka.

“Ke depan bisa saja terjadi, jika situasinya lebih kondusif dan memungkinkan terpilih. Sebagaimana yang saya sampaikan, saya rasional dan realistis. Saya tidak mau hanya ikut-ikutan dan ambisi saja memutuskan sesuatu,” tuturnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *