SOina Hadapi Pandemi Corona dengan Aktifitas Dunia Maya

Special Olympics Indonesia

JAKARTA, insidepontianak.com – Pandemi Covid 19 yang melanda seluruh dunia, telah membatasi kegiatan anak dan atlit disabilitas intelektual. Mereka tidak bisa leluasa berada di luar ruang. Penyesuaian atas bencana ini tentu tidak gampang. Berbagai hal baru mesti diperhatikan agar mereka bisa tetap sehat baik fisik maupun psikisnya.

Dengan merebaknya virus corona, Special Olympics International (SOI) yang berbasis di Washington  D.C merekomendasikan kepada negara-negara anggotanya, tidak menggelar kegiatan di luar ruang sepanjang 2020. Pertimbangan utamanya, kegiatan di luar ruang lebih berisiko, sehingga pemanfaatan dunia maya menjadi pilihan.

Terkait dengan kondisi itu, sebanyak 200 orang peserta, hari ini, Kamis (9/7/2020), akan mengikuti pelatihan online, atau pun coaching clinic bertajuk Coaching Clinic Special Olympics Learding Portal yang diselenggarakan Special Olympics Indonesia (SOIna). Mereka adalah para pelatih, pengurus serta relawan dari berbagai kota. Dalam kegiatan itu fasilitator dan narasumber akan mengajarkan, bagaimana berlatih sesuai dengan standar

Menurut Amran Siregar dari Special Olympics Asia Pacific (SOAP), pelatihan ini tak hanya berlangsung di Indonesia oleh SOina saja, melainkan di seluruh dunia. “Kegiatan ini diselenggarakan karena merebaknya pandemic Covid-19,” kata Amran yang akan tampil sebagai salah satu narasumber bersama Coen Van Putten.

Pengalihan kegiatan berbasis online ini akan secara intensif dilakukan. Beberapa kegiatan webinar lain juga akan digelar di waktu mendatang. Tak hanya menyangkut kegiatan bidang olahraga saja, namun juga hal-hal lain sesuai dengan visi dan misi Special Olympics Indonesia.

Selama masa pandemi Covid-19 berlangsung, jutaan anak difabilitas intelektual mesti berada di rumah. Berada di luar rumah amat riskan tertular, orang tua mesti lebih banyak meluangkan waktu untuk membimbing mereka dengan arahan yang didapat dari dunia maya. Semua tempat beraktifitas bagi mereka tutup.

“Sampai dengan saat ini belum ada kejelasan, kapan mereka bisa beraktifitas seperti semula. Bila sekolah-sekolah mulai dibuka kembali, anak-anak difabel intelektual kemungkinan besar masih harus lebih lama menunggu, hingga ada keyakinan resiko penularan virus telah hilang,” kata Amran. (ril)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *