Hisab Digital  

ilustrasi.

Peribahasa “Harimau mati meninggalkan loreng, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama”, tampaknya untuk manusia berubah, mati meninggalkan status daring di era digital. Meskipun, teks nama juga dapat dimaknai sesuai kontekstual yang tengah mengemuka. Disruptif tidak dapat dielakkan menjadi kecenderungan di era media sosial yang semakin masif. Termasuk kematian manusia dapat dihubungkan dengan status-statusnya di media sosial.

Jejak digital di berbagai media-sosial apa pun menjadi arah untuk mengetahui seseorang pada ruang dan waktu tertentu. Status-status daring (online) yang diunggah (upload), baik ujaran (speech) maupun gambar (picture) merupakan objek untuk menilai seseorang. Tentunya, arah penilaian tersebut didukung oleh kesahihan (validitas) yang semestinya. Kualitas-kuantitas menjadi pertimbangan sebagai bobot penilaian mengarah kepada kesahihan atau kelemahannya.

Bacaan Lainnya

Akan tetapi, jejak digital ibarat ideologi yang dibunuh oleh anak yang dilahirkannya, dalam bahasa milineal kerap diistilahkan bahwa jejak digital itu kejam. Jika diperibahasakan, menepuk air di dulang terpercik muka sendiri. Tidak berhati-hati mengunggah apa pun di media sosial, cepat atau lambat akan menjadi bumerang bagi pengunggahnya sendiri. Bahkan, imbalan yang diterima akan sangat menyakitkan, cibiran, cemoohan, hinaan, sampai perundungan verbal secara siber.

Yang ditinggalkan dalam ruang-ruang (spheres) media sosial kelak dapat menjadi penanda bagi orang-orang kemudian untuk mengetahui seseorang meskipun telah tiada. Dimungkinkan yang ditinggalkan menjadi data abadi (database) yang mudah diakses hanya melalui mesin lunak pencari kata. Era disrupsi memang terjadi perubahan masif dalam interaksi sosial, termasuk ketelanjangan diri justru dibuka sendiri oleh yang bersangkutan melalui unggahan di media sosial.

Yang mengkhawatirkan jika unggahan dipenuhi dan gambar diwarnai  ujaran tidak layak semestinya sementara sang pengunggah telah tutup usia. Selama itu juga unggahan-unggahan tersebut akan abadi apalagi kata kunci (password) ikut berkalang tanah. Di era disrupsi-digital tampaknya diperintahkan menutup aib orang yang telah tutup usia, tidak dapat dilakukan sepenuhnya sebab dapat terbuka sendiri melalui warisan digital di media sosial.

Oleh karena itu, tidak berlebihan sebelum dihisab sebenarnya pada ruang eskatologis, seseorang dapat dihisab terlebih dahulu secara digital di ruang media sosial. Orang-orang dapat mudah menghisabnya dengan simpulan ragam pertimbangan hanya melalui klik namanya saja. Warisan digital terbuka dan semakin beragam saat digulir (scrolled) akun layarnya semakin banyak data yang berpotensi dijadikan objek analisis untuk ragam simpulan.

Menarik pendapat (alm) pakar media Nukman Luthfie, media-sosial itu jendela kecil untuk menafsir siapa kita, rawatlah demi masa depan yang lebih baik. Tafsir selalu transparan bagi sesiapa yang membuka jendela kecil media-sosial. Pada gilirannya, tafsir itu menjadi jendela besar bagi terbukanya lebar dari jendela ke jendela. Kekuasaan tidak terbendung atas tanda-tanda yang diunggah di media sosial apalagi sudah ditinggal untuk selamanya sulit kontra-kekuasaan.

Berdampak baik jika unggahan-unggahan media sosial berisi ujaran kebaikan (good speech), tentu memunculkan hisab digital dengan tafsir-tafsir kepositifan. Sebaliknya, ujaran kebencian (hate speech) berdampak pada hisab digital dengan tafsir-tafsir kenegatifan. Sementara itu, sesiapa itu selalu diharapkan mengakhiri helaan nafasnya dengan kebaikan (ahsanu ta’wilan). Ternyata tidak hanya menyisakan kebaikan kepada orang, tetapi juga pada media-sosial.

Perilaku kepada orang lain setidaknya muncul adanya interaksi dua pihak yang nyata, sedangkan perilaku kepada media sosial lebih kepada mengontrol diri sendiri saat berkomunikasi digital. Akibat kurang kontrol berdampak berarti bagi diri-sendiri saat berseluncur di media sosial. Bijaksana bermedia sosial adalah frasa yang tepat saat bersikap di dunia digital sekarang ini yang serba disrupsi. Kesadaran diri kata kunci tepat menghalau arah yang tidak tepat pada era disrupsi.

Tuntutan eskatologis menjadi panduan dalam sikap bermedia-sosial sebagai jangkauan kepastian menghadapi helaan nafas terakhir. Hisab digital nantinya tergantung dari unggahan yang ditinggalkan di media sosial, bentuk apapun dari kebaikan dan keburukan pasti berdampak. Di era disrupsi ternyata seseorang diharapkan untuk waspada berinteraksi di dunia maya sebagai pertimbangan hisab digital sebelum dikenai hisab sebenarnya di ruang eskatologis.

Sudut Kantor, 070720

 

Penulis:

Khairul Fuad, peneliti sastra Balai Bahasa Kalbar.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *