Limin Wong: Penjaga Rasa Aming Coffee

Limin Wong alias Aming, pemilik Kedai Kopi Aming.

Mewarisi usaha kopi keluarga yang dimulai tahun 1970 bukan hal mudah. Lidah ribuan orang sudah terbiasa dengan satu rasa. Tumbuh 50 tahun, dengan tuntutan kenikmatan yang sama, mengharuskan Limin Wong (41) alias Aming kerja ekstra.

Limin sempat tak percaya kedai kecilnya di Jalan H Abbas, Pontianak Selatan, Kota Pontianak akan jadi mata kail keluarga. Saat itu tahun 2002, dia masih kuliah di Universitas Widya Dharma. Usaha tepung kopi ayahnya, Ng A Thien dan istri Thang Pwe Leng—yang dia teruskan di usia 15 ketika sang ayah mangkat, tak mungkin begitu-begitu saja.

Bacaan Lainnya

Peruntungannya dimulai. Walau sudah memiliki pelanggan tetap tepung kopi, baik di pasar, sejumlah perusahaan, dan konsumen yang datang sendiri, dia tak yakin semua akan cukup. Enam meja dihampar, persis di lokasi Jalan H Abbas sekarang. Nama Aming Coffee dipakai.

Aming, adalah panggilan Limin sejak kecil.

“Beberapa tahun pertama, saya pikir kalau cuma andalkan warung kopi, tidak bisa diharapkan. Mungkin penghasilan ya segitu-segitu saja, tidak bisa menyaingi bidang usaha lain,” cerita Aming dari balik kemudi mobil ketika kami berkunjung ke salah satu gudang penggorengan kopinya di Pal 5, Pontianak Barat, Senin (13/7/2020).

Ketidakyakinannya tidak main-main. Jalan lain coba dirintis ketika warung kopi itu berjalan dua tahun. Selagi tualang membuka rezeki, adiknya, Gunawan, yang mengurusi.

Sejumlah daerah pun dikunjungi selama setahun, berusaha mencari dan memasarkan karet terbaik. Belasan arwana dibesarkan, kemudian dijual. Sampai ketika tren mainan mobil Tamiya, dia buka toko. Bermain saham juga digeluti.

“Dari semua tidak berhasil, akhirnya putuskan hanya main di kopi,” kata Aming.

Sering gagal, dia putar otak. Kembali ambil risiko. Selama ini, tepung kopi hanya dijual di warung sendiri. Itu pun tanpa merek. Di tahun 2015, dengan nama warung kopi yang sudah melekat, tepung kopi dikemas dan dipasarkan ke minimarket dan supermarket. Hasilnya menggembirakan.

“Ternyata respon masyarakat lumayan bagus. Akhirnya kami maksimalkan fokus di tepung kopi dan kedai kopi juga. Di tiga tahun pertama, kami merasa mulai dikenal masyarakat,” tutur Aming.

SAJIKAN – Limin menyajikan langsung pesanan Presiden Joko Widodo ketika ngopi di Aming Coffee Jalan H Abbas. AMING COFFEE

Sejak kecil, keluarga ini saling bantu produksi tepung kopi. Tak heran jika mereka terbiasa. Mereka tumbuh bersama mengembangkan bisnis keluarga.

Tahun 2006, Aming Coffee kian berkembang. Tempat diperbesar . Mula-mula hanya sayap kanan dari luas sekarang, yang memang ruko milik ayahnya. Menyusul bagian tengah dan kiri yang jadi tempat penyajian kopi saat ini. Beberapa tahun terakhir, sepetak lahan di depannya pun diakuisisi.

Hingga kini, Aming Coffee memiliki 12 cabang dengan ratusan karyawan. Di Pontianak, ada di Jalan H Abbas, Jalan Ilham (sejak 2012), Jalan Podomoro (Oktober 2019). Kabupaten tetangga, ada di Transmart Kubu Raya (April 2018) dan Bandara Internasional Supadio (Februari 2019), Singkawang (Februari 2019) dan Sintang (Januari 2020).

Mereka bahkan berekspansi sampai Pulau Jawa. Di Transmart Bogor (Juli 2018); Sleman City Hall Jogja (Maret 2019); Jalan Taman Ratu, Kebun Jeruk, Jakarta (Desember 2019); Jakarta Summarecon Mall Serpong (November 2018), dan; Solo Square Mall ( Juli 2019).

CARI – Limin saat mencari calon bahan baku kopi Aming Coffee. AMING COFFEE

Merawat Rasa

Awalnya, usaha tepung kopi dijalankan Ng A Thien. Dia memasok langsung bahan baku dari Punggur, Kubu Raya. Jenis robusta. Saat itu kebun kopi masih jadi tanaman andalan warga. Biji kopi pilihan diolah sendiri. Mulai dari proses sangrai, hingga penggilingan. Bubuk sewarna tanah gambut itu pun dikemas dalam blek.

“Ciri khas kami memang rosting dark, gelap. Ketika diseduh disajikan ke konsumen juga agak pahit,” ucap Aming.

Proses produksi itu memang masih berlangsung hingga sekarang. Bedanya, bahan baku kopi lokal sulit didapat. Hanya ada musiman dan tak memenuhi kebutuhan pasar lokal. Mau tak mau, biji kopi harus didatangkan dari luar.

Aming survei ke berbagai daerah. Sampel kopi didatangkan. Semua disangrai dan digiling sendiri. Mencari yang berasa sama dengan kopi lokal. Dari belasan daerah, didapat kopi robusta Pagar Alam, Sumatera Selatan dan Lampung yang bisa diolah dengan cita rasa khas Aming Coffee.

“Kopi lokal tetap kita pakai sambil kirim dari sana. Lama-lama ketika kopi lokal tidak ada, baru dimaksimalkan pengiriman dari Sumatera, dan itu rasanya sudah sama persis,” katanya.

SEDUH – Salah seorang barista Aming Coffee tengah menyeduh kopi untuk pengunjung di Aming Coffee Jalan H Abbas. AMING COFFEE

Urusan rasa, dia tak sembarang. Para juru seduhnya di semua gerai, harus dilatih tiga sampai empat bulan untuk mendapat cita rasa Aming. Tiap cangkir diuji langsung olehnya. Jika pas, baru boleh bertugas jadi barista konsumen. Untuk perkara satu ini, dipelajarinya otodidak.

“Dari pengalaman, buku, teman-teman, internet, dan interaksi atau masukan pelanggan,” kata empat bersaudara ini.

Dalam prosesnya kini, Aming Coffee memadukan cara tradisional dan modern. Biji kopi tetap disangrai dengan kayu bakar. Giling menggunakan mesin. Pengemasan kini dibuat lebih menarik. Cara ini dipakai untuk memenuhi permintaan pasar yang kian banyak dengan tetap mempertahankan ciri khas rasa.

Tidak hanya rasa kopi, pelayanan cepat dan fasilitas jadi urusan yang tak bisa dilepas. Di kedai Jalan H Abbas dan Jalan Ilham, Aming Coffee mempertahankan ciri khas warung kopi Pontianak. Padat, panas, dan ramai. Namun tentu dengan siasat agar pengunjung tetap betah. Sirkulasi udara dan pilihan bahan bangunan.

Sedang di gerai lain, dibikin lebih modern. Menyesuaikan dengan lokasi yang kebanyakan di pusat perbelanjaan. Limin memang lebih banyak mengambil peran menjaga ciri khas. Warkop Aming Coffee di Jalan H Abbas kini dikelola adik lelakinya Gunawan (38), sedang di Jalan Ilham oleh adik perempuannya, Suriani (38). Untuk warkop lain, dipegang orang-orang kepercayaan.

Selain rasa, ada satu yang menarik perhatian saya. Ketika kami janjian untuk wawancara, Aming datang dengan menyalami hampir semua karyawannya di Aming Coffee Jalan Podomoro, Pontianak. Katanya, itu kebiasaan yang tak disengaja.

“Sejak awal kalau ketemu salaman, kadang inisiatif karyawan, setelah lama jadi kebiasaan. Cuma kalau di (warkop) H Abbas dan Jalan Ilham tidak, karena sudah setiap hari ketemu. Kalau cabang lainnya kan tidak setiap hari ke sana,” katanya.

Ketidaksengajaan yang membangun hubungan emosional layaknya keluarga.

FOTO BERSAMA – Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko berfoto bersama adik Limin, sekaligus pemilik dan pengelola Aming Coffee, Gunawan.

Filosofi Air

“Semuanya mengalir,” kata Aming ketika ditanya bagaimana kiat bertahan di belantara warung kopi Pontianak.

Bukan mengalir seperti biasa, tapi mengikuti arus dengan konsisten menjaga rasa. Walau memiliki gerai modern dan bermain di ‘kopi kekinian’, cara seduh dan proses produksi tetap tradisional. Kopi kekinian yang dimaksud, seperti Kopi Rindu atau varian boba milk yang dikeluarkan.

“Tradisi minum kopi dipertahankan, namun juga ikut perkembangan zaman,” katanya.

Satu yang jadi kunci, berinovasi pada promosi. Ketika ayahnya berdagang, bubuk kopi dijual tanpa merek. Saat ini, merek jadi hal penting. Logo pun sempat berubah, dari yang dulunya hanya gambar cangkir, jadi siluet Aming menyeduh kopi.

“Sebelumnya kita cuma pakai logo cangkir, tapi kemudian berpikir harus dengan yang identik, ciri khas kita. Jadi saya minta fotokan temen buat sketsa siluetnya, dibikinkan logo bulat, ada tulisan Pontianak 1970, itu awal mula bapak saya usaha,” jelasnya.

Belum lagi bagaimana bikin orang kenal. Sebelum promosi di dunia digital, Aming Coffee rajin ikut pameran atau berkontribusi pada kegiatan mahasiswa dengan menyediakan kopi untuk mereka.

Sebagaimana sifat air yang memenuhi ruang, warkop ini pun demikian. Menyesuaikan zaman. Menu-menu baru dimunculkan. Perbaruan pelayanan dan fasilitas dilakukan. Aming Coffee jadi warung kopi pertama yang memiliki fasilitas internet di Pontianak. Namun, ciri khas suasana tak boleh hilang.

“Dulu warung kopi cuma tempat orang tua, sekarang setelah di-upgrade dengan fasilitas wifi, colokan, anak muda laki-perempuan ikut ngopi juga,” katanya.

CIRI KHAS – Tiga butir biji kopi di cangkir merupakan ciri khas sajian menu kopi di Aming Coffee. Biasanya pengunjung menyeruput sambil mengunyah biji kopi tersebut. Logo cangkir ini merupakan logo lama yang diubah jadi logo sekarang awal tahun 2017. AMING COFFEE

Masa Terberat

Puluhan tahun mengembangkan Aming Coffee, semua rintangan dapat dilalui. Akan tetapi yang terberat menurutnya, adalah pandemi Covid-19. Di saat ekspansi dimulai, Coronavirus justru datang. Rencana bisnis berantakan. Gerai di Solo Square Mall malah belum buka sampai sekarang.

“Paling sulit pandemi ini, jadi kita tidak bisa operasi penuh, ada beberapa store yang ditutup selama beberapa bulan dan yang beroperasi hanya bisa melayani take away, biaya operasional tinggi-tingginya, bulan puasa, dan kita menyiapkan THR untuk karyawan,” kata Aming.

Beberapa gerai memang bisa melayani pesanan bungkus. Namun omzetnya hanya 10-30 persen. Sementara di daerah lain, warkop tutup total. Dilema, tapi tak ada kebijakan memberhentikan karyawan.

Mereka masuk seperti biasa. Karena tidak melayani makan di tempat, tak dibutuhkan karyawan dalam jumlah banyak. Mereka pun masuk dengan sistem sif.

“Selama beberapa bulan ini memang lumayan berat menjaga cash flow (arus kas) tetap aman. Walau memang untuk biaya lain, uang makan dikurangi supaya perusahaan bisa bertahan. Tapi THR tetap diberikan,” jelasnya.

Sejak new normal, omzet membaik. Tapi tidak 100 persen seperti sedia kala, hanya setengahnya. Pasalnya, Aming Coffee masih membatasi jumlah meja kursi. Keuntungan memang penting, tapi kesehatan pengunjung yang utama.

“Yang masih tutup berarti tidak ada omzet,” ucap Aming.

Namun Limin yakin, sudah banyak perkara dihadapi sejak membangun usaha. Memulai dari nol sambil belajar. Pengalaman bikin berkembang. Semua hanyalah proses.

“Kita dapat kesulitan, dari situ kita belajar. Misalnya kita mengalami masalah dan kita berhasil keluar dari masalah itu, kita jadi lebih tangguh, mental kita jadi lebih teruji,” kata Aming.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *