Menjemput Sastrawan Sapardi Djoko Damono “Di Pemakaman”

Sapardi Djoko Damono, Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia, juga dikenal sebagai sastrawan yang memberi sumbangan besar kepada kebudayaan masyarakat modern di Indonesia, hadir di Teater Salihara, Jakarta Selatan, Jumat (26 Maret 2010), dalam rangkaian acara menyambut usia 70 Tahun Sapardi Djoko Damono. (Foto JP/P.J.LEO)

Oleh: Muhlis Suhaeri

 

Bacaan Lainnya

Kaukah yang menyapaku selamat pagi? Kita menundukkan

       kepala

di depan kapal-kapal yang terdampar, elang yang lelah,

angin yang berhenti. Aku pun membalas selamat pagi

       dengan lirih

dan menundukkan kepala kembali. Kita tidak berhak

       tengadah ke matahari,

kita hanya akan menyihir alam: matahari akan menjelma

       api,

bau kembang akan membusuk, suara burung akan

       menjelma terompet

dari lembah orang mati. Kita adalah tukang sihir,

       menunduklah,

kita tak berhak tengadah ke matahari….

——

Minggu, pagi yang biasanya renyah. Penuh langkah dan optimisme. Bergetar oleh sebuah berita. Sapardi Djoko Damono meninggal. Siapa? Sapardi? Ya, sastrawan besar itu. Dia meninggal di Rumah Sakit Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan, pada usia 80 tahun.

Sebagai penghormatan, karena tak bisa hadir di pemakaman, saya menggunakan puisi Sang Sastrawan sebagai pembuka dan penutup tulisan.

Sapardi Djoko Damono lahir di Surakarta, 20 Maret 1940. Menyelesaikan sekolah hingga SMA, tahun 1958,  di kota yang menjadi sentral gerakan rakyat dan pusaran peradaban sebelum era kemerdekaan RI, seperti ternukil dalam buku “Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912–1926”, karya Takashi Siraishi, peneliti dari Jepang.

Surakarta menjadi salah satu embrio sejarah pergerakan modern, turut mempengaruhi sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka. Pergerakan menemukan wadah paling awal, yaitu melalui organisasi. Di organisasi, semua rencana kegiatan, aktivitas manusia menemukan tempatnya.

Persinggungan nilai tradisional yang diwakili struktur dan tradisi keraton, bertemu dengan nilai modernitas, mewujud dalam bentuk organisasi sebagai wadah perlawanan. Dalam konteks sosial itulah, Sapadi melihat dan mengalami suatu pengalaman dalam struktur sosial masyarakat yang sangat komplek.

Hal itu, tentu berpengaruh dalam karya dan puisinya. Tak heran bila, karya-karya Sapardi, kerap melihat realitas masyarakat di sekitarnya. Hal dan peristiwa sederhana, bisa dilihat secara lebih mendalam.

Lihatlah puisi berjudul Selokan (2001):

selokan yang memanjang di jalan kampung itu

menampung air kotor dari rumahmu:

kau berpikir bahwa itu sudah menjadi tugasnya

dan selokan tak pernah mengusut kenapa

View this post on Instagram

Di Twitter, tagar #PakSapardi ramai dibicarakan. Sebagian besar menuliskan kesedihan mereka. “Sugeng tindak, Penyair ‘Hujan Bulan Juni’ Sapardi Djoko Damono. Semoga husnul khatimah,” ujar Akhmad Sahal melalui akun Twitter @sahaL_AS. “Tak ada hujan di bulan Juni, ada hujan air mata di bulan Juli..sebab itu aku ingin mencintaimu dgn sederhana, dgn kata yg tak sempat diucapkan kisah yg menjadikannya sejarah. Selamat jalan penyair, pak Sapardi Djoko Damono…Inalillahi wa’inailaihi roji’un,” tulis politisi Budiman Sudjatmiko di akun Twitternya, @budimandjatmiko. Berdasarkan informasi Almamater Universitas Indonesia (UI), almarhum meninggal dunia di Rumah Sakit Eka BSD. Sebelumnya penulis yang kerap disapa Pak Sapardi ini dirawat di rumah sakit karena menurunnya fungsi organ tubuh. Baca selengkapnya di insidepontianak.com atau klik tautan di bio @insidepontianakcom. #insidepontianak #pontianak #kalbar #beritapontianak #beritakalbar #beritanasional

A post shared by insidepontianakcom (@insidepontianakcom) on

Selepas SMA, Sapardi kuliah di Fakultas Sastra Inggris, Universitas Gajah Mada (UGM). Sejak kuliah itulah, kegiatan di bidang tulis menulis, semakin aktif. Dia mengirim tulisan ke berbagai media massa. Sapardi lulus UGM tahun 1964.

Selepas kuliah, Sapardi menjadi guru sastra di kampus IKIP Malang (1964-1968). Setelah itu, mengajar di Universitas Diponegoro, Semarang (1968-1973). Tahun 1970-1971, ia kuliah di University of Hawai, mengambil jurusan Humanities. Sejak 1974, Sapardi mengajar di Universitas Indonesia, Jakarta.

Sebagai akademisi, Sapardi menuntaskan pendidikannya dengan memperoleh gelor doktor di bidang Ilmu Sastra, tahun 1989. Desertasi S3, meneliti “Novel Jawa Tahun 1950-an: Telaah Fungsi, Isi dan Struktur.”

Saya berkesempatan ketemu Sapardi, saat menjadi reporter di Pusat Data dan Analisa Tempo (bagian dari Majalah Tempo), tahun 2001. Saat itu, Tempo masih berkantor di Jalan Proklamasi. Tempo menggarap ‘Apa dan Siapa Tempo’. Saya dapat tugas wawancara Sapardi.

Saya wawancara di rumahnya. Rumah itu jauh dari kata mewah. Sederhana. Terletak di sebuah komplek dosen UI, Ciputat, Tangerang Selatan. Begitu bertemu dengan Sang Sastrawan, pertanyaan yang sudah saya siapkan, hasil dari riset berita dan buku-buku karyanya, seakan mengendap. Berbaur dengan tampilan dan kesederhanaan Sang Maestro.

Ia bercerita tentang masa kecilnya di Surakarta. Proses kreatif berkarya, hingga kegiatan akademiknya sebagai dosen. Karya-karyanya lahir dari pengalaman kehidupan keseharian. Diamati. Diendapkan. Dituangkan lewat deretan kalimat. Selarik, dalam deretan kalimat, menjadi puisi.

Seperti sebuah musik, puisi Sapardi sangat melodius. Pemilihan kata dan rima sangat kentara. Ada banyak tema. Juga pemaknaan melalui simbolisme. Belum lagi urusan romantisme. Saya rasa, hanya pemabuk tak tahu diri saja, yang tak pernah dengar puisinya, ketika mereka jatuh cinta.

Lihat saja puisinya berjudul “Aku Ingin” (1989). Puisi itu ditulis ketika istrinya sedang sakit:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Undangan pernikahan. (Foto Muhlis Suhaeri)

Saya pernah menggunakan puisi Sapardi, di undangan nikahan yang kami sebar. Undangan nikahan warna hitam dove itu, sempat menjadi pertanyaan karena dianggap tak jamak.  

Apakah Sapardi Djoko Damono adalah seorang yang romantis dalam keseharian?

Ternyata tidak. Dia bukan tipe lelaki flamboyan, seperti Burung Merak dalam keseharian. Saya juga sempat bertanya kepada sang istri, Wardiningsih, yang ketika itu di rumah.

Perempuan itu hanya senyum-senyum saja, mendapat pertanyaan mendadak dari saya. Sebelum sang istri menjawab, Sapardi menjawab dengan nada datar.

“Saya bukan tipe lelaki yang romantis kepada istri,” kata Sapardi kepada saya.

Sebagai akademisi dan sastrawan, Sapardi sangat peduli dengan perkembangan pendidikan di Indonesia. Ia kerap diundang ke berbagai kampus di luar negeri. Dari pengembaraan itu, dia ingin kampus-kampus di Indonesia, layaknya kampus yang berorientasi pendidikan. Artinya,  perpustakaan kampus harus menjadi sentra kegiatan, penelitian dan pendidikan.

“Gedung paling baik dibangun, harusnya perpustakaan,” kata Sapardi.

Sebab, di perpustakaan itu semua jeroan pendidikan harus disimpan, dikelola dan diamalkan oleh pihak kampus. Kondisi itu berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Biasanya, ruang Rektorat yang paling megah dibangun. Sedangkan perpustakaan, kurang menjadi perhatian pihak kampus.

Selain menjadi akademisi, Sapardi pernah mengelola Majalah Horison, Basis, dan Kalam. Tiga majalah itu merupakan majalah rujukan, bagi para pegiat seni dan kebudayaan di Indonesia.

Kisah berkarya Sapardi sangat lengkap. Dia menulis puisi, cerpen, menerjemahkan karya sastra dunia, dan dapat penghargaan sastra. Semua itu mengekalkan keberadaannya dalam sejarah dan blantika sastra Indonesia, juga dunia.

Karya puisi Sapardi dikumpulkan dalam buku : Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-ayat Api (2000), Mata Jendela (2002), Kolam (2009), Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita (2012), Namaku Sita (2012), Melipat Jarak (2015) dan lainnya.

Kumpulan puisi karya Sapardi Djoko Damono. (Foto Muhlis Suhaeri)

Kumpulan cerpennya, dibukukan dalam buku : Pengarang Telah Mati (2001), Membunuh Orang Gila (2003). Tak hanya menulis puisi dan cerpen, Sapardi juga menulis novel. Karyanya termaktub dengan judul : Trilogi Soekram (2015l), Hujan Bulan Juni (2015), Suti (2015), Pingkan Melipat Jarak (2017), Yang Fana Adalah Waktu (2018) dan lainnya.

Selamat jalan Prof. Karyamu abadi…

Dan, saya harus menutup tulisan ini, dengan sambungan puisi “Di Pemakaman” yang Sapardi Djoko Damono tulis:

——–

Kini, saat ini, kau dan aku adalah orang-orang asing,

       Terkucil

dari alam. Kita bukan bagian dari suara dan warna,

dan mesti menunduk. Pengembara-pengembara tak dikenal,

dan tidak juga mengerti. Selamat pagi, katamu. (“Di Pemakaman”, 1963)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *